Buletin Teman Surga 267: #NotBuyChallege

0
1155

Hari gini, remaja gampang banget kalo pengen beli sesuatu. Tinggal googling barangnya. Mampir ke marketplace popular. Cek reviewnya. Kalo ok, masukin keranjang lalu check out. Nggak nyampe lima menit kalo koneksi internetnya lancar. Sesimple itu.

Kalo lagi punya duit, langsung bayar. Kalo lagi cekak, merengek dulu ke ortu. Gimana caranya, kalo udah check out gak pake lama. Biar nggak keburu hangus link pembayarannya atau malah keduluan sama yang lain. Nyesel deh.

Nggak salah kalo remaja di era digital, kian hari mudah tergoda untuk membeli barang secara impulsive alias emosional tanpa pikir panjang. Gegara kemakan iklan atau promo gila-gilaan. Berbagai penelitian menunjukkan kalo kebiasaan ini terus meningkat akibat paparan media sosial dan iklan yang agresif. Dikejar terus.

Menurut survei terbaru dari CNBC tahun 2024, sebanyak 64% remaja mengaku pernah membeli sesuatu secara impulsif karena pengaruh media sosial dan iklan digital. Kondisi ini diperparah dengan adanya sistem paylater, yang memungkinkan remaja membeli barang meskipun mereka belum memiliki cukup uang. Jebakan riba!

# Ketika Konsumerisme Menjerat Remaja

FOMO (Fear of Missing Out) sering jadi alasan utama remaja terpapar gaya hidup konsumerisme alias mendadak doyan belanja. Mereka takut ketinggalan tren, sehingga ngerasa harus punya barang yang sedang viral. Terutama kalo urusannya udah berkaitan dengan penampilan. Baik itu fashion, skincare, maupun gadget terbaru. Akibatnya, mereka sering menghabiskan uangnya yang pas-pasan tanpa berpikir panjang, bahkan untuk barang yang sebenarnya nggak perlu-perlu banget. tapi ucul!

Nggak heran kalo banyak remaja keliatannya nggak bisa bedain mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang hanya sekadar keinginan. Berlomba-lomba berburu barang yang bergengsi, walaupun yang dibutuhkan hanya fungsi. Untuk alat komunikasi, maksain beli iphone terbaru meskipun kepakainya cuman buat ngirim pesan dan foto selfie yang fungsinya sama dengan model android dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

Ada juga yang beli barang untuk koleksi atau penunjang eksistensi. Sepatunya masih bagus, tapi gatel ngeliat model terbaru. Apalagi kalo sudah terkunci jadi target iklan di media sosial yang menggunakan strategi psikologis sehingga remaja sulit menolak godaan belanja. Menurut laporan Global Web Index 2024, sekitar 72% remaja mengaku pernah membeli produk yang mereka lihat di media sosial karena diiklankan oleh influencer.

Ngerinya, beberapa remaja bahkan rela berbohong kepada orang tua, menambah utang, atau meminjam uang dari teman demi memenuhi hasrat belanja. Sistem paylater dan pinjaman online menjadi jebakan bagi banyak remaja. Mereka tergiur untuk membeli barang secara kredit tanpa memahami risiko bunga dan denda keterlambatan.

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa jumlah pengguna paylater di kalangan anak muda meningkat 35% pada tahun 2024, dengan banyak yang akhirnya terlilit utang. Nge-RIBA-nget!

#NotBuyChallenge, Why Not?

Sebagai respons terhadap budaya konsumtif, gerakan #NotBuyChallenge mulai viral di media sosial. Gelombang kampanye “No Buy Challenge 2025” melanda media sosial di pengujung 2024. Tagar #NoBuyChallenge telah digunakan hampir 50 juta kali di TikTok dan merambat ke media sosial lainnya.

Kampanye ini mengajak remaja untuk menahan diri dari belanja yang tidak perlu selama periode tertentu, misalnya satu bulan atau lebih. Tantangan ini memberikan berbagai manfaat, seperti:

  • Menghemat uang untuk kebutuhan yang lebih penting.
  • Belajar mengontrol diri dan tidak mudah tergoda tren.
  • Mengurangi dampak lingkungan dari konsumsi berlebihan.

Banyak remaja yang mengikuti tantangan ini melaporkan bahwa mereka lebih sadar terhadap pola belanja mereka dan bisa menyisihkan uang untuk hal yang lebih bermanfaat, seperti investasi, tabungan pendidikan, atau sedekah.

Bagi remaja muslim, ajakan #NotBuyChallenge tentunya tak sekedar tren sesaat. Karena sejatinya, dari dulu Islam udah ngajarin gaya hidup sederhana, tidak boros dan tidak berlebihan atau bermewah-mewah. Islam melarang sikap berlebihan dalam menggunakan harta, sebagaimana firman Allah:

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”(QS. Al-Isra’: 26-27)

Secara umum, boros diartikan sebagai kebiasaan berlebihan dalam menggunakan uang untuk memenuhi keinginan yang tidak terlalu penting dan untuk bersenang-senang semata.

Hidup boros menimbulkan dampak negatif untuk kehidupan di masa depan. Sebab, remaja yang boros akan lebih mengutamakan pemenuhan keinginannya daripada kebutuhannya.

Selain itu, hidup boros juga menyebabkan seseorang tidak peduli dengan keadaan di sekelilingnya. Padahal, manusia merupakan makhluk sosial yang harus saling membantu. Itu mengapa Allah SWT memberikan larangan hidup boros kepada umat-Nya sesuai yang tercantum dalam surat Al Israa ayat 26-27 di atas.

Selain itu, Rasulullah saw mengingatkan: “Makanlah, minumlah, berpakaian, dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kesombongan.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Hakim)

Gaya hidup sederhana bukan berarti pelit atau berpenampilan lusuh dan mengenaskan. Tapi lebih kepada cara mengelola harta dengan baik. Sehingga kekayaannya bisa menjadi sarana meraih tiket surga bukan malah menjerumuskannya pada jurang neraka.

Boleh kok kita berpenampilan rapi, menarik, dan estetik sebagai bentuk rasa syukur atas kenikmatan rezeki halal yang Allah Swt berikan. Tapi bukan untuk flexing, pamer kekayaan atau kesombongan.

Cukuplah kampanye #NotBuyChallenge sebagai pengingat kita untuk tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan boros yang merugikan masa depan. Agar tetap istiqomah, kuatkan sikap mental kita dengan terus mengkaji Islam. Sehingga tidak mudah terjangkiti wabah belanja tanpa pikir panjang alias impulsive buying. Sebaliknya, makin bijak mengatur keuangan dan jauh-jauh dari perilaku setan. Yuk ngaji. Gaskeun! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here