Buletin Teman Surga 307: Sang Pengukur Bumi

0
137

Sebuah nasihat dari Imam Syafi’ie untuk para penuntut ilmu tertuang dalam kitabnya yang masyhur, Diwan Imam Syafi’i. Isinya, kumpulan syair (puisi) imam madzhab ini yang sarat makna dan menggugah hati.

Salah satunya, “Barang siapa yang tidak belajar di waktu mudanya, bertakbirlah 4 kali atas kematiannya. Eksistensi seorang pemuda – Demi Allah – adalah dengan ilmu dan ketakwaan. Jika keduanya tidak ada padanya, maka tidak ada jati diri padanya.”

Nasihat di atas nampar pake banget dengan kebanyakan remaja saat ini. Rutinitas harian mereka nggak bisa dipisahkan dari gadget yang seolah dicangkok pada tangannya. Bangun tidur, buka HP. Niatnya “cuma bentar”, eh tahu-tahu udah 2 jam scroll nggak jelas. Dari video lucu, lanjut ke drama, lanjut ke gosip, lanjut ke hal-hal random yang bahkan kamu sendiri lupa barusan nonton apa.

Tapi anehnya, giliran buka buku atau belajar, baru 5 menit udah capek duluan, baru 10 menit udah pengen rebahan. Kebanyakan remaja sering bilang, “Aku pengen sukses,” tapi aktivitas hariannya lebih banyak jadi penonton daripada pelaku, lebih sering konsumsi daripada kontribusi. Parahnya, semua dianggap wajar bin normal.

Padahal, kalau kita mundur sebentar ke masa lalu, ada seorang remaja yang hidup tanpa WiFi, tanpa Google, tanpa segala kemudahan yang kita nikmati hari ini, tapi ilmunya bikin dunia takjub.

# Bukan Anak Biasa

Namanya Al-Biruni. Lengkapnya, Abu Rayhan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni. Lahir tahun 973 M di wilayah Khwarezm (sekarang sekitar Uzbekistan). Dari kecil, beliau bukan tipe yang puas dengan jawaban singkat. Kalau dikasih tahu sesuatu, dia nggak cuma menerima, tapi berpikir, bertanya, dan mencari tahu lebih dalam. Jiwa keponya nggak ada obat.

Di usia yang bagi kita sekarang masih sibuk cari hiburan, Al-Biruni justru sibuk mencari ilmu, dan bukan ilmu yang seadanya. Dia mempelajari astronomi, matematika, geografi, sejarah, bahkan farmasi—bukan satu bidang, tapi banyak. Istilah kerennya, polymath. Ini menunjukkan bahwa kehebatannya bukan karena “bakat instan”, tapi karena proses panjang yang serius dan konsisten.

Di titik ini, kita diingatkan oleh bait Imam Syafi’i: “Saudaraku, engkau tidak akan meraih ilmu kecuali dengan enam perkara: kecerdasan, semangat, kesungguhan, bekal, bimbingan guru, dan waktu yang panjang.”

Yang menarik, dia hidup di zaman yang serba terbatas. Nggak ada YouTube buat belajar, nggak ada mesin pencari buat menjawab rasa penasaran. Semua harus ditempuh dengan usaha ekstra. Pantang menyerah.

Satu hal yang membuat Al-Biruni berbeda dari kebanyakan orang: dia tidak puas hanya sekadar tahu, tapi ingin benar-benar paham. Salah satu kisah paling terkenal adalah ketika dia mengukur keliling bumi menggunakan metode ilmiah sederhana—tanpa satelit, tanpa teknologi modern, hanya dengan observasi dan perhitungan matematika.

Hasilnya mengejutkan, karena sangat mendekati perhitungan ilmiah modern saat ini. Hasil Al-Biruni: Radius bumi ≈ 6339 km. Sementara data modern yang didukung kecanggihan teknologi hasilnya: Radius bumi ≈ 6371 km. Selisihnya cuma sekitar 0,5% saja. Keren!

Ini bukan sekadar bukti kecerdasan, tapi bukti keseriusan dalam belajar.

Tidak berhenti di situ, Al-Biruni juga melakukan penelitian langsung ke India. Dia tidak hanya mendengar cerita atau mengambil kesimpulan sepihak, tetapi benar-benar mempelajari bahasa, memahami budaya, dan mengkaji keyakinan masyarakatnya secara objektif. Dari situ lahirlah karya penting Kitab al-Hind (Ensiklopedia India), yang menjadi referensi besar dalam sejarah. Dari sini kita belajar satu hal penting: dia tidak asal berbicara tentang sesuatu yang belum dia pahami secara mendalam. Nggak asbun.

# Kita Sibuk Scroll, Al-Biruni Sibuk Belajar

Kalau kita bandingkan dengan kondisi remaja hari ini, bedanya jomplang banget. Kita hidup di zaman yang serba mudah, akses ilmu terbuka lebar, tapi justru paling gampang terdistraksi. Kita merasa sibuk, tapi tidak jelas sibuk untuk apa. Waktu habis, energi terkuras, tapi hasilnya minim. Banyak aktivitas, tapi nggak produktif.

Imam Syafi’i mengingatkan dengan sangat tegas: “Aku mengadu kepada guruku tentang buruknya hafalanku, maka beliau menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Karena ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.”

Ini tamparan halus. Bukan cuma soal waktu, tapi juga soal apa yang kita isi dalam hidup kita. Terlalu banyak distraksi, terlalu banyak hal sia-sia, bahkan yang mendekati maksiat—semua itu pelan-pelan mematikan cahaya ilmu.

Berbeda dengan Al-Biruni yang menjadikan belajar sebagai gaya hidup. Dia tidak menunggu mood, tidak bergantung pada semangat sesaat, dan tidak menjadikan ilmu sebagai beban. Bahkan hingga usia tua, dia tetap menulis, meneliti, dan terus belajar. Baginya, ilmu adalah kebutuhan hidup, bukan sekadar kewajiban formal.

# Ilmu Bukan Sekadar Nilai

Yang sering dilupakan oleh remaja hari ini adalah tujuan dari ilmu itu sendiri. Dalam Islam, ilmu bukan sekadar alat untuk menjadi pintar, apalagi hanya untuk mengejar nilai atau pengakuan. Ilmu adalah jalan untuk mengenal Allah dan memahami kebesaran-Nya. Al-Biruni belajar bukan demi popularitas, tapi karena kesadaran sebagai seorang hamba yang ingin memahami ciptaan Rabb-nya dan berkontribusi dengan keilmuannya.

Ilmu membentuk cara kita memandang hidup: lebih tenang, lebih dalam, dan lebih dekat kepada Allah. Semakin luas ilmu seseorang, semakin ia sadar betapa kecil dirinya di hadapan Rabb-nya dan semakin besar dorongan kontribusi agar ilmunya bermanfaat untuk umat.

Di titik ini, kita harus jujur pada diri sendiri. Apakah kita ingin terus menjadi penonton yang hanya melihat orang lain berkarya dan sukses, atau menjadi bagian dari mereka yang bergerak dan memberi dampak? Hidup ini hanya sekali, dan setiap waktu yang terbuang tidak akan pernah kembali.

Sebagaimana diingatkan lagi oleh Imam Syafi’i: “Barangsiapa tidak merasakan pahitnya belajar walau sesaat, ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.”

Kalimat ini keras, tapi jujur. Pilihannya jelas: capek hari ini atau menyesal nanti.

Al-Biruni telah membuktikan bahwa satu orang bisa memberikan kontribusi besar bagi dunia jika dia serius dalam menuntut ilmu. Maka sekarang, pilihan ada di tangan kita: hidup tanpa arah yang menjadi kebiasaan atau mulai melangkah menuju perubahan.

Menjadi Generasi Al-Biruni

Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar, tetapi dari langkah kecil yang konsisten. Mulailah dengan mengurangi hal-hal yang tidak bermanfaat, membiasakan diri untuk belajar meskipun sedikit, dan melatih fokus di tengah banyaknya distraksi. Dari langkah kecil itulah perubahan besar akan tumbuh.

Siapa sangka, dari kamu yang hari ini masih sering menunda dan rebahan, Allah bisa melahirkan generasi hebat berikutnya. Generasi al-Biruni. So, keep learn, grow and never give up! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here