By: Icha ummu zayta
“Baru kerasa siapa teman yang benar benar tulus…. ”
Kurang lebih seperti itulah curahan hati rina nose yang sedang menjadi trending topik di dunia maya dan dunia nyata akhir-akhir ini. Lepas buka hijabnya, tak sedikit menuai pro kontra dari berbagai kalangan. Ada yang mendukung, menyayangkannya bahkan ada yang menghujatnya.
Dari komentar komentar fans, sahabat, hingga dari kalangan ustadz atau pun ulama tentu menimbulkan berbagai macam kesan yang dirasakan oleh rina nose. Sindiran halus hingga sindiran kasar tentu tidak bisa ia hindarkan. Tidak aneh jika seorang publik figur yang melakukan sebuah tindakan kontroversi akan mengundang sorotan dari ribuan orang. Bisa dibayangkan bagaimana tekanan dan kegelisahan yang dialami rina noise. Benarlah hadits Rasulullah saw bahwa dosa itu adalah yang menggelisahkan hati dan tidak mau diketahui oleh orang lain.
Hingga akhirnya kegelisahan itu pun ia goreskan lewat tulisannya di medsos.
Salah satunya tentang bagaimana rina mengartikan ocehan berbagai kalangan terhadap nya. Kurang lebih anggapan siapa kawannya yang tulus dan sebaliknya.
Anggapan kawan atau pun lawan biasanya diartikan menurut _frame_ (sudut pandang) pribadi. Kritik pedas dan hujatan yang ditujukan ke diri seseorang tak jarang dianggap sebagai ujaran kebencian dan tak bersahabat. Tapi bagi yang bisa berpikir objektif maka tentu akan tetap mempertimbangkan segala sesuatu dengan kacamata yang benar.
Bagi seorang muslim, cara pandang nya terhadap makna kawan adalah orang yang bisa membawa kita pada kebenaran dan berani mengatakan apa adanya kepada sahabatnya. Begitupun arti lawan atau musuh, yaitu orang yang sengaja mencelakakan orang lain dan membawanya pada kesesatan.
Mengutip dari ceramah ustadz abdul somad, allah akan selalu seleksi siapa teman orang beriman dan siapa yang menjadi musuh.
Sebenarnya cerita tentang kawan dan lawan ini sudah menjadi pembahasan umum dari jaman kasus penistaan agama, Ahok. Lalu opini ini mencuat lagi karena cerita rina nose yang menuai pro dan kontra tersebut.
Rasulullah saw kecilnya hingga berumur 40 tahun adalah orang yang paling disukai oleh sukunya, termasuk abu lahab, pamannya yang kemudian berubah menjadi musuhnya. Namun rasa sayang itu kemudian berubah menjadi benci karena muhammad saw mengajak mereka untuk menyembah Allah.
Allah selalu punya cara untuk memperlihatkan siapa yang menjadi kawan dan siapa yang menjadi musuh beliau. Allah memberikan berbagai kejadian untuk menguji keimanan seseorang. Diangkatnya muhammad saw menjadi rasul menjadi seleksi terhadap orang orang mekah pada khususnya dan dunia pada umumnya.
Kemudian allah uji lagi keimanan mereka dengan peristiwa isra mi’raj. Banyak orang yang tidak beriman kepada rasulullah karena peristiwa tersebut dianggap hal yang tidak masuk akal. Namun bagi Abu bakar adalah justru menjadi peningkatan kualitas imannya karena beliau membenarkan apa yang disampaikan Rasulullah terkait hijrahnya. Hingga manusia memberikan gelar kehormatan untuk nya yakni As-sidiq (yang membenarkan). Dan banyak peristiwa yang terjadi untuk menyaring orang yang beriman.
Sama halnya dengan kejadian saat ini, sangatlah jelas bagi kita orang yang masih tulus berpegang teguh dengan agamanya, Islam dan siapa yang masih menuhankan akal dan hawa nafsu nya.
Orang sebaik apapun kepada kita bisa jadi suatu saat akan menjauh bahkan menjadi musuh yang nyata buat kita. Dengan sebab perbedaan pemahaman terhadap akidah, atau pun karena berubahnya akidah dan keyakinannya (agama) seiring pengalaman dan kejadian yang dialaminya.
Kawan kita adalah cerminan diri kita.
Rasulullah saw bersabda:
“ Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap .” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).
Sudah saatnya kita benar benar selektif memilih kawan, yakni yang bisa mengantarkan kita kepada keridhoan Allah dan bukan hanya yang bisa berkata kata manis namun sejatinya mencelakakan diri kita.[]














