Paham ya gaes, dengan judul kita kali ini? Ya kita sih sering dengarnya, don’t judge book by the cover, alias jangan nilai orang dari buku-nya…. Eh salah hehe, dari penampilannya. Edisi kali ini kita mau ngenalin seorang legenda di Perang Yarmuk. Khalid bin Walid? Ow No! Khalid bin Walid juga istimewa, tapi kalo ini adalah musuhnya yang akhirnya jadi temanya Khalid, dia adalah George bin Todzira.
Dari namanya aja udah ketahuan kalo dia bukan berasal dari dataran Sunda, hehe.. maksudnya dataran Arab. Ya iyalah, dia memang awalnya panglima perang Bizantium. Tahu kan Bizantium? Bukan temannya Bi Ijah ya, wkwkw… Nggak, Bizantium itu nama lain dari Kerajaan Romawi kala itu. Di Perang Yarmuk si Goerge menjadi panglima Roma, sementara di pihak kaum muslimin dipimpin oleh Khalid bin Walid. Pertemuan di peperangan itulah justru awal mulanya si Goerge, jatuh hati ke Islam.
Hal itu terjadi tatkala sesaat sebelum perang dimulai, Goergo Todzira maju dan memanggil Khalid bin Walid, yang diceritakan kuda mereka berdua saling bersilangan kepalanya. Bukannya beradu senjata, Goerge malah melakukan dialog dengan Khalid, dan dialog tersebut bukan dialog kebencian. Malahan dialog antar peradaban, kalo boleh dibilang begitu. Sebab si Goerge bertanya soal keadilan Islam, dan dijawab dengan sempurna oleh Khalid.
Ada salah satu dialog atau tanya jawab dari Goerge ke Khalid, yang bikin George dengan hati yang tulus, akhirnya memutuskan memeluk Islam. Goerge bertanya kepada Khalid bin Walid: “Apakah orang yang hari ini memeluk Islam –wahai Khalid- sama pahala dan ganjarannya? Dijawab sama Khalid: “Iya, bahkan bisa jadi lebih utama”, jawab Khalid. Dengan nada heran, George kembali bertanya, “Bagaimana bisa ia sama dengan kalian, padahal kalian lebih dulu memeluk Islam?” Khalid pun menjawab: “Kami memeluk Islam dan berbaiat kepada nabi kami, di saat kami menjumpainya. Datang padanya kabar-kabar tentang kitab-kitab, lalu ia memperlihatkan tanda-tanda (kebesaran Allah) pada kami. …Adapun kalian, kalian belum pernah menjumpai apa yang kami jumpai. Belum pernah mendengar apa yang telah kami dengar berupa mukjizat dan hujjah. Kalau kalian memeluk Islam dengan tulus dan sebenar-benarnya, tentu lebih baik dari kami.”
Lalu George pun berujar: “Demi Allah, engkau berkata jujur, tidak menipuku, dan tidak berpura-pura padaku kan?” tanya George berusaha mendapatkan jawaban yang pasti. Khalid menjawab, “Demi Allah, aku telah berucap jujur padamu. Aku tidak berkepentingan apapun padamu atau salah seorang dari kalian. Sesungguhnya Allah menjadi saksi atas apa yang engkau tanyakan padaku.” Nah, jawaban tulus dan cerdas dari Khalid itulah yang membuat George makin yakin. Akhirnya si Goerge memutuskan syahadat, lalu Khalid mengajak ke tendanya. Menyediakan air untuknya bersuci. Kemudian George menunaikan shalat dua rakaat. [Sumber: – Tarikh al-Umam wa –ar-Rusul wa al-Muluk oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, jilid 3, halaman 398-400]
Banyak sekali teladan yang kita bisa ambil dari kisah tersebut, dari sisi si George maupun dari Khalid bin Walid sendiri. Dari sisi Goerge, kalo kita mau jujur siapapun yang punya kecenderungan hati dan akal pada kebenaran, pasti tidak akan bohong bahwa Islam memang ajaran yang benar. Goerge yang panglima perang aja, bisa luluh dengan penjelasan singkat dari Khalid bin Walid tentang Islam. Dan kisah-kisah seperti itu, di masa-masa sebelumnya pernah terjadi.
Kalo man-teman masih inget bagaimana kisahnya Abu Jahal dan Abu Lahab yang secara diam-diam bersembunyi mendengarkan bacaan Al-Qur’an kala itu. Padahal permusuhan mereka terhadap Islam, nggak tanggung-tanggung, bahkan sampe mengancam membunuh Rasulullah SAW. Tapi kalo mereka berdua jujur, kecenderungan hati yang pada kebenaran, nggak bisa mereka bohongin. Sampe akhirnya aksi mereka ketahuan, dan mereka janji nggak lagi ngelakuin aksi dengerin bacaan Al-Qur’an, karena kalo masih dengerin, mereka sendiri yakin, bakalan kepincut masuk Islam.
Nah, jadi sesangar atau seserem apapun rupa bahkan karakternya seperti para Abu-abu itu, bahkan Umar bin Khatab pun bisa juga luluh dengan sLurat Thoha. Itu menandakan, Islam ini memang dienullah, Allah sendiri yang menjaganya. Siapapun yang hendak melawannya, bakalan percuma, malah yang terjadi, Allah sang pemilik hati, bisa membalikkan hati untuk memeluk Islam.
Kembali ke soal Goerge tadi, bahwa masuk Islamnya Goerge menjadi pukulan bagi pasukan Romawi saat itu. Hal itu persis apa yang pernah dialami Khalid bin Walid yang sebelumnya menjadi Panglima pasukan Romawi, bahkan pasukannya berhasil mengalahkan pasukan Islam, tapi tak lama berselang, malah Khalid bin Walid yang datang dan memeluk Islam.
So, gaes pelajaran pentingnya. Kalo orang-orang di luar Islam saja bisa sebegitu takjub, dan sebagiannya berani memeluk Islam, lalu pertanyaan pentingnya, gimana dengan kita yang berislam sejak lahir? Tentu kita nggak boleh keok dalam perjuangan mempertahankan Islam ini. Kita kudu jadi generasi yang PeDe dengan Islam kita, jangan malah minder bin insecure. Yakinlah orang-orang di luar sana masih banyak yang butuh pencerahan, sebagaimana George bin Todzira, dan tugas itu ada di pundak kita, generasi muslim hari ini. Yo’ gaskeun dakwahnya, Gaes! []














