“Waktu itu seperti pedang. Jika kamu tidak menggunakannya dengan baik, ia akan menebasmu.” – Imam Syafi’i
Siapa sih yang nggak suka me time? Waktu luang saat kita bisa lepas dari tugas sekolah, ekskul, atau drama kehidupan sehari-hari. Biasanya, me time itu identik sama rebahan sambil scrolling medsos, binge-watching serial favorit, atau sekadar dengerin lagu galau. Fun-tastic banget deh pokoknya.
Emang sih nggak ada yang salah dengan kegiatan me time setiap orang. Terserah aja dia mau ngapain. Namanya juga me time. Cuman rugi aja kalo setiap me time dihabisin buat hal-hal yang nggak ada nilai tambahnya buat diri sendiri. Minim manfaat. Sayang banget, kan?
# Pentingnya Produktif di Waktu Luang
Banyak dari kita yang ngerasa sibuk banget seharian. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Rasanya gak ada waktu untuk kegiatan positif. Padahal kalau dicek ulang, waktunya banyak bocor ke hal-hal yang kurang penting. Wasting time.
Tanpa sadar udah sejam lebih scrolling TikTok atau Instagram tanpa tujuan jelas. Atau buka HP niatnya cuma 5 menit, tapi ujung-ujungnya malah kebablasan. Belum lagi kalo ngelayanin mabar bestie. Udah deh, lupa waktu. Lupa daratan. Kita terjebak oleh aktifitas yang bikin kita kehilangan produktivitas tanpa sadar.
Padahal tahu sendiri, waktu itu aset yang nggak bisa diulang. Tombol ‘undo’ hanya ada di atas keyboard, bukan di dunia nyata. Laci mesin waktu Doraemon juga cuman ada di rumah Nobita, bukan di dunia nyata. Jangan pernah bermimpi kita bisa balik lagi ke masa lalu untuk memperbaiki diri sendiri.
Saat kita lulus sekolah dan mulai masuk dunia kerja, bisa jadi banyak yang menyesal lantaran skillnya pas-pasan. Padahal dulu waktu masih sekolah, dia punya kesempatan untuk belajar lebih giat dan mengasah skill yang bermanfaat. Tapi karena terjerat jebakan me time, waktu yang berlalu tak meninggalkan jejak kehidupan di masa depan. Nyesek.
Begitu juga saat kita tutup usia. Ketika tak ada kesempatan untuk bertaubat dan mengumpulkan pahala. Hanya penyesalan yang tersisa.
Allah swt mengingatkan kita dalam firman-Nya, “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Wahai Rabb-ku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal shaleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.” (QS. Al Mu’minun : 99-100).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy berkata mengenai ayat dalam Surat Al Mu’minun, “Allah Ta’ala mengabarkan keadaan orang-orang yang berhadapan dengan kematian, dari kalangan mufrithin (orang-orang yang bersikap meremehkan perintah Allah -pent) dan orang-orang yang zhalim. Mereka menyesal dengan kondisinya ketika melihat harta mereka, buruknya amalan mereka, hingga mereka meminta untuk kembali ke dunia. Bukan untuk bersenang-senang. Akan tetapi mereka berkata, ‘Agar aku berbuat amal shaleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan’.”
Beliau kembali menjelaskan, “Apa yang mereka perbuat tidaklah bermanfaat sama sekali, melainkan hanya ada kerugian dan penyesalan. Pun perkataan mereka bukanlah perkataan yang jujur, jika seandainya mereka dikembalikan lagi ke dunia, niscaya mereka akan kembali melanggar perintah Allah.” (Taisir Karimirrahman: 531)
Jangan sampai karena jebakan me time, untuk hal yang bermanfaat kita bilang no time. Ketika diingatkan agar mengumpulkan bekal untuk masa depan dunia akhirat, kita bilang nanti aja, some time. Sementara untuk rebahan, mabar, nongki, nonton drama korea seharian, kita bisa anytime. Padahal bisa jadi semua itu wasting time.
# Orang-orang Sukses yang Memanfaatkan Me Time
Para ulama terkenal dikenal dengan produktivitasnya yang luar biasa dalam belajar, menulis, mengajar, dan berdakwah. Mereka bisa menghasilkan karya besar yang manfaatnya masih terasa hingga sekarang. Ini karena mereka sangat disiplin dalam mengatur waktu dan tidak menyia-nyiakan satu pun kesempatan untuk belajar dan berkarya. Berikut beberapa contoh bagaimana mereka mengatur waktunya agar lebih produktif:
- Imam Syafi’i: Memanfaatkan Waktu Luang untuk Belajar
Imam Syafi’i terkenal dengan kecerdasannya yang luar biasa. Sejak kecil, beliau sudah menghafal Al-Qur’an dan kitab hadits dengan cepat. Salah satu rahasia produktivitasnya adalah memanfaatkan setiap waktu luang untuk belajar. Beliau sering mencatat ilmu yang didapat bahkan di tulang atau kulit karena keterbatasan kertas.
# Pelajaran buat kita: Jangan biarkan waktu kosong berlalu begitu saja. Gunakan waktu luang untuk membaca buku, menonton video edukatif, atau mendengarkan podcast bermanfaat.
- Imam Bukhari: Disiplin dalam Menulis dan Meneliti Hadits
Imam Bukhari, penulis kitab Shahih Bukhari, adalah sosok yang sangat disiplin. Beliau memiliki jadwal ketat dalam mengumpulkan dan memverifikasi hadits. Bahkan, beliau sering bangun di tengah malam untuk menulis hadits yang baru ia ingat. Dalam sehari, beliau bisa menulis dan memverifikasi ratusan hadits.
# Pelajaran buat kita: Jangan tunda pekerjaan penting. Kalau ada ide bagus atau hal yang ingin dipelajari, langsung catat dan eksekusi sebelum lupa.
- Imam Nawawi: Mengurangi Tidur Demi Ilmu
Imam Nawawi dikenal sebagai ulama yang sangat produktif dalam menulis kitab-kitab penting seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Majmu’. Beliau hanya tidur sekitar 4 jam sehari karena sisa waktunya digunakan untuk belajar dan menulis.
# Pelajaran buat kita: Kurangi waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Tidur yang cukup memang penting, tapi jangan sampai waktu produktif habis karena terlalu banyak rebahan atau main game berjam-jam.
- Ibnu Sina: Membagi Waktu dengan Sistematis
Ibnu Sina, seorang ilmuwan dan dokter muslim terkenal, membagi waktunya dengan sangat teratur. Siang hari ia gunakan untuk mengajar dan mengobati pasien, sementara malam hari ia gunakan untuk menulis dan membaca. Ketika merasa lelah, ia menyegarkan pikirannya dengan mendengarkan musik atau melakukan aktivitas fisik.
# Pelajaran buat kita: Buat jadwal harian yang seimbang antara belajar, istirahat, dan hiburan agar tetap produktif tanpa stres.
- Ibnu Taimiyyah: Me Time dengan Dzikir dan Refleksi
Ibnu Taimiyyah adalah ulama besar yang sering menggunakan waktu luangnya untuk merenung dan berdzikir. Menurutnya, waktu terbaik untuk berpikir dan memperbaiki diri adalah saat sendiri. Dengan begitu, seseorang bisa lebih fokus pada tujuan hidupnya.
# Pelajaran buat kita: Saat me time, coba gunakan sebagian waktunya untuk refleksi diri dan meningkatkan kualitas ibadah.
Dari kisah para ulama ini, kita bisa belajar kalo produktivitas itu bukan cuman soal bekerja keras. Tapi juga soal manajemen waktu yang baik, disiplin, dan konsistensi. Mulai sekarang, nggak ada ruginya kita manfaatkan waktu dengan lebih baik.
Biar nggak gampang tergoda oleh setan yang mengajak kita uang-buang waktu hingga nyerempet maksiat, selalu ingat Allah Swt. Aktif ngaji. Berdzikir dan mengenal Islam lebih dalam. Selain tilawah Qur’an, manfaatkan me time pada bulan mulia ini juga dengan belajar, berpikir, dan berkarya. Agar saldo tabungan pahala kita terus bertambah dan masa depan dunia akhirat kita pun jadi penuh berkah. Me time is thinking time. Yuk ah! []














