Hari kelulusan pastilah diminati banyak orang, baik lulus dari sekolah, tes, perkuliahan, dan sebangsanya. Momen ketika kita membuktikan setiap pengorbanan jiwa maupun raga kita sudah terbayar dengan impian yang kita impikan. Lantas, setelah impian itu tercapai, mau apa lagi selanjutnya?
Selepas isya’ hari ini di Instagram, Kak Daus sebagai MC menemani para penonton untuk membahas pertanyaan “Lulus Mau Ngapain?” yang menjadi judul pada podcast Jum’at malam tanggal 26 Mei. Bersama Bang Afiq dan Kang Saif sebagai pembicara, mari kita mulai podcast-nya!
“Gimana tanggapan Bang Afiq terkait teman-teman kita sekarang yang euforia kelulusan sekolahnya dengan corat-coret seragam, konvoi motor, dan sebagainya?” Kak Daus mulai mengajukan pertanyaan pada Bang Afiq.
“Cuma satu kata (buat yang merayakan kelulusan sekolah dengan corat-coret baju): norak. Udah, gitu,” Bang Afiq harus jujur dengan para penonton, “emang apa sih manfaatnya corat-coret baju? Emang dikira dengan corat-coret baju, hidup kita bisa lebih lancar? Kan kagak.”
Terlepas dari interpretasi kelulusan sebagai “kebebasan setelah sekian lama dijerat berbagai peraturan serta permasalahan di sekolah” oleh banyak pelajar, masih ada tahapan kehidupan lain yang harus dihadapi setelahnya, seperti dunia perkuliahan, pekerjaan, dan keluarga. Oleh karena itu, apakah kita harus merayakan kelulusan dengan perayaan yang besar sebagaimana yang sering dilakukan pelajar masa kini?
Kak Daus beralih ke Kak Fauzan terkait bagaimana para pelajar yang mengekspresikan euforia kelulusannya dengan corat-coret baju, konvoi motoran, dan sebagainya, “Pertanyaannya, apakah kesenangannya itu dapat dibagikan ke seluruh pelajar atau hanya sebagian orang saja?”
Kak Fauzan menekankan bahwa kita perlu melihat secara spesifik kasus euforia kelulusan pelajar. Salah satu faktor utama yang mungkin menyebabkan para pelajar bersikap demikian adalah konsep pendidikan yang kurang tepat, terutama dalam hal meningkatkan semangat belajar siswa. “Cara pandang saya bukan menyikapi ini buruk atau nggak,” jelas Kak Fauzan, “tapi pengen mencoba bersimpati pada kondisi psikologis mereka. Barangkali mereka sebenarnya merasa tertekan dengan sekolah.”
Pembahasan materi berlanjut dengan pendapat dari Kang Saif, “Seharusnya, esensi kelulusan pendidikan para pelajar adalah dengan mengucapkan terima kasih kepada orang-orang terdekat yang telah memperjuangkan pendidikan mereka, terutama orang tua.” Ungkapan terima kasih ini akan memberikan makna yang sangat penting pada perjuangan belajar hingga mencapai kelulusan. Para pelajar juga dapat menemukan semangat baru dalam menghadapi tahap kehidupan selanjutnya, seperti perkuliahan, dunia kerja, dan berkeluarga.
Namun nyatanya, para pelajar hari ini tampaknya kurang mengingat perjuangan di balik kelulusan mereka. Yang mereka ingat lebih banyak terkait dengan kelanjutan hidup mereka, bukan ungkapan terima kasih kepada orang tua, keluarga, guru, dan orang lain yang telah membantu pendidikan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa remaja mungkin tidak sepenuhnya menyadari atau menghargai nilai perjuangan yang telah diberikan oleh keluarga dan orang-orang terdekat dalam pendidikan mereka. Inna lillahi…
“Apa sih penyebab para pelajar melakukan hal (pengekspresian euforia kelulusan yang tidak seharusnya) tersebut?” Kak Daus masih bertanya kepada Kang Saif.
“Penyebabnya karena mereka tidak memiliki visi misi yang jelas setelah mereka lulus,” kata Kang Saif. Beliau menyampaikan bahwa penting bagi kita sebagai pelajar untuk menyusun visi misi sebelum kita lulus. Dengan fokus dan komitmen dalam mewujudkan visi misi tersebut, akan ada pergeseran dari ekspresi euforia kelulusan yang terfokus pada perayaan seperti mencorat-coret baju atau konvoi motoran, menjadi upaya nyata dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Bismillah, semoga kita dapat membuat visi misi yang membawa berkah dunia akhirat, ya teman-teman!
Kak Daus kemudian beralih ke Kak Fauzan dan Bang Afiq untuk berbagi visi misi setelah kelulusan mereka. “Nggak perlu hal serumit visi misi untuk menggerakkan seseorang, tapi mereka pasti akan bergerak untuk suatu makna yang mereka perjuangkan,” begitu jawab Kak Fauzan.
Kak Fauzan menyarankan agar kita mengenali para pelajar terlebih dahulu. Barangkali ada berbagai latar belakang yang memengaruhi permasalahan mereka hingga mereka melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Coba dengarkan keluh kesah mereka, dekati mereka, dan pahami kehidupan mereka. Barulah setelah itu, kita dapat mengajak mereka menyusun visi misi, kembali kepada Islam dan berusaha bersama-sama untuk mencapai surga Allah. Main bareng, ngaji bareng, ke surga bareng…
Kang Saif menambahkan bahwa sekarang memang sudah jarang ada pelajar yang merayakan kelulusan dengan semacam mencorat-coret baju. “Kayaknya tahun 2020 ke bawah masih ada yang corat-coretan (baju), tapi kalau tahun 2020 ke atas sudah hampir jarang,” Kang Saif menyebutkan bahwa perubahan zaman juga membuat perayaan kelulusan bukan mencorat-coret baju lagi. Bisa dengan membuat konten “jedag-jedug”, main game online, dan sebagainya.
“Jadi gini, Kang Saif, Kak Fauzan, Bang Afiq,” Kak Daus bertanya pada seluruh pengisi, “kan kita harus punya bimbingan orang tua. Tapi kalau cita-cita kita tidak sejalan dengan orang tua, bagaimana cara menanggapinya?”
“Pertama-tama,” Kak Fauzan mulai menjawab, “ni anak udah bisa mikir belum? kita perlu mengetahui apakah dia menyadari posisi dan kondisi keluarganya. Apakah ekonomi keluarganya cukup untuk mewujudkan impian si anak, bagaimana si anak mengartikulasikan impian tersebut kepada dirinya sendiri dan orang tua, serta apakah si anak memiliki kemampuan untuk berkomitmen pada impian tersebut.” Kak Fauzan menekankan pentingnya komunikasi dan pemahaman antaranggota keluarga untuk memutuskan impian yang terbaik bagi kita sebagai anak orang tua.
“Ini mungkin cerita sedikit,” Bang Afiq lanjut menjawab, “SD, SMP, SMA, bahkan ketika pindah mendadak, hampir semuanya kehendak orang tua ana.” Bang Afiq jarang menghadapi permasalahan dalam perbedaan pendapat. Namun, untuk memahamkan orang tua akan impian kita, kita tidak perlu meminta. Cukup perlihatkan keinginan dan kompetensi kita saja. Insya Allah dengan begitu, orang tua dapat memahami dan bersedia memfasilitasi kita untuk mewujudkan impian kita.
“Kalau saya sebagai orang tua, saya lebih berfokus pada bagaimana perubahan karakter si anak,” jawab Kang Saif. Buktikan bahwa dengan impian yang kita miliki, kita bisa jadi pribadi yang lebih baik. Orang tua pasti akan memilihkan yang terbaik untuk kita sebagai anak mereka. Tugas kita adalah memberi tahu dan memahamkan orang tua bahwa kita memiliki impian yang harapannya dapat membawa kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, dan seluruh alam semesta.
“Kalau kita dipilihkan jalan dari orang tua, lalu kita sami’naa wa atho’naa (taat) pada orang tua, maka kita akan menjadi anak yang berbakti,” tambah Kang Saif. Jangan terlalu khawatir akan pilihan kita sendiri maupun pilihan dari orang tua. Semuanya adalah proses pembelajaran hidup kita. Insya Allah bisa berbuah kebaikan di kemudian hari, aamiin…
Sebagai penutup, Kak Daus bertanya mengenai visi misi yang seharusnya para pelajar miliki kepada seluruh pengisi. Visi misi yang harusnya dapat membuat para pelajar menjadi sosok yang lebih baik dari masa kini.
“Start from the little things,” kata Kak Fauzan. Coba renungkan bagaimana cara membuat dunia jadi lebih baik lagi. Tempatkan juga diri sendiri pada tempat yang mengharuskan kita untuk bertarung dengan seluruh kesadaran. Menangkan pertarungan yang kecil sebelum pertarungan yang besar.
“Visi utama manusia secara universal adalah menjadi seorang hamba Allah yang terbaik,” lanjut Bang Afiq. Caranya bisa dengan banyak hal sesuai dengan perintah dan larangan Allah.
“Ketika kita lulus dari sekolah, kita jangan langsung berfokus pada bagaimana cara menghasilkan pundi-pundi duniawi yang banyak,” Kang Saif menyetujui jawaban Bang Afiq, “tapi bagaimana kita mampu mengamalkan setiap ilmu dari guru dan keluarga kita untuk orang banyak agar kita bisa mendapat pahala yang banyak.” Bismillah, ya ges yak!
Kak Daus membuat kesimpulan dari podcast kali ini bahwa setiap perjuangan menuntu ilmu kita diniatkan untuk Allah. Setelahnya, Kak Daus pun menutup podcast.
Jumpa lagi di podcast selanjutnya, wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. []
Jum’at, 26 Mei 2023 | 20.00-21.00
Bang Afiq, Kang Saif, Kak Daus, dan Kak Fauzan











