Jadi perempuan di zaman sekarang itu rasanya kayak lagi ikut kompetisi lari marathon yang nggak ada garis finish-nya. Kebayang capeknya. Udah bermandi peluh tapi gak sampai-sampai. Effortnya besar. Harus pintar, harus mandiri, harus punya uang sendiri, harus kuat, dan harus kelihatan nggak butuh siapa-siapa. Katanya, itu standar perempuan “bernilai”. Julukannya Alpha Women.
Tapi anehnya, makin banyak yang ngejar itu semua, makin banyak juga yang capek. Kelihatan kuat di luar, tapi dalamnya kosong. Ngerasa bebas mau ngapain aja, tapi bingung arah hidupnya ke mana. Yang awalnya cuma pengen mandiri… pelan-pelan malah kehilangan diri. Duh!
# Mandiri atau Takut Terlihat Lemah?
Kalau kamu sering nonton drakor atau dracin, pasti familiar sama karakter perempuan yang super kuat, dingin, mandiri, dan kelihatan nggak butuh siapa-siapa. Di layar, itu kelihatan keren banget.
Tanpa sadar, banyak remaja putri yang pengen jadi seperti itu di dunia nyata. Harus kuat, nggak boleh lemah, dan nggak boleh bergantung. Seolah-olah itu standar baru perempuan hebat.
Masalahnya, hidup ini bukan drama yang sudah ada skripnya. Ketika konsep itu dibawa ke realita, justru muncul tekanan baru yang bikin capek sendiri.
Akhirnya, hubungan dengan orang lain pun berubah. Bukan lagi saling melengkapi, tapi saling adu siapa yang lebih kuat. Siapa yang lebih dominan, siapa yang lebih “nggak butuh”.
Padahal dalam Islam, keinginan untuk mandiri itu sebenarnya nggak salah. Islam pun nggak pernah melarang perempuan untuk berkembang, berkarya, bahkan punya penghasilan sendiri. Tapi yang sering nggak sadar, makna “mandiri” sekarang mulai bergeser.
Banyak yang bukan lagi ingin mandiri karena kebutuhan, tapi karena takut terlihat lemah. Minta tolong jadi gengsi, bergantung pada orang lain ngerasa terkekang.
Akhirnya “mandiri” berubah jadi “bebas tanpa batas”, di situlah masalah mulai muncul. Semua diukur dari “aku mau” dan “aku nyaman”, tanpa peduli halal atau haram. Yang dikejar bukan lagi ridho Allah. Tapi penilaian kebanyakan manusia yang melabeli Perempuan mandiri itu keren bin modern. Padahal malah menyesatkan.
Padahal Allah sudah mengingatkan dengan tegas, “Dan jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An’am: 116). Artinya, jumlah yang banyak bukan jaminan kebenaran, dan tren yang ramai belum tentu membawa kebaikan.
Jadi, kalau hari ini perempuan didorong untuk mandiri demi dianggap keren dan modern, mungkin yang perlu dipikirkan bukan sekadar “semua orang melakukan ini”, tapi “apakah ini mendekatkan aku pada Allah atau justru menjauhkan?” Karena bisa jadi, yang terlihat seperti kemajuan, sebenarnya menyesatkan. Cuma jalan hidup yang salah tapi ramai diikuti. Hati-hati!
# Islam: Memuliakan, Bukan Membatasi
Islam nggak melarang perempuan jadi kuat. Tapi Islam memastikan kekuatan itu tetap terarah.
Kalau dunia hari ini sibuk mendefinisikan perempuan kuat sebagai yang paling mandiri, paling bebas, dan paling tidak bergantung, Islam justru sudah lebih dulu menghadirkan contoh perempuan kuat, tapi dengan arah yang benar.
Lihat Khadijah binti Khuwailid. Beliau bukan perempuan biasa. Seorang pengusaha sukses, punya harta, punya pengaruh, dan jelas mandiri secara finansial. Dalam standar dunia hari ini, semua “checklist alpha woman” ada pada dirinya. Tapi yang membuat beliau luar biasa bukan sekadar kesuksesannya, melainkan bagaimana semua itu tetap tunduk pada iman. Hartanya digunakan untuk mendukung dakwah, kekuatannya digunakan untuk menguatkan Rasulullah SAW, dan posisinya tidak menjadikannya sombong atau lepas dari aturan Allah. Mandiri, tapi tetap tahu batas. Kuat, tapi tetap tunduk.
Berbeda lagi dengan Fatimah az-Zahra. Kalau dunia mengukur kekuatan dari pencapaian materi, mungkin beliau tidak masuk standar itu. Hidupnya sederhana, jauh dari kemewahan, bahkan sering kekurangan. Tapi justru di situlah letak kemuliaannya. Kuat dalam kesabaran, kuat dalam menjaga kehormatan, dan kuat dalam ketaatan. Tidak terlihat “wow” di mata dunia, tapi sangat tinggi nilainya di sisi Allah.
Dua sosok ini menunjukkan satu hal penting: kekuatan perempuan dalam Islam bukan diukur dari seberapa bebas dia menjalani hidup, tapi dari seberapa terikat dia dengan syariat tanpa merasa terpaksa. Bukan soal bisa melakukan apa saja, tapi tahu mana yang boleh dan mana yang harus ditinggalkan.
Allah berfirman, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat: 13). Jadi, perempuan kuat dan mulia itu bukan yang paling tidak butuh siapa-siapa. Tapi yang paling bertakwa sebagai hamba Allah.
# Kembali ke Fitrah sebagai Ummu wa Rabbatul Bait
Di tengah ramainya standar dunia yang bilang perempuan keren itu harus punya karier tinggi, penghasilan sendiri, dan hidup bebas tanpa batas, ada satu peran yang sering banget dianggap “biasa aja”—padahal justru luar biasa: jadi ummu wa rabbatul bait, ibu sekaligus pengatur rumah. Nggak banyak disorot, nggak selalu dipuji, dan nggak selalu terlihat “wah” di mata orang lain, tapi dari sinilah generasi dibentuk, dari sinilah masa depan lahir.
Banyak remaja putri hari ini kebawa arus, ngebayangin masa depan cuma soal kerja, sukses, dan pencapaian pribadi, sampai lupa kalau ada peran besar yang menanti, yang nilainya jauh lebih dalam dari sekadar gelar atau jabatan. Jadi ibu itu bukan “opsi terakhir”, dan ngurus rumah itu bukan “turun level”. Justru di situlah ladang pahala yang luas banget, meski sering nggak kelihatan di mata manusia.
Coba bayangin, mungkin kamu nggak dikenal dunia, nggak viral, nggak punya jabatan tinggi, tapi dari tangan kamu lahir anak-anak yang taat, yang jaga agama, yang jadi sebab kamu masuk surga. Itu bukan pencapaian kecil. Itu jejak yang nggak semua orang bisa punya.
Jadi bukan berarti perempuan nggak boleh mandiri atau berprestasi, tapi jangan sampai silau sama definisi “keren” versi dunia sampai lupa siapa diri kita sebenarnya. Karena pada akhirnya, yang bikin kita mulia bukan seberapa tinggi kita berdiri di dunia, tapi seberapa besar peran kita dalam kebaikan yang kita tinggalkan. Seberapa istiqomah kita dalam ketaatan. Seberapa bangga kita kelak menjadi muslimah sejati. Bukan alpha women. Bukan juga wonder women. Tapi ummu wa robbatul bait. Yuk! []














