Buletin Teman Surga 250. Memilih Jalan Terbaik

0
4783

Pernah gak kamu ngerasain, setelah shalat shubuh masih terasa ngantuk. Padahal bangunnya udah agak siang. Untuk itu kita punya pilihan, lanjutin bertamasya ke alam mimpi atau bergegas mandi dan siap-siap berangkat sekolah.

Atau ketika waktu istirahat pertama sebelum break shalat dzuhur. Biasanya kita ada pilihan memanfaatkan waktu untuk menunaikan shalat dhuha. Atau bergegas ke kantin nyari cemilan guna meredakan cacing dalam perut yang tengah demo Tolak Tapera, eh minta jatah makannya.

Dalam banyak hal, ternyata keseharian kita sering dihadapkan pada berbagai pilihan. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, kegiatan kita banyak banget pilihan bergandanya. Udah kaya soal ujian aja. Ada pilihan yang baik, kurang baik, atau tidak baik. Makanya kita kerap mendengar quote bijak tentang hidup. Life is choice, and your choice is your future. Et dah, udah kaya motivator kelas dunia aja ini mah.

Dan ternyata, Allah swt juga sudah mengingatkan kita dalam firmannya, “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (QS. Al-Balad : 10). Jalan apa yang dimaksud?

Diriwayatkan dari ibnu Mas’ud tentang firmanNya: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan yaitu kebaikan dan keburukan.”

Masalahnya, bagaimana kita tahu ini jalan kebaikan atau keburukan. Sementara kita sebagai manusia, sering berlagak sok pintar. Berani menilai baik dan buruknya yang akan dilakukan sesuai dengan kengininan kita. Padahal yang terjadi, sering salah prediksi.

Allah swt mengingatkan juga dalam firman-Nya, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah ayat 216). Tuh kan!

# What You Do is What You Get

Ini yang sering kita lupakan ketika memilih apa yang mau kita kerjakan. Setiap pilihan pasti menuntut pengorbanan. Dan setiap pengorbanan dibayar dengan akibat yang kita dapatkan. Misalnya tanggal 09 dzulhijjah, ada keutamaan menunaikan puasa sunah Arafah.

“Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas” (HR Muslim).

Kalo kita memilih puasa, kita ‘mengorbankan’ kebiasaan sarapan, ngemil, ngeteh, atau wisata kuliner food street. Akibatnya haus dan lapar dari fajar hingga maghrib yang kita rasakan dan dibayar dengan pengampunan dosa. Amazing!

Sebaliknya, kalo kita milih gak puasa, kita mengorbankan peluang pengampunan dosa yang bisa jadi gak akan dapat kesempatan lagi di tahun berikutnya. Rugi!

Begitu juga ketika akan menghadapi ujian di sekolah. Kita punya pilihan belajar mati-matian atau kasak-kusuk nyari contekan. Masing-masing ada konsekuensinya. Dan hasil yang kita peroleh biasanya berbanding lurus dengan usaha yang kita lakukan. Karena itu, ambillah pilihan terbaik. Utamakan nilai yang lebih mulia. What you do is what you get!

# Belajar dari Nabi Ibrahim AS

Ngomong-ngomong soal pilihan hidup, kita diingatkan dengan kisah inspiratif seorang Abul Anbiya alias Bapaknya Para Nabi.

Apa jadinya kalo hari gini ada berita seorang ayah dengan tega akan menyembelih anaknya yang semata wayang, pasti jadi viral di dunia maya dan dunia nyata. Apalagi kalo perilaku sang ayah, didorong oleh keyakinan beragama. Tuntuntan syariah. Bisa-bisa pasukan buzzer pembenci Islam bakal menggorengnya untuk menyudutkan Islam. Untungnya, kejadian yang menimpa Nabi Ismail as, nggak seekstrim itu.

Yup, Khalilullah Nabi Ibrahim ayahanda Nabi Ismail mendapat perintah dari Allah swt untuk menyembelih putra yang sangat dicintainya. Pilihan super berat. Gimana nggak, Ismail adalah putra yang sangat dinanti-nanti kehadirannya. Giliran sudah besar, eh Allah SWT ingin ‘memintanya’ kembali. Meski galau, Nabi Ibrahim menyampaikan perintah ini kepada putranya.

Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS. Ash-Shaaffaat: 102)

… saat mata pisau baru menempel di leher Ismail, turunlah wahyu Allah untuk mencegahnya. Rupanya, perintah Allah untuk menyembelih Ismail itu sekedar ujian keimanan kepada keduanya. Sejauh mana kepatuhan dan ketaatan mereka dalam melaksanakan perintah Allah swt. Dan mereka berhasil melaluinya dengan gemilang. Sehingga pada akhirnya Allah mengganti objek penyembelihan itu dengan seekor domba (QS Ash-Shâffat [37]: 107). Hmm, hampir saja!

# Pengorbanan Kita, Untuk Pilihan Terbaik

Sebuah pengorbanan untuk pilihan terbaik yang kita ambil nggak akan muncul tanpa dilandasi rasa cinta. Baik cinta kepada sebuah barang, orang, atau hobi. Kalo udah cinta, orang nggak peduli lagi dengan banyaknya waktu, tenaga, pikiran, atau harta yang dikeluarkan demi memuaskan dahaga cintanya. Dengan melihat kepada apa atau siapa yang dicintainya, kita bisa ngukur kualitas pengorbanan yang dia lakukan. Sekedar luapan emosi atau ekspresi dari cinta sejati.

Ekspresi cinta sejati, ditunjukkan oleh Rasul dan para shahabat yang mengorbankan hidupnya untuk Islam. Ini bukan sekedar luapan emosi, lantaran semangat pengorbanannya tetep menyala selama hayat dikandung badan.

Kamu kenal Khalid bin Walid yang berjuluk ’Singa Allah’? Dialah panglima perang yang selalu siap pasang badannya di medan jihad. Dia bilang,

”Aku lebih menyukai malam yang sangat dingin dan bersalju, di tengah-tengah pasukan yang akan menyerang musuh pada pagi hari, daripada menikmati indahnya malam pengantin bersama wanita yang aku cintai atau aku dikabari dengan kelahiran anak laki-laki.” (HR. Al-Mubarak dan Abu Nu’aim).

Ada juga Umair bin Abi Waqash yang ngeyel pengen ikut perang badar dengan diam-diam menyelinap ke barisan pasukan kaum Mulsimin. Padahal usianya baru 16 tahun. Kalo ketahuan Rasul pasti nggak boleh tuh. Tapi ternyata, setelah Rasul tahu keinginan dan semangatnya yang menggebu-gebu, beliau mengizinkannya. Umair pun dengan gembira segera merangsek ke medan perang hingga terbunuh sebagai syahid. (HR. Al-Hakim dan Ibn Sa’ad).

Pengorbanan Nabi Ismail dan para shahabat serta ketaatan Nabi Ibrahim, patut kita teladani. Dalam urusan ketaatan terhadap perintah Allah, kita nggak punya pilihan kalo pengen surga jadi tempat kembali kita kelak. Inilah pilihan terbaik dan nilai hidup yang mulia.

Termasuk berkorban untuk Islam kalo kita meluangkan waktu dalam mengkaji Islam, mau mikirin urusan kaum Muslimin di seluruh dunia, menyumbangkan tenaga dalam menyebarkan dakwah Islam, membelanjakan harta di jalan Allah, serta memasang badan kita demi membela Islam dan kaum Muslimin.

Ikuti aja meski berat jalaninnya. Kerjain aja meski banyak yang bully. Nggak pacaran bukan berarti anti pergaulan. Berbusana syari bukan untuk cari sensasi. Aktif berdakwah bukan untuk menuai masalah. Insya Allah, kesabaran kita akan berbuah kebaikan di dunia dan akhirat. Jaminan dari Allah swt untuk hambaNya yang taat. Kalo ngerasa belum siap, segera persiapkan diri kita dengan ikut ngaji. Nggak pake tarsok. Kuy! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here