Opini: Jadilah Pahlawan yang Memperjuangkan Kemerdekaan Hakiki!

0
561

Bro and sis, membaca kisah-kisah jihad demi melawan penjajahan kolonial tentu membangkitkan semangat kita sebagai pemuda. Kita adalah cucu-cucu para ulama, mujahid, dan pahlawan yang tak kenal lelah demi mempertahankan negeri kaum muslim dari imperial barat seperti Portugis, Belanda, Perancis, maupun Inggris. Maka sudah sepantasnya bagi kita untuk meneruskan perjuangan mereka di zaman now.

Apakah perjuangan mereka belum usai? Pada hakikatnya, belum. Apa yang para pahlawan lakukan adalah satu tahapan menuju kemerdekaan yang hakiki, yaitu merdeka dari serangan fisik para penjajah kafir harbi tersebut. Kini giliran kita para pemuda untuk meneruskan estafet perjuangan demi mencapai kemerdekaan yang hakiki. Kemerdekaan apa saja itu?

Merdeka dari Kemiskinan dan Kebodohan

Bro and sis, ada anekdot di negeri ini yaitu “yang miskin dilarang sekolah”. Maksudnya, untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak, maka seseorang harus mengeluarkan biaya yang begitu besar. Hal ini semakin tampak di kondisi dunia di tengah wabah, dimana banyak rakyat yang kesulitan untuk belajar online karena keterbatasan dana dan fasilitas.

Akhirnya yang miskin sulit untuk sekolah tinggi, sementara orang yang tidak memiliki pendidikan tinggi sulit untuk mendapatkan pekerjaan layak. Terus begitu seperti sebuah lingkaran setan (devil’s cycle) yang memang dibuat secara sistemik oleh para kapitalis penguasa negeri.

Parahnya lagi, di tengah kondisi ekonomi morat-marit seperti ini, alih-alih memfokuskan pada subsidi pendidikan justru Kemendikbud “buang-buang duit rakyat” dengan memberikan hibah pada organisasi kependidikan melalui Program Organisasi Penggerak yang segera diprotes rakyat karena sasarannya jauh dari yang seharusnya. Bahkan, Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, dan PGRI yang tampak sepak terjangnya di dunia pendidikan, semuanya menarik diri dari program tersebut sebagai bentuk pertidaksetujuan.

Merdeka dari Cengkraman para Kapitalis

Sudah jadi rahasia umum bahwa kedaulatan negeri yang senantiasa digembar-gemborkan adalah fantasi, sementara secara de facto berbagai intervensi asing, baik negara maupun organisasi dunia, mencengkramkan kuku-kuku tajamnya di negeri muslim termasuk Indonesia.

Lihat bagaimana berbagai produk hukum di Indonesia yang dibuat demi memuaskan keinginan para kapitalis, seperti Undang-Undang Minerba, Undang-Undang Pendidikan Tinggi, Undang-Undang Penanaman Modal (Asing), termasuk yang sekarang sedang digodok Rancangan Undang-Undang Omnibus Law yang mencakup RUU Cipta Kerja, Sistem Perpajakan, Farmasi, dan Ibu Kota Baru.

Inilah bentuk penjajahan gaya baru, atau disebut juga Neo-Imperialisme a la Barat. Sehingga negeri-negeri yang sedang ‘dijajah’ tidak sadar bahwa mereka sedang dijajah, bahkan berterimakasih atas ‘penjajahan’ tersebut dengan bentuk hutang ribawi, masuknya agenda asing di negeri, serta produk-produk hukum a la kapitalis Barat.

Merdeka dari Penghambaan Selain kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Bro and sis, konsekuensi keimanan harus diwujudkan dengan mentaati seluruh perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi seluruh larangan-Nya.

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (TQS an-Nisa ayat 59)

Artinya, kita sebagai orang yang beriman diseru untuk menaati Allah, menaati Rasulullah, serta pemimpin yang menaati Allah dan Rasul-Nya; serta mengembalikan seluruh urusan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Inilah arti kemerdekaan yang sesungguhnya, bro and sis. Wallahu’alam.

Penulis: Ihsan Tampubolon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here