Piala Dunia datang. Dunia mendadak berubah. Grup WhatsApp yang biasanya sepi tiba-tiba ramai. Timeline media sosial penuh prediksi skor. Nama-nama pemain asing yang susah diucapkan mendadak hafal di luar kepala. Ada yang rela pasang alarm tengah malam, begadang sampai subuh, bahkan menyusun jadwal tidur khusus demi menyaksikan tim favorit bertanding.
# Euforia yang Membius
Dari dulu, sepak bola punya kekuatan yang luar biasa. Sebuah pertandingan yang dimainkan ribuan kilometer dari tempat tinggal kita bisa membuat kita ikut tegang, ikut senang, bahkan ikut marah. Ketika tim favorit menang, suasana hati ikut cerah. Ketika kalah, rasanya seperti kehilangan sesuatu yang berharga. Belum lagi perdebatan panjang di media sosial, saling sindir antarsuporter, hingga perang komentar yang kadang lebih panas daripada pertandingan itu sendiri.
Yang menarik, sebagian remaja bisa menghafal statistik pemain idolanya dengan sangat detail. Tahu man of the match setiap pertandingan, jumlah gol, rekor pertandingan, bahkan sejarah klub para pemain idola. Mirisnya, di saat yang sama, masih ada yang kesulitan menghafal surat pendek yang dibaca setiap hari dalam shalat. Ada yang hafal jadwal kick off semua pertandingan grup, tapi lupa jadwal kajian atau bahkan sering telat menunaikan shalat karena terlalu asyik mengikuti pertandingan.
Tanpa disadari, sepakbola bukan lagi sekadar hiburan, tapi sudah berubah menjadi pusat perhatian yang melalaikan. Menjadi sesuatu yang diagungkan secara berlebihan hingga seseorang rela meninggalkan kewajiban demi hiburan, rela menghabiskan waktu berjam-jam tanpa merasa rugi, tetapi berat meluangkan beberapa menit untuk membaca Al-Qur’an atau shalat tepat waktu.
Bayangkan. Ada orang yang rela begadang sampai pukul tiga pagi demi menyaksikan pertandingan. Tapi ketika adzan Subuh berkumandang beberapa menit kemudian, dia memilih menarik selimut dan melanjutkan tidur. Ada yang sangat emosional ketika negara favoritnya kalah, tetapi biasa saja ketika saudaranya sesama muslim diintimidasi, dilecehkan bahkan dibunuh. Ada yang rela mengeluarkan uang besar untuk membeli atribut tim kebanggaan, tetapi merasa berat bersedekah untuk membantu saudaranya yang membutuhkan.
Masalahnya bukan pada sepak bolanya. Masalahnya adalah ketika sepak bola mulai mengambil porsi yang terlalu besar dalam hati kita. Ketika hiburan mulai menggeser kewajiban. Ketika euforia mulai mengalahkan kesadaran akan tujuan hidup.
Belum lagi fanatisme yang berlebihan. Ada yang sampai membenci orang lain hanya karena mendukung negara berbeda. Ada yang menghina negara lain, mencaci pemain lawan, bahkan bertengkar dengan teman sendiri hanya karena urusan sepak bola. Padahal identitas terbesar seorang muslim bukanlah negara, klub, atau tim nasional tertentu. Identitas terbesar kita adalah Islam yang lintas negara, lintas suku, lintas benua.
# VAR yang Tak Pernah Mati
Salah satu teknologi paling terkenal dalam sepak bola modern adalah VAR atau Video Assistant Referee. Ketika terjadi pelanggaran yang meragukan, wasit bisa memutar ulang rekaman pertandingan. Gol yang semula dianggap sah bisa dibatalkan. Pelanggaran yang semula luput bisa kembali diperiksa. Semua direview dengan sangat detail.
Menariknya, kehidupan kita juga memiliki “VAR”, bahkan dengan sistem yang jauh lebih canggih dan lebih unggul daripada teknologi apa pun yang pernah diciptakan manusia.
Setiap ucapan yang keluar dari mulut kita tercatat. Setiap postingan yang kita unggah terekam. Setiap pandangan mata, langkah kaki, dan isi percakapan yang kita kirimkan tersimpan dalam catatan yang tidak pernah salah.
Allah SWT berfirman: “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS Az-Zalzalah: 7-8)
Di stadion, rekaman pertandingan hanya berlangsung sembilan puluh menit. Dalam kehidupan, rekamannya berlangsung selama puluhan tahun. Di stadion, kamera hanya merekam apa yang terlihat. Dalam kehidupan, Allah mengetahui bahkan apa yang tersembunyi di dalam hati.
Hari ini mungkin kita bisa menghapus postingan media sosial. Kita bisa menghapus chat. Kita bisa menghapus foto. Kita bisa menghilangkan jejak digital. Tapi tidak ada tombol delete dalam buku catatan amal. Semua tersimpan rapi. Semua akan diputar kembali pada hari ketika manusia berdiri di hadapan Rabb semesta alam.
Makanya seorang muslim seharusnya lebih takut kepada “VAR akhirat” daripada kepada kamera apa pun di dunia. Karena pada hari itu tidak ada manipulasi. Tidak ada editan. Tidak ada alasan yang bisa menghapus kenyataan.
# Saat Peluit Terakhir Dibunyikan
Dalam sepak bola ada yang namanya kick off. Ada waktu normal. Ada injury time. Dan pada akhirnya ada peluit panjang yang menandai pertandingan telah selesai.
Kehidupan kita juga seperti itu.
Kelahiran adalah kick off. Masa muda adalah waktu pertandingan. Umur yang diberikan Allah adalah kesempatan untuk mengumpulkan gol-gol amal saleh. Dan kematian adalah peluit terakhir.
Masalahnya, tidak ada seorang pun yang tahu kapan peluit itu akan dibunyikan.
Ada yang meninggal saat masih sekolah. Ada yang meninggal ketika sedang merencanakan masa depan. Ada yang meninggal saat sedang mengejar cita-cita. Tidak ada notifikasi sebelumnya. Tidak ada hitung mundur. Tidak ada jadwal pasti.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang umurnya dan masa mudanya, untuk apa digunakan.
Karena itulah masa muda bukan waktu untuk dihabiskan tanpa arah. Masa muda adalah kesempatan emas untuk menyiapkan bekal terbaik menuju akhirat. Ketika pintu taubat tertutup rapat. Ketika kita mulai menyadari kalo selama ini masa muda lebih banyak dipakai untuk bermaksiat dibanding taat.
Piala Dunia akan selesai. Juara akan ditentukan. Stadion akan kembali sepi. Sorak-sorai suporter akan perlahan menghilang. Jersey kebanggaan akan kembali tergantung di lemari. Highlight pertandingan yang hari ini viral beberapa bulan lagi mungkin sudah dilupakan orang.
Tapi ada satu pertandingan yang belum selesai. Pertandingan hidup kita. Pertandingan yang hadiahnya bukan medali, trofi, atau uang miliaran rupiah. Pertandingan yang hadiahnya adalah ridha Allah dan surga-Nya. Pertandingan yang menentukan nasib kita untuk selama-lamanya.
Karena itu, siapkan bekal untuk kemenangan yang super besar. Tak gentar menghadapi hari perhitungan. Memantaskan diri untuk menjadi penghuni surga yang dirindukan. Kuncinya, manfaatkan setiap waktu untuk mengenal Islam lebih dalam. ikut ngaji, tanpa tanpa nanti. []














