“Selamat datang di Senoparty,” ucap Doni, seorang karyawan perusahaan startup kepada geng nya saat sampai di salah satu bar di kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Malam itu adalah malam Sabtu, momen yang ditunggu-tunggu oleh Maulana dan puluhan ribuan karyawan generasi milenial lainnya untuk melepas lelah. Malam itu mereka mengisi waktu dengan makan malam, karaoke-an, berhura-hura, bahkan datang ke tempat-tempat one night stand demi mendapatkan hiburan sebelum esok hari kembali kepada dunia kerja mereka masing-masing.
Senoparty adalah fenomena baru di kawasan Senopati yang ditopang oleh puluhan ribu generasi milenial di Jakarta Selatan. Senoparty diambil dari dua kata: Senopati dan party (pesta). Kawasan ini sangat strategis karena diapit oleh kawasan bisnis dan industri Blok M, Sudirman, dan Mampang. Senoparty muncul sebagai solusi liberal, pojok hura-hura khususnya untuk generasi milenial Jaksel setelah 5 hari kerja mereka dieksploitasi oleh para kapitalis.
Generasi ini identik dengan anekdot, “gelas wine di tangan kanan, instastory dengan tangan kiri sambil melantunkan lagu Berharap Tak Berpisah,”Anekdot lain dari salah satu netizen untuk menggambarkan generasi ini: “Saat kecil kita di ajari sopan dan santun, saat besar menjadi ‘so fun n santuy’.”
Anekdot di atas memang sangat tepat untuk menggambarkan anak-anak Senoparty dan milenial lain yang semisal. Moto hidup YOLO (You Only Live Once) seringkali ikut muncul untuk menggambarkan bahwa hidup itu hanya sekali, maka jangan sia-siakan kesempatan untuk menikmati hidup.
Liberalisme Sebagai Penjajahan Negara Kapitalisme
Liberal adalah pemahaman yang berasaskan pada 4 pilar kebebasan: Kebebasan Beragama, Kebebasan Bertingkah Laku, Kebebasan Berpendapat, dan Kebebasan Kepemilikan. Paham ini dibawa oleh negara-negara berideologi Kapitalisme pada setiap negara jajahannya. Paham liberal ini masuk dengan gaya yang berbeda dibandingkan dengan masa Kolonialisme, namun racun yang ditawarkan jauh lebih berbahaya dan tersembunyi.
Paham liberal masuk ke dalam dunia generasi milenial dan generasi-Z, menjadikan mereka remaja yang mencintai dunia dan jauh dari agama. Standar kesuksesan diukur dari seberapa tinggi jabatan yang sudah mereka raih di usia muda. Bermunculan para eksekutif muda atau business owner di usia di bawah 30 tahun tanpa diiringi ruh, sehingga bisnis dan dunia kerja mereka dikelilingi dengan ekonomi ribawi dari hulu ke hilir.
Standar kebahagiaan diukur dengan sudah seberapa jauh kaki mereka menginjak tempat-tempat indah di dunia, makanan mewah apa saja yang sudah dicicipi, atau hobi-hobi ekstrem yang memacu adrenalin. Dalam kaidah hidupnya, mereka memaksimalkan weekdays nya dengan bekerja dari bangun subuh sampai mau tidur kembali, dan mereka memberikan hadiah untuk dirinya sendiri dengan memuaskan hidup pada weekends.
Jika ada diantara mereka yang “sedikit Islami”, mereka merasa sudah cukup dan berpuas diri saat bisa berbagi dalam aktivitas-aktivitas sosial, CSR, menyantuni anak yatim piatu, mendirikan yayasan, menyumbang pembangunan mesjid, atau bersedekah di hari Jum’at. Diantara mereka ada juga yang menonjol dan langka dengan mendirikan bisnisnya tanpa riba.
Potensi Generasi Milenial dalam Peradaban Islam
Generasi milenial adalah generasi yang secara fisik, akal, dan mental memiliki potensi yang sangat optimal untuk kebangkitan Islam yang hakiki. Mereka dipenuhi dengan pikiran-pikiran kreatif, out of the box, memiliki dedikasi yang sangat tinggi bahkan militan. Namun sayang, liberal menggerogoti dan bercokol dalam pikiran mereka, menjadikan mereka para penghamba dunia, yang 1.400 tahun lalu sudah diingatkan oleh Rasulullah saw atas penyakit wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati.
Potensi generasi milenial yang sangat tinggi ini lah yang harus disadari oleh siapapun yang menginginkan kebangkitan Islam. Di tangan mereka, bisa lahir pendakwah-pendakwah tangguh yang juga seorang yang sukses seperti Abdurrahman bin Auf atau Ustman bin Affan, yang kesuksesan mereka itu ialah saat mereka bisa mengorbankan harta, tenaga, raga, bahkan nyawa mereka di jalan dakwah. Inilah generasi milenial yang memiliki standar kebahagiaan saat seluruh hidupnya diridhoi Allah, dan di tangan mereka kelak perjuangan Islam ini akan sampai pada seluruh dunia.
Penulis: Ihsan Tampubolon














