Buletin Teman Surga 174. Cowok Tulang Lunak?

0
746

Gaes, bukan yang pertama ya kita jumpai cowok bergaya kemayu kayak cewek. Jujur, kamu kalo ngeliat cowok yang begitu merasa kasihan, jijik, marah, atau malah senang? Wah, kalo sampe ada yang senang, menikmati dan sejenisnya, sepertinya si cowok tulang lunak ini berhasil membius otak waras kita untuk bisa menerima ketidaknormalan, bahkan ketidakbaikan terjadi di hadapan kita.

Aib Koq Bangga Sih?

Hari gini aib bisa jadi kebanggan lho? Eh beneran, nggak usah  disebutin deh namanya, man-teman udah bisa nebak sendiri siapa para cowok tulang lunak yang sering tampil di teve. Ketika mereka tampil ngelawak misalnya, biasanya akan langsung pecah suasananya. Dan anenhnya, ini bukan cuman urusan tulang lunak.

Bener, aib-aib yang lain juga bisa jadi kebanggaan, bahkan jadi sumber pundi-pundi. Sebut aja, aib sebenarnya bagi seorang wanita (muslimah) apalagi berhijab, tapi pada bangga berjoget di aplikasi Tik-tok. Berlenggak-lenggok, kadang campur dengan cowok. Lagi-lagi karena menghasilkan uang, karena jogetnya viral, dapat endorsan produk tertentu, lalu dipanggil tampil di teve.

Minimal malu lah, kalo aib itu disebarkan. Lha ini malah nggak ada malu-malunya, bangga sambil terus berjoget. Abis gitu kalo udah punya banyak follower atau fansnya, para fansbasenya pada marah kalo si cewek berhijab tapi goyang goyang ini dinasehati. Ngerasa sudah di atas angin inilah yang bikin mereka nggak mempan dinasehatin, padahal dia sendiri yang udah dengan sengaja menyebarkan aibnya.

Nah, soal cowok tulang lunak juga begitu. Akhir-akhir ini ada seseorang cowok tulang lunak viral di aplikasi jogat-joget itu karena dia memasang judul “berjoget dengan suami”. Wadidaw! Kebayang kan, seorang cowok berjoget dengan suami, yang notabene suami pasti cowok juga kan?! Dan, lebih mengejutkan, judul yang dia pasang itu bukan pemanis, tapi emang faktanya, dia bersuami seorang cowok. Mereka berdua, tinggal di Jerman. Itu artinya, mereka mendiklair bahwa mereka pasangan sejenis. Naudzubillah min dzalik.

Dari fakta di atas dan juga fakta serupa, man-teman jadi paham kan kenapa kita sebut “aib”? Iya, kita sebut itu aib, tentunya dari sisi pandang Islam. Bukan dari sisi pandangan masyarakat umum, bukan pula dari sisi pandang yang punya kepentingan bisnis. Sebab, kalo bagi yang punya kepentingan bisnis, tentu aja yang model begitu, bisa jadi industri.

Industri Keburukan

Hemm, nggak lebay kan kalo kita pake istilah “industri”? Karena emang kalo kita jujur, entah di teve ataupun di sosmed, keburukan atau aib itu emang sengaja diproduksi, lalu ditawarkan ke masyarakat. Nah, kalo masyarakat umumnya pada suka, indikasinya berupa viral atau rating tontonan itu bagus di teve, maka diteruskan atau dilanjutkan, jualan yang begituan.

Di teve misalnya, acara hiburan apa sih yang nggak hadir para cowok tulang lunak di situ? Kayaknya hampir semua deh! Kehadiran mereka di situ mulai dari pemanis, gimic, sampe memang peran utama. Anehnya, para penonton terhibur tanpa merasa jijik ataupun kasihan. Akhirnya, sikap diamnya kebanyakan orang di teve, di sosmed itulah yang seakan-akan jadi “pembenaran” bahwa yang nggak setuju, harus dipaksa menerima keadaan.

Sejak saat itulah, industri cowok tulang lunak, jadi “kebutuhan pasar”, bahwa setiap acara hiburan harus ada cowok tulang lunaknya. Mulai dari host acara, sampe acara lawak harus ada yang berperan itu. Bahkan bukan hanya berperan, di kehidupan nyata, nggak sedikit para cowok tulang lunak itu memang aslinya kemayu.

Entah itu mendalami peran -karena dia udah terlanjur membranding dirinya begitu-, ataupun memang faktanya dia bagian dari LGBT, seperti cowok di Jerman tadi. Apapun itu alasan atau faktanya, kedua-duanya tetaplah aib yang nggak layak dan seharusnya nggak diproduksi terusan-terusan dengan dalih “menghibur masyarakat”.

Kalo setiap orang, setiap media dibiarkan berdalih begitu, maka industri keburukan nggak dibendung lagi. Sekarang aja, ketika aib, kemaksiatan dan dosa diumbar di sosmed dan teve, mereka para pelaku itu sudah di atas angin. Apalagi kalo sampe ada pembiaran terus-terusan, negeri kita tercinta akan tenggelam dengan kemaksiatan. Ya Allah, astagfirullah!

Hati-hati Teman Gaulmu

Rasulullah saw ratusan tahun yang lalu telah berpesan agar berhati-hati memilih teman, karena teman itu ibarat cermin. Ketika kita bercermin, kita ngeliat bayangan kita ada di cermin. “Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Di hadist yang lain Rasulullah SAW menyitir:

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebenarnya Allah SWT pun juga sudah mengingatkan kita:

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (QS.At Taubah:119).

“Wah, kalo kita berteman hanya dengan orang baik, berarti kita membiarkan orang buruk untuk tetap dalam keburukannya dong?” Hemm, mungkin di antara kita ada yang kepikiran begitu. Ya, nggak ada salahnya berpikir begitu, tapi tetap saja ada yang harus dibenarkan dari pemikiran semacam itu.

Ambil aja contoh, kalo kita punya teman cowok tulang lunak, apakah lantas kita nggak berteman dengan dia? Tentu saja, kalo emang dia selama ini berada di circle kita, ya kita harus bantu dia untuk “kembali normal” jadi cowok. Di situlah justru hakekatnya berteman, yakni membuatmu menjadi benar bukan yang selalu membenarkanmu.

Nah, yang dimaksud memilih teman baik adalah kita punya pilihan ketika kita mau berteman akrab, maka akrabilah teman-teman yang bisa membawa kepada kebaikan (islam). Bukan malah memperbanyak teman yang membawa kepada keburukan. Adapun, sekali lagi jika ada di antara keburukan itu ada di teman kita, kewajiban kita sebagai temannya untuk nasehat menasehati dalam kebaikan.

Teman-teman kita yang barangkali ada yang jadi cowok tulang lunak, salah satu sebabnya karena mereka salah gaul. Lingkungan gaulnya bisa jadi karena teman yang serupa, atau barangkali teman gaulnya adalah para cewek, akhirnya dia kebawa sifat-sifat kecewekan yang gemulai. Kalo sudah seperti itu kejadiannya, bagi si dia, harusnya menarik diri dari lingkungan gaul seperti itu, lalu mencari lingkungan gaul yang sehat dan islami. Karena kalo menurut Islam, cowok nggak boleh bergaul bebas dengan cewek.

“Lalu, gimana persoalannya kalo yang membentuk dia jadi kemayu itu lingkungan keluarganya, yang notabene ibunya single mom dan saudara-saudaranya perempuan semua?” Nah, itu juga jadi soal tersendiri, walaupun sebenarnya dari si cowok itu bagaimanapun juga punya pilihan untuk tidak bersifat dan bersikap kemayu. Caranya, menyadari jati dirinya sebagai cowok, lalu meminta kepada ibunya untuk tidak memperlakukan dirinya sama dengan saudaranya yang perempuan. Kalo dia mau dan mampu memilih seperti itu, insyaAllah nggak bakalan jadi cowok tulang lunak.

Intinya, bagi kita cowok yang nggak pengin jadi ketularan cowok kemayu, maka jangan sekali-kali nyaman berteman di lingkungan yang atmosfir pergaulannya dekat dengan gincu, ay se dow, dan sejeninya. Jauhi, kalo nggak kepingin ketularan. Sementara bagi yang sudah ada indikasi atau bahkan sudah terlanjur tulangnya lunak, keluar lah dari zona nyaman itu. Jika kamu muslim, ingatlah bahwa perilaku itu dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya.

 

Dari Ibu Abbas RA, ia berkata, “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR Bukhari ). Dalam redaksi lain Nabi SAW bersabda, “Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, begitu pula wanita yang menyerupai laki-laki” (HR Ahmad)

Lawan, Kampanye LGBT!

Gaes, yakinlah bahwa pasti ada yang nggak suka dengan tulisan macam ini. Siapa yang kira-kira nggak senang dengan tulisan macam ini? Siapa lagi kalo bukan para pengagum, pembela dan bahkan pelaku LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender). Ini serius lho, bukan asal mencatut nama, karena faktanya emang kalo boleh dibilang “perang”, saat ini kita sedang perang antara kebaikan dan keburukan. Lebih khusus antara yang pro LGBT dan kontra.

Nah, kita yang muslim harus dengan tegas dan berani berada di pihak yang kontra dong! Bukan tanpa alasan, salah satunya karena hadits yang sudah kita kutip di atas, di samping ada alasan-alasan mendasar lainnya. Karena memang perilaku LGBT itu perilaku menyimpang. Perilaku cowok tulang lunak yang bagian kecil dari LGBT itu adalah “penyakit” masyarakat. Itu adalah dosa yang nggak boleh dibiarkan begitu saja.

Apalagi ketika hal tersebut sudah jadi industri, maka itu artinya dengan sengaja kemaksiatan dan dosa diorganisir dan dibisniskan. Padahal ketika Rasulullah SAW melarang menyerupai lawan jenis dengan diembel-embeli dengan kata “melaknat”, menurut Thabari dalam kitab Fathul Bari bermakna perbuatan itu haram. Nah, di sinilah pas banget kalo tadi kita sebut ini adalah arena peperangan Kebenaran Vs Kebatilan.

 

Perilaku LGBT ini memang harus dicegah dan dilarang, sekecil apapun celahnya. Karena Allah SWT berfirman dalam surah al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal…”, Nggak ada di situ dijelaskan, jenis kelamin yang ketiga. Artinya, kalo ada yang mengaku-ngaku memiliki jenis kelamin selain pria atau wanita, maka itu disebutnya penyakit, penyimpangan seksual.

Penyakit ini, nggak boleh ditolerir atau bahkan dimaklkumi, apalagi sampe harus dilindungi seperti yang sudah terjadi di negara-negara Barat. Sebab memang penyakit ini hanya akan menimbulkan kerusakan bahkan musnahnya jenis manusia. Gimana nggak kalo perilaku LGTB dibiarkan, nggak bakal ada yang mau nikah dengan lawan jenis, kalo nggak ada nikah berarti nggak ada anak, kalo nggak ada anak, punah lah keturunan manusia.

 

Perlaku LGBT adalah bertentangan dengan fitrah. Fitrahnya lelaki tertarik dengan wanita, dan sebaliknya, tapi ketika lelaki tertarik dengan sesama jenisnya, pun dengan yang perempuan. Ketika itu terjadi dan terjadi pembiaran, maka laknat kaum sodom yang pernah berlaku di masa Nabi Luth akan berlaku bagi kita.

“Dan (ingatlah kisah) Luth ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji, padahal kamu melihatnya?‘ (QS an-Naml [27]:54)

Naudzubillah min dzalik. []

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here