Buletin Teman Surga 315: Capek Drama Overthinking di Kepala? Mau Obatnya?!

0
296

“Kalau nilainya jelek gimana?” / “Kalau nanti nggak lolos PTN?” / “Kalau orang tua kecewa?”

Jam dinding kamar menunjukkan pukul sebelas malam. Tugas sebenarnya sudah kelar, besok juga nggak ada ulangan. Tapi mata nggak mau diajak merem. Melek terus. Padahal seharian nggak ngopi. Tapi isi kepala berisik nggak karuan. Sahut menyahut nggak mau diam. Satu kekhawatiran belum selesai, muncul lagi kekhawatiran yang lain.Begitu terus sampai akhirnya badan rebahan, tapi pikiran tetap berputar nggak karuan kemana arahnya.

Kalau kamu pernah ngalamin isi kepala yang ramai dan berisik nggak karuan, sepertinya kita nggak sendirian. Banyak pelajar seperti kita hari ini hidup dengan kepala yang selalu penuh. Bangun tidur kepikiran tugas, di sekolah membandingkan diri dengan teman, pulang sekolah buka media sosial lalu merasa hidup orang lain jauh lebih seru. Malam harinya, giliran kekhawatiran masa depan datang mengantre memenuhi isi kepala. Capek nggak sih?!

# Capek Karena Drama Isi Kepala

Sepakat nggak kalo hari ini kita sebagai pelajar sering ngerasa payah karena selalu membawa dua tas sekaligus ? Tas sekolah di pundak, dan tas berisi kecemasan di dalam kepala. Isinya macam-macam. Takut nilai turun. Takut nggak diterima di kampus impian. Takut kehilangan teman. Takut mengecewakan orang tua. Nah lucunya, sebagian besar ketakutan itu belum benar-benar terjadi. Tetapi pikiran sudah sibuk menyusun scenario drama yang selalu sad ending. Pernah ngerasa gitu nggak?

Kira-kira begitulah cara kerja overthinking. Ia bikin kita menderita dua kali. Pertama sedih karena masalah yang benar-benar ada di depan  mata. Kedua cemas karena masalah yang kita ciptakan di dalam isi kepala. Sehingga kita sering sibuk menyesali nilai semester lalu yang terjun bebas. Atau panik dihantui kecemasan akan kehidupan kita lima tahun ke depan.

Padahal cooling down atau posisi hibernasi membantu kita menemukan jalan keluar. Karena jujur, overthinking justru membuat kita tersesat di dalam kepala kita sendiri. Semakin dipikirkan, semakin banyak kemungkinan buruk yang muncul. Akhirnya kita sibuk melawan bayangan ketakutan yang nggak ada habisnya dan bahkan belum tentu menjadi kenyataan. Hidup nggak tenang!

Sebenarnya Islam mengajarkan kita untuk pola berpikir yang benar. Belajar dari masa lalu untuk mempersiapkan masa depan dengan aksi nyata sepenuhnya di hari ini.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengingatkan ““Sesungguhnya jika pikiran/hati disibukkan dengan kesedihan atas apa yang telah berlalu (masa lalu) atau kecemasan terhadap apa yang akan datang (masa depan), maka ia akan memutuskan perjalanan hati menuju Allah dan merusak ketenangannya.”

# Dengan Mengaji, Overthinking Terkendali

Pernah nggak kita merasa isi kepala begitu penuh, sampai rasanya ingin menekan tombol mute agar semuanya diam sejenak? Sayangnya, tidak ada tombol seperti itu dalam kehidupan nyata. Liburan, rebahan, main gim, atau scrolling media sosial mungkin bisa mengalihkan perhatian sesaat, tetapi setelah semuanya selesai, pikiran yang sama sering kali kembali lagi.

Islam menawarkan cara yang berbeda. Bukan dengan melarikan diri dari masalah, tetapi dengan mengaji demi menguatkan hati melalui ilmu. Itulah mengapa sejak dulu para ulama yang ujian hidupnya jauh lebih berat dari kita, menjadikan majelis ilmu sebagai tempat “mengobati” hatinya. Sebab hati yang dekat dengan Allah akan melahirkan pikiran yang lebih jernih, lebih tenang, dan tidak mudah dikuasai oleh overthinking.

Ibnu Taimiyah, misalnya, berkali-kali dipenjara karena menyampaikan kebenaran. Namun, beliau justru mengatakan, “Surgaku ada di dalam dadaku.” Penjara tidak mampu merampas ketenangan hatinya karena sejak lama beliau hidup bersama Al-Qur’an, ilmu, dan majelis-majelis ilmu.

Ngaji bukan perlombaan siapa yang paling banyak tahu istilah Arab atau paling banyak hafal kitab. Ngaji adalah proses menghadirkan Cahaya Islam yang membuat kita mampu melihat kehidupan dengan lebih jernih. Cahaya itulah yang membantu kita ngeliat kalo kegagalan bukan akhir perjalanan, penolakan bukan tanpa pengakuan, dan masa depan adalah cerminan perilaku kita hari ini.

Tentu saja, overthinking nggak akan hilang dalam semalam. Sama seperti tubuh yang nggak langsung sehat hanya dengan sesekali gerak badan. Hati pun membutuhkan proses untuk kembali kuat. Tetapi setiap kali kita nyempetin waktu ikut kajian, membaca AL-Qur’an, belajar tafsir, atau berdiskusi tentang Islam, sebenarnya kita sedang mengarahkan “Kompas hidup” agar selalu di jalan yang benar. Sedikit demi sedikit, pikiran yang dulu mudah panik akan diajak lebih tenang.

Mungkin awalnya kita datang ke majelis ilmu dengan niat menambah pengetahuan. Namun, bisa jadi yang kita dapatkan justru tidak hanya tambahan ilmu, tapi juga ketenangan. Sebab, banyak kegelisahan yang melahirkan overthinking ternyata bukan lahir karena kita kurang pintar, tetapi karena kita menjauh dari Allah swt. Sebagaimana ditegaskan dalam firmanNya, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (TQS. Ar-Ra’d: 28)

# Jangan Berjuang Sendirian

Overthinking mungkin bisa reda setelah kita lebih dekat kepada Allah. Namun, kalau besok kita kembali tenggelam dalam lingkungan yang dipenuhi gosip, budaya membandingkan diri, konten negatif, atau pergaulan yang menjauhkan dari Islam, bukan tidak mungkin drama isi kepala itu datang lagi. Sebab hati manusia itu naik turun. Hari ini semangat, besok bisa melemah. Hari ini tenang, besok bisa kembali gelisah.

Karena itulah Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya memiliki lingkungan yang baik. Teman bukan sekadar orang yang menemani tertawa, tetapi orang yang menjaga kita tetap berada di jalan menuju surga. Maka, pilihlah circle yang ketika imanmu melemah, mereka menguatkan. Saat kita mulai putus asa, mereka mengingatkan janji Allah. Ketika kita mulai sibuk mengejar dunia, mereka mengajak kembali mengingat akhirat.

Lebih dari itu, jangan hanya menjadi penonton dalam kebaikan. Bergabunglah dengan komunitas dakwah atau majelis ilmu yang membuatmu terus bertumbuh. Ikutlah mengkaji Islam, berdiskusi, berbagi ilmu, hingga mengajak teman-teman lain kepada kebaikan.

Mungkin awalnya kita datang untuk mencari ketenangan hati. Namun, lama-kelamaan kita akan menemukan keluarga baru yang saling menguatkan dalam iman. Di situlah dakwah menjadi “charger” yang menjaga semangat tetap menyala. Sebab orang yang sibuk menebar manfaat biasanya tidak punya banyak waktu untuk tenggelam dalam prasangka dan kecemasan yang tidak perlu.

Ingat, iman itu seperti daya tahan tubuh. Kalau tidak dirawat, ia akan melemah. Dan ketika imun iman melemah, virus overthinking, pesimisme, serta bisikan syaitan akan lebih mudah menyerang hati. Karena itu, jangan puas hanya menjadi pelajar yang rajin belajar. Jadilah pelajar yang juga rajin mengaji, aktif berdakwah, dan istiqamah berada di tengah lingkungan yang saleh dan salehah, baik di dunia nyata maupun di media sosial.

Sebab ketika langkahmu terus ditemani orang-orang yang mengajak kepada Allah, insya Allah bukan hanya overthinking yang perlahan menghilang, tetapi masa mudamu juga akan dipenuhi ketenangan, keberkahan, dan keberanian untuk menjadi generasi qurani yang membawa kebangkitan Islam kembali. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here