Buletin Teman Surga 312: Move On ke Jalan Allah

0
257

“Sesungguhnya Allah nggak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (TQS. Ar-Ra’d: 11)

Nggak kerasa kita sudah memasuki Tahun Baru Hijriah lagi. Timeline media sosial mulai ramai dengan ucapan selamat tahun baru, desain-desain bertema Muharam, dan berbagai harapan untuk menjadi lebih baik. Ada yang bikin target baru, ada yang bikin resolusi baru, bahkan ada yang udah bikin daftar impian yang ingin diwujudkan selama setahun ke depan. Keren.

Tapi ada satu pertanyaan yang mesti kita pikirin bareng-bareng. Tanya ama diri sendiri. setelah sekian banyak tahun baru hijriah yang kita lewati, sebenarnya apa yang beneran berubah dalam diri kita?

Kita sering merasa hidup sudah maju hanya karena umur bertambah. Padahal belum tentu. Sebab bertambah tua nggak selalu berarti bertambah dewasa, dan bertambah usia nggak selalu berbanding lurus dengan ketaatan kepada Allah.

Muharam hadir bukan sekadar sebagai penanda pergantian tahun hijriah. Muharam adalah alarm kehidupan. Allah seakan sedang mengingatkan kalo perjalanan kita di dunia semakin pendek. Jika tahun lalu umur kita masih tersisa sekian tahun, sekarang berkurang satu tahun lagi. Semakin dekat pada akhir perjalanan. Saatnya mulai kembali perbaikan diri.

# Move On Dari Kebiasaan Buruk

Kadang kita tahu bahwa suatu kebiasaan itu buruk. Kita tahu scroll media sosial berjam-jam membuat waktu habis sia-sia. Kita tahu menonton konten yang nggak bermanfaat hanya membuat hati makin kosong. Kita tahu pergaulan bebas justru menjauhkan kita dari Allah.

Tapi anehnya, kita tetap bertahan. Kita tetap melakukannya. Bukan karena nggak tahu, tetapi karena sudah terlalu nyaman. Dosa yang diulang terus-menerus akhirnya terasa biasa. Maksiat yang awalnya membuat hati gelisah lama-lama dianggap wajar.

Inilah yang sering membuat proses perbaikan diri terasa berat. Bukan karena jalan menuju Allah sulit ditempuh, melainkan karena kita terlalu berat melepaskan apa yang selama ini kita genggam. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari)

Perhatikan baik-baik. Rasulullah nggak mengatakan hijrah adalah mengganti penampilan atau mengubah status media sosial. Hijrah adalah keberanian meninggalkan sesuatu yang nggak Allah sukai menuju sesuatu yang Allah ridhai.

Kisah hijrah Rasulullah SAW sendiri menjadi bukti bahwa perubahan besar selalu diawali oleh keberanian meninggalkan sesuatu. Rasulullah meninggalkan Makkah, kota kelahirannya, tempat masa kecilnya, tempat keluarga dan sahabatnya berada. Bukan karena beliau membencinya, tetapi karena Allah memerintahkan demikian.

Kadang untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, kita memang harus rela meninggalkan sesuatu yang kita sukai. Itulah mengapa hijrah selalu identik dengan pengorbanan.

Bisa jadi hijrah kita hari ini bukan meninggalkan kota atau negara. Bisa jadi hijrah kita adalah meninggalkan kebiasaan menunda shalat. Meninggalkan hubungan yang nggak halal seperti pacaran. Meninggalkan lingkungan yang merusak. Meninggalkan tontonan yang mengotori hati. Atau meninggalkan rasa malas yang selama ini membuat kita jauh dari ilmu dan amal.

Memang berat. Tapi justru di situlah nilai perjuangannya. Sebab sesuatu yang berharga memang nggak pernah didapat dengan cara yang mudah.

Allah berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (TQS. Al-Ankabut: 69)

Ayat ini memberi harapan bahwa siapa pun yang bersungguh-sungguh ingin berubah, Allah akan membukakan jalan. Mungkin nggak langsung mudah. Mungkin masih jatuh bangun. Tetapi selama kita terus bergerak menuju-Nya, Allah nggak akan membiarkan usaha itu sia-sia.

# Reset Mindset, Sebelum Upgrade Diri

Banyak orang ingin hidupnya berubah, tetapi lupa memperbaiki sumber dari semua perubahan itu, yaitu mindset alias pola pikir. Semua keputusan, tindakan, kebiasaan, bahkan arah hidup seseorang bermula dari apa yang ada di dalam pikirannya. Kalau cara berpikirnya terjaga oleh tsaqofah Islam, perilakunya akan berusaha tetap taat dan jauhi maksiat. Kalau cara berpikirnya dijejali oleh budaya sekuler yang menjauhkan aturan agama dari keseharian, alamat hidup bakal sempit dan penuh nestapa.

Allah SWT mengingatkan, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (TQS. Thaha: 124)

Kadang yang kita butuhkan bukan motivasi baru, melainkan perbaikan cara berpikir. Kita perlu menghapus informasi-informasi salah yang menggiring pada perilaku maksiat, membersihkan kesalahan yang belum ditaubati, dan mengeluarkan penyakit hati yang selama ini diam-diam menggerogoti iman.

Muharam adalah waktu yang tepat untuk melakukan perbaikan itu. Nggak perlu menunggu sempurna. Nggak perlu menunggu menjadi orang saleh dulu. Justru karena kita penuh kekurangan, maka kita perlu kembali kepada Allah.

# Upgrade Diri, Upgrade Iman

Setelah midset di-reset, langkah berikutnya adalah upgrade diri. Bukan upgrade penampilan biar keliatan Islami, keren dan estetik. Tapi upgrade perilaku keseharian yang makin dekat dengan ketaatan dan istiqomah.

Upgrade shalat agar lebih tepat waktu dan lebih khusyuk. Upgrade hubungan dengan Al-Qur’an dengan membiasakan tilawah setiap hari. Upgrade ilmu dengan rutin mengikuti kajian dan membaca buku-buku yang bermanfaat. Upgrade akhlak dengan lebih menghormati orang tua, guru, dan teman-teman. Upgrade kepedulian dengan mulai memikirkan umat, bukan hanya memikirkan diri sendiri.

Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Dunia hanyalah tiga hari; kemarin yang telah berlalu, besok yang belum tentu kau jumpai, dan hari ini yang sedang kau jalani.” Nasihat ini mengingatkan bahwa kesempatan untuk berubah selalu ada pada hari ini. Bukan besok. Bukan tahun depan. Bukan ketika sudah tua. Sebab nggak ada yang tahu berapa lama lagi kesempatan itu diberikan kepada kita.

Muharam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Muharam adalah kesempatan untuk memulai lembaran baru. Kesempatan untuk move on dari versi lama diri kita. Kesempatan untuk meninggalkan dosa yang selama ini mengikat langkah kita. Kesempatan untuk membersihkan hati dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Jangan biarkan tahun ini berlalu begitu saja seperti tahun-tahun sebelumnya.

Mari jadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum untuk benar-benar berubah. Bukan perubahan yang hanya terlihat di luar, tetapi perubahan yang lahir dari proses berpikir. Bukan perubahan yang bertahan beberapa hari lalu hilang, tetapi perubahan yang terus mengantarkan kita semakin dekat kepada Allah.

Selamat Tahun Baru Hijriah. Saatnya move on ke jalan Allah. Tanpa tapi tanpa nanti. Gas! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here