Saat tulisan ini kamu baca, bisa jadi Ramadan sudah pergi atau menjelang berakhir. Berganti Syawal yang diawali dengan hari raya lebaran Idul Fitri. Bagi yang menjalani puasa Ramadannya poll, tanpa cacat, dan Ikhlas pengen dapat ampunan dan ridho Allah, boleh bahagia saat bertemu hari raya.
Seperti itulah hadiah kebahagiaan bagi yang berpuasa Ramadan sebagaimana disampaikan Rasulullah saw dalam sabdanya, “Bagi orang yang berpuasa akan merasakan dua kebahagiaan: (1) kebahagiaan ketika berbuka, dan (2) kebahagiaan ketika berjumpa dengan Allah.” (HR. Muslim no. 1151).
Kebahagiaan ketika berbuka dimaknai pertama, seperti saat bedug maghrib terdengar. Langsung digarap hasil perburuan takjilnya. Kedua ketika hari raya, keinginan untuk wisata kuliner yang selama Ramadan gak kesampaian sudah dibolehkan. Bahagia banget dong setelah satu bulan menahan lapar dan haus saat keroncongan dan dahaga di siang hari, kemudian masa itu berakhir. Seperti perantau yang tersesat di padang pasir nemu sumur air artesis. Segaar!
Namun di balik kebahagiaan itu, pernah nggak sih kita ngerasa hampa setelah Ramadan berakhir? Kayak ada sesuatu yang hilang. Biasanya setiap hari sibuk sahur, tarawih, baca Quran, dan ngerasa deket banget sama Allah. Tapi sekarang, tiba-tiba Ramadan pergi, dan kita kembali ke rutinitas biasa. Sedih? Wajar banget!
Ternyata, perasaan ini juga dirasain sama para sahabat Nabi loh! Mereka bukan cuma sedih, tapi sampai menangis karena takut kalau amalan Ramadan mereka nggak diterima. Bahkan, mereka berdoa selama enam bulan setelah Ramadan agar ibadahnya diterima oleh Allah.
Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata: “Mereka (para sahabat) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka bisa mencapai Ramadan, dan mereka berdoa enam bulan setelahnya agar amalan mereka diterima.”
Nah, kalau mereka yang tingkat ketakwaannya jauh di atas kita aja segitu takutnya, gimana dengan kita? Harusnya kita juga tetap semangat menjaga ibadah kita meskipun Ramadan sudah berlalu.
# Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai!
Kalau dipikir-pikir, Ramadan tuh kayak training camp buat kita. Selama sebulan, kita dilatih buat nahan hawa nafsu, ningkatin ibadah, dan makin dekat sama Allah. Tapi, ujian sesungguhnya justru dimulai setelah Ramadan selesai.
Kenapa? Karena setan yang selama ini dikurung, sekarang udah bebas! Mulai deh mereka menggoda kita lagi.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Ketika bulan Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Artinya, selama Ramadan, kita punya ‘keuntungan’ karena setan nggak bisa ganggu kita. Makanya, ibadah terasa lebih ringan. Tapi setelah Ramadan? Mereka balik lagi dan mulai bisik-bisik ke hati kita buat males ibadah, balik ke kebiasaan lama, mancing maksiat tipis-tipis, dan mulai menjauh dari Allah.
Lalu, gimana cara biar bisa tetap istiqomah?
# Kunci Istiqomah dari Para Sahabat Nabi
Para sahabat Nabi punya beberapa cara biar tetap istiqomah dalam beribadah, meskipun godaan dunia makin besar. Kita bisa belajar dari mereka:
- Cari Lingkungan yang Baik
Jangan sendirian dalam menjaga iman. Cari temen yang juga punya niat buat terus beribadah. Kalau nggak bisa ketemu langsung, ikut komunitas online, grup kajian, atau minimal tetap terkoneksi dengan orang-orang yang bisa mengingatkan kita.
- Lakukan Amal Kecil Tapi Rutin
Rasulullah ﷺ bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara rutin, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Nggak perlu langsung ekstrem, yang penting terus jalan. Misalnya:
- 10 menit baca Quran setiap hari.
- Dzikir pagi dan petang.
- Sholat sunnah rawatib minimal 2 rakaat.
- Sedekah, meskipun cuma seribu perak.
Kecil, tapi kalau dilakukan terus-menerus, lama-lama jadi kebiasaan. Ini akan menguatkan pondasi keimanan kita secara perlahan. Karena selalu tertaut dengan aktifitas mendekatkan diri dengan Allah swt.
- Banyak Dzikir dan Doa
Biar hati tetap istiqomah, kita harus sering berdoa. Rasulullah ﷺ sendiri sering baca doa ini:
“Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik.” (Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan Hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).
Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan Hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab, “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.”
Kalau Nabi aja masih berdoa biar tetap istiqomah, kita apalagi? Jangan malu buat minta tolong sama Allah biar hati kita tetap teguh dalam keimanan.
- Ingat Akhirat
Sahabat Nabi selalu mengingat kematian dan kehidupan setelahnya. Mereka tahu bahwa dunia ini cuma sementara, dan tujuan utama adalah surga. Jadi, setiap kali merasa lelah atau malas, ingat bahwa semua yang kita lakukan sekarang akan menentukan tempat kita nanti di akhirat.
Allah berfirman: “Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’: 19).
After Lebaran, What Next?
Jawabannya: NGAJI!
Terusin kegiatan pengajian kita selama Ramadan. Baik hadir di majlis ta’lim, pesantren kilat, atau ngikutin podcast temen surga. Jangan kasih kendor. Karena hanya dengan mengenal Islam lebih dalam, keistiqomahan kita akan kuat terjaga.
Karena ngaji, setidaknya ngasih tiga kekuatan dalam jalanin proses perbaikan diri dan istiqomah:
Pertama, menguatkan pondasi keimanan. Setiap ngaji kita diingetin sifat-sifat Allah yang Mulia. Keimanan kuat, akidah kokoh. Tak mudah terbujuk godaan setan. Karena Allah pasti tak akan berlepas tangan.
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allâh,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”. (QS. Fushshilat [41]: 30).
Kedua, dipertemukan sahabat sholeh. Dalam forum pengajian, kita ketemu dengan orang yang sama-sama pengen berubah menjadi lebih baik. Di antara mereka tak sungkan saling mengingatkan jika ada kawan yang nyerempet kemaksiatan. Inilah hakikat sebuah persahabatan.
Ketiga, bertaqarrub ilallah jadi kebiasaan._ Hanya Allah swt tempat kita mengadu dan meminta pertolongan. Dengan aktif ngaji, kita diajak membiasakan diri untuk mendekati-Nya dengan getol ibadah.
So, asal kita punya niat yang kuat, ngaji terus-menerus, dan selalu berdoa kepada Allah. Ramadan boleh pergi, tapi semangatnya tetap menyala di hati kita. Konsisten dalam kebaikan. Dan jangan pernah ragu untuk terus memperbaiki diri. Yuk, jadi generasi takwa yang taat sepanjang hayat! []














