Buletin Teman Surga 298: Hati-Hati Cari Validasi

0
1363

Ada satu momen tahunan yang selalu datang dengan pola yang sama. Timeline mendadak penuh warna merah jambu. Caption terasa mirip status orang lagi bucin. Obrolan teman berubah arah. Ada yang sibuk nyiapin sesuatu, ada yang pura-pura santai padahal hatinya mulai goyah. Dan tanpa ada yang bilang langsung, kita mulai ngerasa: “Kayaknya semua orang ikut deh.”

Di momen seperti ini, FOMO bekerja paling keras. Kita nggak benar-benar disuruh ikut, tapi juga nggak enak kalau nggak ikut. Takut dibilang nggak update. Takut dianggap kuper bin cupu. Takut dicap “nggak ngerti momen”. Akhirnya, banyak dari kita ikut arus—bukan karena yakin, tapi karena takut sendirian. Terkucil.

Pelan-pelan, tanpa sadar, kita mulai menilai diri sendiri dari reaksi orang lain. Kalau banyak yang respon, kita merasa berharga. Kalau sepi, kita ngerasa kurang. Padahal, hidup nggak seharusnya sesempit itu. Tapi karena hampir semua orang melakukan hal yang sama, kita merasa itu wajar. Normalisasi.

Kalo sudah sampai titik ini, kayanya kita perlu hati-hati deh. Bukan karena mencari pengakuan itu aneh, tapi karena kalau dibiarkan, validasi bisa ngatur arah hidup kita tanpa kita sadari. Arah hidup mulai bergeser. Bukan lagi tentang bertumbuh, tapi tentang disukai. Bukan lagi soal benar dan salah, tapi soal rame atau sepi. Be careful gaes!

FOMO Itu Pinter, Dia Nyamar Jadi “Biar Nggak Ketinggalan”

FOMO jarang datang dengan wajah seram. Dia datang dengan alasan yang kelihatannya masuk akal. “Cuma seru-seruan.” “Semua juga begitu.” “Nggak serius ini.” Masalahnya, hampir semua hal yang menyesatkan memang datang dengan kemasan santai.

Di momen tahunan tanggal merah jambu ini, tekanan sosial di antara teman sebaya terasa lebih kuat. Yang hari-harinya biasa aja, mendadak jadi sensitif. Yang biasanya cuek, jadi kepikiran. Kita mulai membandingkan diri dengan orang lain. Kita mulai merasa ada yang kurang, padahal sebelumnya baik-baik saja.

Allah sudah mengingatkan kita: “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am: 116).

Ayat ini ngajarin satu hal penting: ramai itu bukan ukuran kebenaran. Tapi FOMO sering membalik logika itu. Yang rame dianggap normal. Yang beda dianggap aneh. Akhirnya, kita bergerak bukan karena benar, tapi karena mayoritas ikut-ikutan.

Emang sih, Ikut-ikutan teman itu sering terlihat aman. Kita nggak sendirian. Kita nggak terlihat beda dalam satu circle pertemanan. Kita nggak jadi bahan omongan. Tapi justru karena itu, kita sering nggak sadar kalau arah hidup kita pelan-pelan berubah.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengingatkan kita: “Janganlah engkau berjalan bersama orang yang rusak, sehingga dia akan mengajarimu sebagian keburukannya.”

Kadang yang bikin kita susah berubah bukan karena kita salah, tapi karena kita merasa baik-baik saja. Padahal, mungkin kita cuma sedang hanyut bareng arus. Catat!

Saat Tren Asing Dibungkus Romantis

Momen tahunan ini bukan lahir dari budaya kita. Ia datang dari luar Islam (bukan luar angkasa lho), lalu dibungkus rapi supaya terlihat manis, romantis, dan seolah wajib dirayakan. Pelan-pelan, batas yang dulu jelas jadi kabur. Hal yang dulu dianggap nggak pantas, sekarang dianggap wajar. Bahkan dianggap bukti rasa peduli.

Masalahnya bukan sekadar ikut tren. Tapi saat tren itu: (1) mendorong pergaulan bebas, (2) membuka pintu maksiat, (3) dan menganggap wajar hal yang jelas bertentangan dengan Islam seperti pacaran atau temen tapi mesra.

Kalau iman kita tipis, kita akan dengan mudah kebawa arus. Awalnya cuma ikut suasana. Lama-lama ikut kebiasaan. Sampai akhirnya terjerumus ke dalam gaya hidup sekuler yang menjauhkan kita dari aturan islam yang mulia. Duh jangan sampai deh!

Rasulullah SAW sudah memperingatkan: “Sungguh kamu akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini seperti alarm. Bukan supaya kita anti segalanya, tapi supaya kita punya filter. Seorang Muslim bukan hidup untuk meniru semua yang viral, tapi untuk memilih dengan sadar jalan yang benar.

Kadang yang paling bahaya bukan maksiat terang-terangan, tapi maksiat yang dikemas seolah bagian dari gaya hidup modern. Dan sialnya, teman-teman dekat kita pada latah ikut tanpa tahu konsekuensi dosa di baliknya. Aduhh…!

Jangan Tukar Prinsip dengan FOMO

Di momen tahunan biasanya validasi terasa murah dan mudah. Sedikit perhatian, sedikit pengakuan, sedikit rasa “aku juga ikut”. Tapi semua itu cepat berlalu. Besok timeline ganti topik. Orang-orang pindah ke tren lain. Kita ditinggal dengan sisa perasaan yang kosong.

Kalau hati kita terus dibiarkan lapar validasi, kita bakal capek sendiri. Ngerinya, akidah kita bakal tergadai tanpa kita sadari.

Rasulullah saw mengingatkan kita, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad)

Padahal akidah itu seperti pagar. Dia menjaga kita saat semua orang sibuk ikut arus. Dia bikin kita berani nggak ikut, tanpa merasa minder. Dia menolong kita berkata, “Cukup,” saat yang lain masih mengejar.

Sebagai remaja Muslim, kita bukan dituntut jadi sempurna. Tapi kita dituntut punya prinsip. Islam nggak melarang rasa cinta, tapi menjaga agar cinta nggak berubah jadi maksiat. Islam nggak mematikan masa muda, tapi melindunginya dari hal-hal yang merusak masa depan.

Budaya yang menyesatkan mungkin terlihat seru sekarang, tapi sering meninggalkan penyesalan nanti. Nggak semua yang rame harus kita ikuti. Nggak semua yang terlihat seru harus kita jalani.

Karena itu, yuk kita kenal Islam lebih dalam. Bukan cuma tahu larangannya, tapi paham alasannya. Bukan cuma ikut aturan, tapi mengerti tujuannya. Islam hadir bukan buat bikin hidup kita sempit, tapi justru biar hidup kita terarah.

Kalau iman kita kuat, FOMO nggak akan menguasai kita. Kita bisa tenang di tengah keramaian. Teguh di tengah tekanan. Dan tetap menjaga diri, akidah, serta masa depan—meski semua orang sedang ikut arus. Sehingga kita paham bahwa nilai diri kita nggak ditentukan oleh manusia, tapi oleh Allah.

Cinta, perhatian, dan perasaan itu fitrah. Tapi kalau nggak dijaga, semua itu bisa mengikis masa muda yang seharusnya produktif. Karena itu, yuk pelan-pelan kenal Islam lebih dekat. Biar hati kita tenang, langkah kita jelas, dan masa muda kita nggak habis cuma buat cari validasi yang nggak ada habis-habisnya. Daripada sibuk cari validasi, mending rajin ngaji. Yuk! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here