Buletin Teman Surga 173. Jangan Salah Pilih Idola

0
990

Sekarang zaman udah serba canggih. Melalui teknologi, semua hal bisa terasa sangat dekat. Ingin tahu apa saja aktivitas sang idola juga gampang. Follow aja akun sosmednya, mbrudul deh itu segala kegiatan mereka. Bahkan, bukan hal mustahil kita bisa saling berbalas komentar di akun sosmednya. Terlepas apakah itu si idola sendiri yang pegang sosmed ataupun adminnya, tak jadi soal. Happy banget lah pokoknya.

Sosmed dengan sejagat tawaran gemerlapnya mampu menyulap siapa saja untuk menjadi idola. Enggak tanggung-tanggung, daya tarik sosmed ini juga mampu meciptakan para fans garis keras untuk sosok yang didesain menjadi idola. Setiap inci gerak si idola bisa jadi bahan untuk mengaduk-aduk emosi fansnya. Ujungnya, bisa banget mendongkrak cuan alias duit. Opss!

”Kok jadi nyasar ke masalah cuan, sih? Apa kaitannya?”

Erat banget kaitannya. Kita akan kupas tuntas di edisi kali ini. Siap, ya?!

Fenomena Menuhankan Idola

Ngeri ya judulnya? Tapi emang beneran ada, loh. Kebanyakan kitanya aja yang enggak nyadar atau kebanyakan dalih. Bukan perkara yang remeh, terkait menempatkan posisi idola ini harus serius diperhatikan. Sebab keberadaan idola di hidup kita bukan hanya soal seneng-seneng di dunia aja. Melainkan akan berpengaruh banget dengan nasib kita di akhirat. Makanya kudu super waspada!

Di zaman sekarang gampang banget bagi kaula muda menambatkan hatinya untuk sosok idola. Biasanya, sosok idola para remaja enggak jauh-jauh dari  rupa, popularitas, dan kekayaan. Asal ada salah satunya aja, udah deh bakalan buat banyak hati meleleh.

Apalagi jika ketiganya ada, udah pasti bakal dikerubuti dan diikuti. Apapun polah tingkah sang idola, pasukan fans garis keras akan selalu ada di garda terdepan untuk membela. Tidak lagi peduli benar atau salah. Pokoknya apapun yang berasal dari sang idola pasti benar. Perhatikan, bukankah ini sikap menuhankan idola?

Semakin miris ketika melihat kenyataan bahwa banyak remaja muslim yang turut larut dalam pusaran seperti ini. Tambah teriris lagi ketika beredar opini bahwa sang idola adalah sosok muslim panutan. Konon disebut keren dan hebat karena tetap berhijab meskipun menjadi brand ambassador dari salah satu aplikasi yang identik dengan goyangan. Patut untuk diikuti dan ditiru. Layak untuk dibela apapun gelagatnya. Wadidaw, bagaimana ini ferguso?

Begitulah zaman kita hari ini. Kemaksiatan dibungkus dengan baju Islam. Merajalela di mana-mana. Terkadang menjadi abu-abu, di satu sisi bagai isalmi. Tapi di sisi lain menabrak rambu-rambu illahi. Semisal berpakaian tapi telanjang. Tertutup rapat sih, tapi setiap lekuk tubuhnya terpampang tanpa filter. Contoh lain, interaksi dengan lawan jenis yang kebablasan. Emang sih enggak sentuhan, tapi tatap-tatapan, berdua-duaan, atau campur baur, ketawa-ketiwi tanpa peduli lagi dengan kehormatan sebagai muslimah. Apakah yang seperti ini layak dipanuti? Big no ya teman-teman!

Idola Dicipta Demi Kesenangan Dunia

Jika dulu setiap anak bercita-cita menjadi guru, dokter, polisi, dll, sekarang zamannya beda. Banyak anak masa kini yang cita-citanya lebih ingin jadi youtuber, selebgram, dan apapun itu yang penting terkenal. Kenapa? Karena banyak duitnya.

Kita tidak bisa menutup mata, memang begitulah faktanya. Di mana gaji seorang guru jauh lebih rendah dibandingkan gaji para artis. Penghargaan yang diberikan pun berbeda. Para artis peroleh panggung megah nan gemerlap. Disambut sorak-sorai penuh khidmat. Sedangkan guru, masih banyak yang berdiri di depan kelas dengan lantai beralas tanah dan atap yang hampir ambruk. Ini nyata, dear. Bukan rekayasa. So, wajar ya jika kemudian generasi muda kita lebih memilihi jadi artis?

Tapi tanpa disadari bahaya tengah mengintai kita dan segenap bangsa. Jika para remajanya larut terbuai dalam gemerlap dunia artis yang serba hura-hura, akan dibawa ke mana masa depan bangsa. Kita punya banyak SDA yang perlu dikelola demi kemakmuran bersama, dan itu semua tidak bisa diselesaikan dengan goyangan. Jika kita tidak ambil peran untuk kelola SDA negeri ini, maka Asinglah yang akan terus berkuasa. Hasil bumi kita mengalir ke negeri mereka, sedangkan negeri kita akan terus terlunta dalam kubang kemiskinan.

Sayangnya, justru industri entertain yang tumbuh subur di negeri kita tercinta. Berbagai support dan fasilitas diberikan. Dukungan jor-joran tanpa batasan. Tidak peduli lagi apakah membawa kebaikan atau keburukan. Asalkan bisa menghasilkan uang, apapun skenarionya akan dijabani. Semakin mengaduk emosi netizen semakin cakep. Semakin rame dibicarakan semakin keren. Kenapa? Karena semakin banyak uang yang didapatkan. Uang! Uang! Uang! Semua demi uang. Demi dunia. Nastagfirullah!

Cukuplah Allah SWT Sebagai Tuhan, Cukuplah Rasulullah SAW Sebagai Panutan

Dear #TemanSurga, edisi kali ini bukan dalam rangka nyinyir loh ya. Beneran, tulisan ini berangkat dari keprihatinan dengan arah gaya mayoritas remaja muslim Indonesia. Sedih banget ketika generasi Islam menjadi santapan empuk para kapitalis. Dijadikan mesin uang yang mengkayakan mereka segelintir orang. Sedangkan masa depan remaja sudah dipatri dalam kekang duniawi.

Padahal kita tahu, dunia ini fana. Apa yang akan kita banggakan jika hanya dunia tujuan kita. Dunia ini akan binasa. Begitupun dengan kita. Lantas apa yang akan kita bawa untuk menghadap pada-Nya? Apa perisai kita untuk sampai di keabadian yang membahagiakan? Please, mari kita pikirkan bersama.

Sebagai seorang muslim tidak semestinya kita turut larut dalam eforia ala Barat. Menjadikan manusia sebagai tuhan tandingan. Bahkan manusia yang diidolakan jauh lebih dipatuhi daripada Tuhan itu sendiri. Naudzubillah!

Dear, kita adalah muslim. Maka cukuplah Allah SWT yang menjadi Tuhan bagi kita. Tuhan yang kita sembah, bukan hanya dalam ibadah ritual. Tetapi dalam segala hal, apapun aktivitas kita adalah dalam menyembah-Nya. Beribadah kepada-Nya. Harus sudah jelas bagi kita, bahwa tugas sebagai manusia adalah menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. So, tidak ada ketaatan bagi kita kepada makhluk ketika itu dalam lingkar kemaksiatan. Catat!

Berbicara idola, maka cukuplah Baginda Nabi Muhammad SAW sebagai idola dalam hidup kita. Kepoin deh segala tentangnya. Cintai dan ikuti dia. Niscaya hidup kita akan mulia. Tidak hanya di dunia tetapi juga sampai di surga. Masyaallah!

Satu-satunya manusia yang layak menjadi panutan ya Nabi SAW. Bahkan Allah SWT yang langsung memerintahkan pada kita untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri teladan. Beliaulah manusia pilihan, teladan terbaik yang Allah SWT hadiahkan untuk kita. Lantas kenapa mesti cari-cari selain dia? Perbanyak istigfar yuk, Dear!

Memang tidak akan pernah ada manusia biasa yang sempurna. Tetapi kita memiliki pilihan untuk terus berproses menjadi manusia terbaik di mata-Nya. Setidaknya, jikapun kita mati maka kita mati dalam keadaan sedang belajar memantaskan diri menjadi penduduk surga. Maka semoga kitapun tercatat sebagai ahli surga. Amiin!

So, siap untuk geser ya, Dear. Pindah posisi pada sosok yang memang semestinya diidolakan. Jangan sampai salah pilih. Sip, ya!

”Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab:21) []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here