Buletin Teman Surga 252. Kita Mengaji Karena Cinta

0
5787

Hai generasi muda, apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata kajian? Seketika merasa ilfeel kebayang harus duduk manis sambil dengerin ceramah yang bisa jadi ngeboringin? Atau menganggap diri ini menjadi kolot? Atau kebayang kumpulan orang-orang tua ubanan yang enggak asyik sama sekali?

Hehehe, kayaknya kita kudu ngobrol deh! Karena mengaji itu enggak sehoror itu. Bahkan bisa asyik banget sampai bikin mabuk kepayang. Kuy lah kita obrolin sampai bikin bucin!

# Mengaji Karena Cinta

Duhai generasi Islam, udah pada tahu kan bahwa hidup di dunia ini sementara? Udah pada pernah lihat makhluk bernyawa yang tiba ajalnya, kan? Udah pada belajar bahwa ada alam kubur setelah alam dunia? Udah tahu bakal ada siksa kubur ataupun siksa neraka? Udah dapat informasi seputar ini semua dong ya? Pertanyaan berikutnya, apakah kamu rela jika tubuh kamu didera siksa selepas dari dunia?

Yapz, pasti jawabannya pada enggak rela ya. Karena kita cinta terhadap diri kita. Kita enggak mau sejengkal tubuh pun yang menderita. Maka semasa di dunia, kita akan jaga setiap jengkalnya agar selalu aman dan terhindar dari marabahaya. Betul begitu ya? Lantas bagaimana untuk kehidupan setelah dunia?

Kemudian bagaimana pula dengan ayah ibu kita? Saudara kita? Sahabat kita? Saudara muslim kita di seluruh belahan dunia? Relakah kita jika mereka disiksa? Pasti tidak. Jangankan melihat manusia teraniaya, melihat seekor kucing yang kedinginan saja kita tidak tega. Betul?

Demikianlah fitrah naluri manusia. Memiliki kasih sayang dan rasa cinta. Baik pada dirinya ataupun pada sesama. Ia tidak akan rela jika ada yang menderita apalagi tersiksa. Inilah cinta. Namun, cinta ini tidak bisa disebut hakiki jika ia hanya merasai perihal duniawi semata. Cinta sejati ialah cinta yang berputik dan bermekaran tidak hanya di dunia tetapi juga hingga surga. Inilah cinta sejati, baik bagi diri ataupun bagi sesama.

Lantas bagaimana agar cinta itu bisa sampai ke surga dan enggak nyasar ke neraka? Maka cinta itu harus disandarkan pada titah Sang Pemilik cinta yakni Allah SWT. Cinta harus diekspresikan sesuai dengan ketentuan wahyu Illahi, bukan dengan nafsu birahi.

Jika benar kita cinta terhadap diri dan sesama, maka kita tidak akan membiarkannya jauh dari titah Illahi. Bagi diri sendiri, kita akan terus berpacu agar seluruh helaan nafas yang ada hanya untuk mengabdi kepada Sang Pencipta. Kita tidak akan membiarkan aurat diri terumbar. Tidak akan sembarangan perihal minum dan makanan. Akan selalu menjaga laku, lisan, dan tulisan agar selaras dengan rambu-rambunya Allah SWT pemilik kehidupan. Ya, karena hanya dengan tunduk kepada aturan-Nya saja kita bisa terbebas dari celaka di dunia dan siksa setelahnya. Taat terhadap syariat, inilah bukti cinta yang sesungguhnya.

Tidak hanya pada diri, cinta kepada orang tua, saudara, sahabat, dan sesamapun juga harus demikian. Cinta yang disandarkan kepada syariat-Nya. Maka kita tidak akan membiarkan orang-orang yang kita cinta bergelimang dalam lumpur kemasiatan. Kita akan berjuang sungguh-sungguh agar mereka berjalan dalam ketaatan. Sehingga merekapun peroleh keselamatan hingga di keabadian, surga. Inilah cinta yang sesungguhnya, cinta karena Allah SWT.

Lalu bagaimana caranya agar cinta ini bisa sesuai syariat Allah SWT agar tidak tercatat sebagai maksiat? Bagaimana cara membedakan bahwa satu amal itu disebut taat sedangkan satu amal lainnya dikatakan maksiat?

Inilah pentingnya bagi kita untuk mengaji Islam. Agar kita tahu standar benar dan salah dari sudut pandangnya Allah SWT. Agar kita tak gagal dalam mengekspresikan cinta yang sesungguhnya. Yakni cinta yang bermuara di surga. Ya, kita harus mengaji karena inilah bukti cinta.

 # Mengaji Islam Pasti Happy

Jiwa-jiwa muda yang haus akan petualangan cocok banget disalurkan dalam kajian keislaman. Tapi ngaji bukan sekadar ngaji. Melainkan ngaji Islam secara keseluruhan. Memahami syariat secara sempurna, meyakininya, mengamalkannya, lanjut menebarkannya alias dakwah. Asli, ini sangat menantang adrenalin.

Jika mengaji islamnya dengan benar, maka kita akan mendapatkan khazanah keilmuan yang sangat luas. Kita akan memiliki sudut pandang yang unik. Kita juga akan mendapatkan jalan hidup yang penuh tantangan dan asyik. Mungkin kita akan berbeda dari kebanyakan orang di alam kebebasan hari ini, tapi yakinlah justru itulah letak keseruannya. Bukankah sesuatu yang istimewa itu selalu limited edition?

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini kita hidup jauh dari masa kejayaan peradaban Islam. Sudah 100 tahun peradaban Islam itu dikubur dan berusaha dikaburkan. Sehingga wajar jika sekarang lebih banyak generasi Islam yang asing dengan agamanya sendiri. Bahkan ada yang sampai anti dengan istilah ngaji. Miris, sih.

Oleh karena itu, Sahabat Teman Surga harus berjuang mendobrak kekeliruan ini. Yuk bisa yuk kita menjadi generasi muslim yang tidak hanya sekadar keturunan Islam tetapi juga paham tentang Islam. Ngerti kenapa harus Islam dan tahu apa konsekuensi menjadi seorang muslim. Caranya bagaimana? Tidak ada cara lain kecuali dengan mengkaji Islam secara keseluruhan.

Mengkaji Islam secara keseluruhan akan menjadikan kita paham tentang makna dan arah kehidupan. Kita akan mampu menerjemahkan dan mengeskpresikan cinta sebagaimana mestinya. Merenda cinta sesuai dengan tittah-Nya. Sehingga cinta yang terbangun untuk diri sendiri, keluarga, sahabat, dan sesama itu bisa berujung di surga. Bukan cinta semu yang hanya berserakan di dunia saja. Bukan pula cinta yang membawa ke neraka. Naudzubillah!

Jadi gimana, lebih siap lagi untuk mengaji karena cinta? Insyaallah, ya. Karena cinta yang benar adalah cinta yang disandarkan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Mengaji Islam secara keseluruhan adalah jalan untuk meraih cinta-Nya. Mengaji Islam adalah jalan untuk kebahagiaan abadi. Mengaji Islam pasti happy. Sebab ridha Allah SWT akan kita dapati sebagai bekal menuju surga yang timggi. Bismillah!

“Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lainnya; Orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah; dan orang yang tidak suka kembali pada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke neraka. (Mutafaq ‘alaih) []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here