Buletin Teman Surga 177. Apa Kabar Generasi Covid?

0
930

Kabarnya, kasus covid saat ini sudah mulai mundur alon-alon. Berbagai kegiatan perlahan sudah kembali normal. Termasuk dalam dunia pendidikan. Pelan tapi pasti, sudah mulai banyak sekolah yang kembali tatap muka. Meski tetap dengan standar protokol kesehatan yang ketat loh, ya. Jadi gimana kabar generasi covid, nih? Seneng atau seneb dengan perkembangan info terbaru ini?

Habits Baru

Sudah hampir dua tahun ya kita hidup dalam ketidaknormalan tersebab corona. Dulu, awalnya kita agak nolak dengan pola baru yang harus dijalani. Harus “di rumah aja” dan semua serba daring, ini sungguh menjadikan kepala nyut-nyutan. Bosan, bete, kesel, dan seabreg ketidaknyamanan lainnya. Ngerasa gitu juga, kan?

Sekarang bagaimana? Justru jadi betah belajar daring dari rumah. Menghadiri berbagai kegiatan tanpa harus melakukan perjalanan. Sudah asyik bersahabat karib dengan HP yang setia membersamai selama 24 jam. Sudah nyaman dengan keriuhan dunia maya tanpa harus bertatap muka. Apakah kita sama?

Hehehe! Wajar aja sih begitu. Hampir dua tahun kita menjalani pola tersebut. Maka alami jika kemudian menjadi habits atau kebiasaan baru dalam hidup kita. Ketika gema ajakan kembali hidup normal digalakkan, kitanya jadi ogah-ogahan. Betul begitu?

Ya, memang terasa simpel untuk berbagai urusan semenjak corona melanda. Terutama bagi para pelajar kayak kita. Pasti banyak banget cerita di balik kamera, kan? Ikut proses pembelajaran tanpa mandi, ada? Masuk ruang belajar online tapi matiin kamera karena sambil rebahan, ada? Belajar serius di depan kamera tanpa seragam lengkap. Cukup bagian atas doang yang seragaman, bagian bawah mah bebas. Ada juga yang begini? Bagi yang senyum-senyum pasti pernah jadi pelakunya. Segera istigfar ya, Guys! Hehehe!

Sadar enggak sadar, fenomena corona memang mengubah segalanya. Termasuk kebiasaan kita.  Gawatnya, semakin kental pada diri sikap individualis dan masa bodoh dengan lingkungan. Dunia seolah sudah cukup dalam jaringan saja. Interaksi dan ekspresi cukup dengan emoticon di layar HP. Kita menjadi lebih nyaman dengan kesendirian daripada bertemu dengan banyak orang. Ngerasa demikian? Hati-hati, ini merupakan habits baru yang sungguh meresahkan, Guys! Mestinya harus segera dienyahkan!

Corona Melanda, Takwa Tetap Di Dada

Corona boleh memporak-porandakan pola hidup normal kita. Tetapi kita sebagai muslim, harus tetap mendekap takwa. Apapun kondisinya, online ataupun offline aktivitasnya, ridha Allah SWT adalah tujuan yang utama. Ini penting banget!

Takwa melahirkan kesadaran bahwa Allah Swt selalu ada di segala situasi dan kondisi. Sehingga dengannya, kita akan terhindar dari aktivitas yang sia-sia. Lebih penting lagi, kita akan terhindar dari perbuatan dosa. Maasyaallah!

Jika takwa selalu bersarang di dada, ridha Allah SWT jadi priorotas utama, maka dipastikan tidak akan ada drama dalam kamus hidup kita. Hidup akan terasa lebih hidup, bersemangat, dan bergembira. Hari-hari kita akan terisi dengan amalan terbaik, bukan amalan yang sekadarnya.

Memang tidak mudah menjadikan takwa terus bersarang di dalam jiwa. Butuh kerja keras dari diri kita. Karena hakikatnya takwa itu bukan warisan yang ada begitu saja. Melainkan harus diusahakan bahkan diperjuangkan. Untuk dunia saja butuh berjuang, apa lagi untuk surga, kan?

“Lantas bagaimana caranya agar istikomah dalam perjuangan tersebut tanpa lelah? Karena jujur, berjuang untuk terus memupuk takwa itu tidak mudah. Godaannya banyak banget bagi anak muda. Enak-enak lagi godaannya. Aduhai! Hiks!”

#TemansSurga juga merasakan hal yang serupa? Tenang, kita bakal selesaikan bersama. Enggak mungkin Allah SWT menyuruh hamba-Nya untuk takwa, kalau takwa itu enggak bisa ditaklukkan. Jika Allah SWT sudah perintahkan, maka yakin saja bahwa kita pasti bisa menunaikannya secara sempurna. Ya, sesuai dengan kehendak-Nya. Sip, ya!

Hal pertama yang harus kita lakukan adalah luruskan niat. Jangan sampai niat kita ternodai. Ingat, bahwa takwa kita semata lillah. Bukan karena makhluk. Maka, apapun yang kita hadapi dalam perjalanan meniti takwa tidak akan pernah mengganggu hati. Dipuji tidak membuat hati tinggi. Dihina tidak akan membuat hati kita terhina. So, bakalan mulus deh jalan takwa kita jika semua karena-Nya.

Kedua, terus upgrade ilmu kita tentang agama. Islam itu sempurna. Mengatur seluruh aspek hidup kita. Mulai dari aqidah hingga syariah. Mulai dari urusan bangun tidur sampai bangun Negara. Mulai dari perkara masuk toilet sampai perkara masuk surga. Semuanya diatur dalam islam. Keren banget, kan? Ibarat kita jalan-jalan ke suatu tempat yang jauh, dikasih peta yang sangat detail. Bahkan disediakan tiketnya. Dipilihkan kendaraan terbaiknya. Ditemani pula sama pemandu wisata yang sudah berpengalaman dan tahu banget seluk-beluknya tempat tersebut Pokoknya kita mah tinggal nurut dan manut, maka sampailah kita di spot-spot terbaiknya tempat tersebut. Enak aja atau enak banget, tuh?

Nah, begitulah Allah SWT berikan fasilitas untuk kita meniti jalan menuju surga. Melalui syariah-Nya yang telah Rasulullah SAW wariskan pada kita, yakni Alquran dan Assunnah, Allah SWT inginkan jalan kemudahan bagi kita. Masalahnya, seringkali kita tidak memahami apa yang Allah SWT mau. Kenapa tidak paham? Karena kita tidak belajar. Di sinilah pentingnya kita belajar lagi dan lagi tentang agama kita. Tidak cukup bagi kita hanya mencukupkan pemahaman agama di mata pelajaran PAI saja.

Harus bin wajib bagi kita mengalokasikan waktu untuk belajar islam secara kaffah. Agar kita dapat mengamalkan syariat islam juga secara kaffah. Bukan gaya-gayaan atau sok-sokan mau dibilang alim ya, Guys. Ini semua kita lakukan semata karena taat kepada Allah SWT.

DIA yang memerintahkan manusia untuk masuk islam secara menyeluruh (kaffah). Maka wajib pula bagi setiap muslim untuk mengkaji islam menyeluruh. Sebab suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu menjadi wajib. Artinya mengamalkan islam secara kaffah itu wajib dan tidak akan sempurna kecuali dengan mengetahui ilmunya, maka mempelajari ilmunya menjadi wajib. Paham ya, Guys!

Allah SWT. Berfirman:

”Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”

(QS. Al-Baqarah 2: 208)

Ketiga, Pastikan memiliki mentor. Dalam memahami islam kita tidak boleh membawa perasaan ataupun akal-akalan sendiri. Harus ada mentor atau guru yang membersamai. Mentor inilah yang nantinya akan membangun dan mengarahkan pemahaman kita. Mentor juga yang akan setia membersamai kita meniti jalan takwa. Seterjal dan securam apapun jalannya, mentor akan tetap setia ada bersama kita. Memastikan jalan yang kita lalui tidak sedikitpun menyalahi titah Illahi. Nah, maka segera temukan mentor untuk jadi pemandu di jalan takwamu.

Keempat, bersama dengan komunitas. Jangan pernah sendiri dalam kebaikan. Sebab kebaikan yang sendiri, akan terkalahkan dengan kejahatan yang berjamaah. So, sangat penting bagi kita untuk bergabung dalam komunitas yang memiliki vibrasi ketakwaan. Teman-teman dalam komunitas inilah yang nantinya akan menguatkan saat kita lemah. Menyemangati saat kita sedang letih. Dan mengingatkan saat kita sedang terlupa. Kalau sudah punya lingkar teman seperti ini, dijamin jalan takwa tidak akan terasa sunyi. Ia akan begitu mudah untuk dilalui. Masyaallah!

Generasi Islam, Tidak Akan Pernah Tenggelam

Apa kabar generasi covid? Selama islam dalam dekapan, takwa jadi pegangan, maka apapun kondisinya kita tidak akan pernah tenggelam. Tetap tegap berdiri dalam prinsip yang pasti. Tidak lengah meski corona seringkali membuat jengah. Generasi islam adalah generasi yang siap menghadapi tantangan karena takwa telah ada di genggaman.

Apapun kondisinya Insyaallah tetap semangat. Tetap sehat. Tetap taat. Generasi islam tetap mempersembahkan amal terbaiknya meski dalam kepungan wabah corona. Gelora takwa kita enggak boleh ada matinya. Demi apa? Demi peroleh Surga. Sip, ya! []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here