20 hari pertama Ramadhan sudah kita lewati. Euforia menjelang berbuka sudah mulai mereda. Meski para pemburu takjil masih merajalela demi menyambut bedug maghrib tiba, tapi tak sepadat minggu pertama puasa. Lucunya, bukan cuman umat Islam juga yang ikut antri beli makanan berbuka. Ada juga lho non-muslim yang merapat demi menikmati panganan berbuka. Takjil War!
Sekedar ngingetin, keutamaan yang ada di bulan Ramadhan ini terbagi menjadi tiga bagian. Sepuluh hari pertama di Bulan Ramadhan adalah rahmat, sepuluh hari pertengahannya adalah ampunan, dan sepuluh hari terakhirnya adalah terbebas dari api neraka. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:
“Awal Bulan Ramadhan adalah Rahmat, pertengahannya adalah ampunan, sedangkan akhirnya adalah terbebas dari api neraka.” (HR. Al-Baihaqi)
Entah kamu pas baca tuilsan ini ada di bagian mana, sepuluh hari pertengahan atau sepuluh hari terakhir, yang pasti keduanya sarat dengan keberkahan. Sepuluh hari pertengahan Ramadhan dikenal dengan fase maghfiroh alias pengampunan. Allah SWT jor-joran ngasih pengampunan bagi hambanya yang shaum dan istiqomah. Ramadhan vibes alias suasana khas Ramadhannya makin kerasa.
“Siapa yang puasa Ramadan dengan iman dan pengharapan, telah diampuni dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang bangun malam Qadar dengan iman dan ihtisab, telah diampuni dosanya yang telah lalu,” (HR. Bukhari Muslim)
# Ramadhan Vibes Para Shahabat
Sebaik-baiknya teladan kita dalam berperilaku mulia, tentu Rasulullah saw dan para shahabat. Seperti yang mereka tunjukkan saat Ramadhan tiba. Para Shahabat sangat menanti kedatangan Ramadhan setiap tahunnya. Kerinduan mereka, bak calon pengantin menantikan hari pernikahannya. Begitu menggebu.
Ketika memasuki bulan Ramadhan, para Sahabat nggak mau kehilangan suasananya. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab menyambutnya dengan menyalakan lampu-lampu penerang di masjid-masjid untuk ibadah dan membaca Alquran. Dan konon, Umar adalah orang pertama yang memberi penerangan di masjid-masjid. Sampai pada zaman Ali bin Abi Thalib. Di malam pertama bulan Ramadhan ia datang ke masjid dan mendapati masjid yang terang itu ia berkata, “Semoga Allah menerangi kuburmu wahai Ibnul Khaththab sebagaimana engkau terangi masjid-masjid Allah dengan Alquran.”
Sebagaimana Nabi SAW, pada bulan Ramadhan mereka meningkatkan kedermawanannya. Pada bulan agung ini mereka semakin rajin bersedekah demi meneladani Rasulullah SAW yang digambarkan Ibnu Abbas, “Beliau lebih dermawan di bulan Ramadhan melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari & Muslim). Bentuk sedekah yang sering diberikan mereka di bulan Ramadhan ialah: memberi makan dan menyiapkan berbuka (takjil) bagi orang-orang yang berpuasa.
Sahabat semisal Abdullah bin Umar RA, setiap kali berbuka, beliau selalu menyertakan orang miskin dan anak yatim. Anda bisa membayangkan betapa besarnya sedekah mereka di bulan Ramadhan. Apa yang mereka lakukan terinspirasi dari hadits nabi yang menyatakan bahwa orang yang menyiapkannya, akan diberi ganjaran tanpa mengurangi ganjarannya sedikit pun (HR. Ahmad & Nasa’i).
Hal lain yang dilakukan sahabat ialah tadarus Alquran. Pada momentum agung ini, mereka bersungguh-sungguh dalam membaca Alquran. Utsman bin Affan misalnya, menyelesaikan bacaan Alqurannya setiap hari sekali. Abdullah bin Amru bin ‘Ash mampu mengkhatamkan Alquran seharian (walaupun diperintah Rasul minimal tiga hari). Ada yang mengkhatamkannya selama tiga malam sekali, ada yang tujuh malam sekali, sampai ada juga yang sepuluh malam sekali baru bisa khatam. Itu semua menggambarkan betapa semangatnya mereka dalam membaca Alquran.
Di samping itu, mereka terbiasa duduk di masjid bakda shalat shubuh hingga terbit matahari. Mereka meneladani kebiasaan nabi duduk di masjid setelah subuh hingga matahari terbit (HR. Muslim). Di sisi lain, mereka juga tahu bahwa orang yang duduk di masjid pada waktu tersebut, ganjarannya bagaikan haji dan umrah secara sempurna (HR. Tirmidzi). Selanjutnya biasa dilanjutkan dengan ibadah lain seperti shalat Dhuha.
# Menyala Ramadhanku, Produktif Puasaku!
Bagaimana dengan Ramadhan vibes kita? Kalo suasananya nggak jauh beda. Keberkahan Ramadhan pada masa sahabat, sama kok dengan Ramadhan saat ini. Allah swt nggak pilih kasih. Sama-sama bulan penuh ampunan, dibuka pintu surga, ditutup pintu neraka, dan dibelenggu setan-setan penggoda manusia. Yang paling keliatan bedanya sih perilaku orang-orangnya aja.
Lantaran kelamaan hidup dalam lingkungan yang steril dari penerapan aturan Islam, sebagian umat Islam merasa bulan suci cuman puasa aja. Sedihnya lagi, ini pun banyak yang dapat haus dan lapar saja. Nggak bisa nahan diri untuk nge-gosip, nge-bully, berbohong, dan maksiat kecil lain yang menghanguskan pahala puasanya.
Lebih parah lagi banyak juga umat Islam yang nggak puasa tanpa alasan yang dibenarkan syara’. Bukan ibu hamil atau menyusui, bukan orang yang sedang safar atau dalam perjalanan, bukan wanita yang sedang haid, bukan orang yang sakit keras, atau manusia lanjut usia. Badan masih sehat, segar bugar, sembunyi-sembunyi sarapan, dan makan siang di dalam warung-warung makan. Cupu!
Seberat apapun tantangan puasa kita hari ini, bisa jadi belum seberapa dibandingkan kondisi para sahabat yang mesti terjun ke medan jihad. Ayolah, jangan lemah. Kuatkan diri kita untuk semaksimal mungkin memanen pahala di bulan mulia. Tetap produktif.
Coba renungkan, andai tahun ini Ramadhan terakhir kita. Tentu udah kebayang ajal di depan mata. Waktu untuk bertobat dan menabung pahala tinggal menghitung hari. Apa yang akan kita lakukan?
Sebagai remaja muslim, tentu bukan menghabiskan waktu bersama circle-nya, menghambur-hamburkan harta, atau berlomba mengejar kesenangan dunia. Tapi justru bakal jor-joran beramal sholeh selama Ramadhan. Dikejar waktu untuk menabung pahala dan mengejar ampunan-Nya untuk mengurangi dosa. Karena hanya ini kesempatan untuk mempersiapkan bekal akhirat yang berlipat ganda.
“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari, no. 6514; Muslim, no. 2960)
Seperti itulah harusnya yang kita tanamkan dalam diri kita setiap kali berjumpa Ramadhan. Biar Ramadhan selalu greget penuh ketaatan.
Nah mumpung masih di bulan puasa, jangan sampe waktu terbuang percuma. Tunjukkin greget Ramadhanmu. Nikmati kegiatan pesantren Ramadhan demi menimba ilmu. Simak program Ramadhan Vibes dari Teman Surga di sosial media. Luangkan untuk tilawah Alquran setiap waktu. Syukur-syukur bisa khatam 30 juz minimal satu kali selama Ramadhan.
Yang ini juga nggak boleh kelewat, shalat tarawih sebulan penuh. Bersedekah setiap shubuh. Dan tetep beraktivitas seperti biasa mesti porsinya dikurangi. Semoga Allah swt memasukkan kita dalam golongan mukmin kuat yang dicintai-Nya. Amiin. Meski puasa, tetep perkasa dan selalu greget mengejar pahala. Ramadhan vibes, jangan dianggurin! []














