Buletin Teman Surga 314: Sang Petualang Gemilang

0
17

Banyak pelajar pasti kenal dengan anime One Piece. Kisah ini berawal dari seorang anak muda bernama Monkey D. Luffy yang bermimpi menjadi Raja Bajak Laut. Demi mewujudkan mimpinya, Luffy meninggalkan kampung halamannya lalu berlayar mengarungi lautan luas yang penuh tantangan.

Luffy harus menghadapi hingga pemerintah dunia yang kuat. Dalam petualangannya, Luffy juga bertemu banyak teman dengan mimpi yang berbeda-beda. Ada Zoro yang ingin menjadi pendekar pedang terbaik, Nami yang bercita-cita menggambar peta seluruh dunia, Sanji yang mencari lautan legendaris All Blue, dan kawan-kawan lainnya.

Mereka bersama-sama menjelajahi berbagai pulau yang unik, menghadapi musuh yang kuat, badai, monster laut, kelompok bajak laut lain. Meskipun berkali-kali gagal dan terjatuh, Luffy dan krunya tidak pernah menyerah. Mereka terus berlayar menuju Grand Line, lautan paling berbahaya di dunia, demi menemukan harta karun legendaris bernama “One Piece”.

Nah, kalau Luffy dan kru Topi Jerami hanya ada di dunia anime, Islam ternyata punya petualang sungguhan yang tak kalah menakjubkan. Jauh sebelum kapal Going Merry atau Thousand Sunny berlayar, seorang pemuda Muslim dari Tangier Maroko bernama Ibnu Battutah sudah lebih dulu mengarungi gurun, lautan, dan berbagai negeri di dunia nyata. Bedanya, jika Luffy berlayar untuk mencari One Piece, maka Ibnu Battutah menjelajah dunia demi mencari ilmu, bertemu para ulama, dan menyaksikan keagungan peradaban Islam.

# Penjelajah Dunia Tanpa Tanding

Ibnu Battutah lahir tahun 1304 M dari keluarga ulama. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan ilmu dan pendidikan agama. Di usia sekitar 21 tahun, ia memutuskan berangkat haji menuju Mekkah. Perjalanan itu bukan perjalanan santai. Ia harus menembus gurun panas Afrika Utara, menghadapi perampok jalanan, badai pasir, penyakit, dan perjalanan panjang yang memakan waktu berbulan-bulan.

Yang bikin luar biasa, setelah haji selesai, ia tidak langsung pulang. Jiwanya justru makin haus melihat dunia Islam. Ia ingin belajar lebih banyak, bertemu para ulama, mengenal budaya kaum muslimin di berbagai negeri, dan melihat langsung bagaimana Islam diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Dari situlah petualangan besarnya dimulai.

Perjalanan Ibnu Battutah benar-benar luar biasa jika dibayangkan dalam konteks zaman sekarang. Ia mengunjungi Mesir, Palestina, Syam, Irak, Persia, Yaman, Afrika Timur, India, Maldives, Sri Lanka, Cina, bahkan sampai Asia Tenggara. Banyak sejarawan memperkirakan total perjalanannya mencapai lebih dari 120 ribu kilometer. Itu lebih jauh daripada perjalanan Marco Polo yang lebih terkenal di Barat yang hanya menempuh sekitar 24 ribu kilometer!

Saat berada di India, Ibnu Battutah bahkan dipercaya menjadi qadhi atau hakim oleh Sultan Muhammad bin Tughluq di Delhi. Bayangkan, seorang pemuda dari Maroko dipercaya memegang jabatan penting di pusat pemerintahan Kesultanan Delhi. Itu menunjukkan bahwa ilmunya memang luar biasa.

Ia juga pernah hampir tenggelam karena badai laut, dirampok di perjalanan, sakit parah, bahkan kehilangan rombongan. Tapi semua itu nggak membuatnya berhenti. Berkali-kali ia jatuh, berkali-kali juga ia bangkit dan melanjutkan perjalanan.

Salah satu hal paling menarik dari Ibnu Battutah adalah rasa penasarannya yang tinggi. Di setiap negeri, ia selalu memperhatikan kebiasaan masyarakat, sistem pemerintahan, masjid-masjid, tradisi ilmu, bahkan makanan dan budaya setempat. Semua itu ia catat dengan detail dalam karya terkenalnya yang dikenal dengan nama Rihlah Ibnu Battuta.

Dari catatan itulah dunia sekarang bisa tahu bagaimana kehidupan umat Islam pada abad ke-14. Kita jadi tahu bahwa dunia Islam dulu sangat luas dan maju. Kota-kota muslim hidup dengan ilmu. Masjid ramai dengan kajian. Para ulama dihormati. Perdagangan berkembang. Banyak negeri muslim terhubung satu sama lain seperti saudara besar.

# Bukan Turis, Tapi Pemburu Ilmu dan Peradaban

Yang bikin Ibnu Battutah beda dari kebanyakan petualang adalah tujuannya. Ia bukan sekadar pemburu hiburan. Ia bukan orang yang jalan-jalan cuma demi kesenangan sesaat. Semakin jauh ia melangkah, semakin besar rasa kagumnya terhadap kebesaran Allah dan luasnya peradaban Islam.

Ketika sampai di China, ia kagum dengan keteraturan kota-kota besar dan perdagangan yang maju. Saat berada di Maldives, ia ikut mengajarkan hukum Islam kepada masyarakat setempat. Ketika singgah di wilayah Nusantara seperti Samudra Pasai, ia melihat bagaimana Islam berkembang di Asia Tenggara dengan suasana masyarakat yang cinta ilmu dan menghormati ulama.

Ibnu Battutah juga membuktikan bahwa pemuda muslim dulu punya mental pemberani. Mereka nggak takut mencoba hal baru. Nggak takut jauh dari rumah. Nggak takut menghadapi tantangan. Karena mereka sadar bahwa hidup terlalu berharga untuk dijalani dengan malas dan ketakutan.

Rasulullah SAW bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”  (HR. Muslim)

Kuat di sini bukan cuma soal otot. Tapi juga kuat mental, kuat ilmu, kuat tekad, dan kuat menghadapi kesulitan hidup. Dan semua itu ada dalam diri Ibnu Battutah.

# Petualangan Terbesar Dimulai dari Majelis Ilmu

Kisah Ibnu Battutah bukan cuma tentang seorang pemuda yang sanggup mengelilingi dunia. Lebih dari itu, kisahnya membuktikan bahwa orang yang mengenal Islam dengan benar akan punya mimpi yang besar, mental yang tangguh, dan tujuan hidup yang jelas. Keberaniannya melintasi gurun, lautan, dan berbagai negeri bukan muncul begitu saja. Semua itu tumbuh dari hati yang dipenuhi iman dan kepala yang dipenuhi ilmu.

Kalau hari ini kita mengagumi keberanian Ibnu Battutah, jangan berhenti pada kekaguman. Teladan itu harus diwujudkan. Mungkin kita belum mampu menjelajah puluhan negara seperti beliau. Tapi kita bisa memulai langkah yang sama: menjadi petualang ilmu. Sebab setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil. Dan bagi seorang muslim, langkah pertama itu adalah ngaji.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)

Perhatikan, Rasulullah menggunakan kata “menempuh jalan”. Seolah mencari ilmu memang sebuah perjalanan. Kadang melelahkan, kadang penuh ujian, tapi selalu mengantarkan seseorang menuju kemuliaan. Bisa jadi, perjalanan terjauh yang harus kita tempuh hari ini bukan ke luar negeri, melainkan dari kebodohan menuju pemahaman Islam yang benar.

Mulailah dengan rutin menghadiri majelis ilmu, membaca buku-buku Islam, mengkaji Al-Qur’an dan hadis, serta istiqamah memperbaiki diri sedikit demi sedikit. Jangan mudah menyerah ketika merasa berat. Sebab perjalanan menuju surga memang bukan jalan yang selalu mudah, tetapi itulah jalan terbaik yang pernah ada.

Karena itu, jangan tunda lagi untuk mengenal Islam lebih dalam. Jangan bilang, “Nanti kalau kuliah.” Jangan menunggu “Nanti kalau sudah kerja.” Apalagi berkata, “Nanti kalau sudah tua.” Sebab tidak ada satu pun dari kita yang tahu kapan kesempatan itu berakhir. Yang kita punya hanyalah hari ini. Ayo ngaji. Tanpa tapi tanpa nanti. Gass..![]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here