Bahagianya ketemu Bulan Ramadhan lagi. Meski masih ditemani suasana pandemi, puasa mah gak ada masalah dong. Lanjut terus. Apalagi kegiatan belajar sekolah lebih banyak dilakukan dari rumah, jadinya lebih leluasa untuk mendulang pahala selama puasa.
Hati-hati dengan godaan gaya hidup generasi rebahan. Sahur kesiangan gak bisa jadi alasan untuk tiduran seharian. Cuman bangun untuk tunaikan kewajiban. Pakai dalil kalo tidurnya orang puasa itu berpahala. Padahal mah udah bawaan orok tuh gampang tidur lupa bangun. Puasa gak puasa, tetep!
Ramadhan Bulan Nabung Pahala
Ini bukan bohongan lho. Kalo bulan Ramadhan selalu dinanti kehadirannya. Karena di bulan ini kita punya kesempatan guede banget untuk mendongkrak tabungan pahala kita. Coba simak cuplikan khotbah Rasulullah SAW menjelang bulan Ramadhan yang diriwayatkan Imam Ali R.A.
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat, dan maghfirah, bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malam di bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam yang paling utama.
“Lalu Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata: ‘Ya Rasulallah, amal apa yang paling utama di bulan ini.’ Rasul yang mulia menjawab, ‘Ya Abal Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah SWT”
“Inilah bulan yang ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah, Rab-mu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan saum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.
“Wahai manusia! Barang siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, dia akan berhasil melewati shiraatalmustaqim, pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Barang siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya dan membantunya di bulan ini, maka Allah akan meringankan pemeriksaannya di hari kiamat.
“Barang siapa yang menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murkanya pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa yang memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakannya di hari berjumpa dengan-Nya, dan barang siapa yang menyambungkan tali silaturahmi di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Dan barang siapa yang memutuskan silaturahmi di bulan ini, Allah akan memutuskan dia dari rahmat-Nya.
“Siapa yang melakukan salat sunat di bulan Ramadhan, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barang siapa yang melakukan salat fardu, baginya ganjaran seperti 70 salat fardu di bulan yang lain. “Barang siapa yang memperbanyak salawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barang siapa yang pada bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama dengan mengkhatamkan Al-Quran di bulan-bulan yang lain.“Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkan-nya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup maka mohonkanlah kepada Rab-mu agar tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar mereka tidak pernah lagi menguasaimu.
Banyak banget amal kebaikan yang berbuah pahala berlipatganda di bulan Ramadhan. Makanya sayang kalo kita cuman bengang-bengong kaya sapi ompong nunggu bedug magrib dipukul. Meskipun tidurnya orang puasa berpahala, tetep aja masih lebih baik ikut kajian online, tilawah qur’an, atau sedekah makanan berbuka pada yang puasa Ramadhan. Jadi, jangan biarkan Ramadhan cuman berakhir di pelaminan, eh peraduan. Rugi!
Teladan Ramadhan Para Shahabat
Sebaik-baiknya teladan kita dalam berperilaku mulia, tentu Rasulullah saw dan para shahabat. Seperti yang mereka tunjukkan saat Ramadhan tiba. Para Shahabat sangat menanti kedatangan Ramadhan setiap tahunnya. Kerinduan mereka, bak calon pengantin menantikan hari pernikahannya. Begitu menggebu.
Ketika memasuki bulan Ramadhan, para Shahabat makin greget. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khatthab menyambutnya dengan menyalakan lampu-lampu penerang di masjid-masjid untuk ibadah dan membaca Al-Qur’an.
Dan konon, Umar adalah orang pertama yang memberi penerangan di masjid-masjid. Sampai pada zaman Ali bin Abi Thalib. Di malam pertama bulan Ramadhan ia datang ke masjid dan mendapati masjid yang terang itu ia berkata, “Semoga Allah menerangi kuburmu wahai Ibnul Khatthab sebagaimana engkau terangi masjid-masjid Allah dengan Al-Qur’an.”
Sebagaimana nabi, dalam bulan Ramadhan mereka meningkat kedermawanannya. Pada bulan agung ini mereka semakin rajin bersedekah. Mereka melakukan demikian karena meneladani Rasulullah SAW yang digambarkan Ibnu Abbas, “Beliau lebih dermawan di bulan Ramadhan melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, Muslim). Bentuk sedekah yang sering diberikan mereka di bulan Ramadhan ialah: memberi makan dan menyiapkan buka (ta`jil) bagi orang-orang yang berpuasa.
Sahabat semisal Abdullah bin Umar RA, setiap kali berbuka, beliau selalu menyertakan orang miskin dan anak yatim. Anda bisa membayangkan betapa besarnya sedekah mereka di bulan Ramadhan. Apa yang mereka lakukan terinspirasi dari hadits nabi yang menyatakan bahwa orang yang menyiapkannya, akan diberi ganjaran tanpa mengurangi ganjarannya sedikit pun (HR. Ahmad, Nasai).
Hal lain yang dilakukan sahabat ialah tadarus al-Qur`an. Pada momen agung ini, mereka bersungguh-sungguh dalam membaca al-Qur`an. Utsman bin Affan misalnya, menyelesaikan bacaan al-Qur`annya setiap hari sekali. Abdullah bin Amru bin `Ash mampu mengkhatamkan al-Qur`an seharian (walaupun diperintah Rasul minimal tiga hari). Ada yang mengkhatamkannya selama tiga malam sekali, ada yang tujuh malam sekali, sampai ada juga yang sepuluh malam sekali baru bisa khatam. Itu semua menggambarkan betapa semangatnya mereka dalam membaca al-Qur`an demi meraih pahala berlimpah.
Agar Ramadhan Makin Produktif!
Kita bisa belajar banyak dari ’keperkasaan’ orang-orang yang tetep produktif walau puasa. Mereka bukan termasuk orang yang berbadan kekar seperti atlet binaraga. Bukan juga orang yang punya ilmu kekebalan tubuh. Atau turunan gatotkaca yang berurat kawat dan bertulang besi. Mereka sama seperti kita kok. Punya rasa lapar dan haus. Cuman mungkin, mereka lebih bisa mengendalikan nafsunya. Jadi nggak gampang tergoda untuk memanjakan dirinya. Mentang-mentang puasa, jadi lemah tak berdaya. Nggak lah yauw!
Padahal Rasul saw bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing ada kebaikan. Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah lemah.” (H.R. Imam Muslim)
Lantas, bagaimaan caranya agar kita bisa greget dalam beramal sholeh seperti para Shahabat?
Pertama, Bangun dan perkuat benteng akidah sebagai pertahanan untuk menaklukkan hawa nafsu. Karena hawa nafsu kalo nggak dikendalikan bisa menginjak-nginjak harga diri kita sebagai hamba Allah. Itu yang bikin kita lemah bin letoy. Seperti diingatkan dalam firman-Nya:
“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan”. (QS. Shâd [38]: 26)
Jalan yang paling pas untuk memperkuat benteng akidah adalah dengan mengenal Islam lebih dalam. Plus getol beribadah dan berdakwah. Biar lebih ngejoss, banyak deh bergaul dengan orang alim dan takwa agar keimanan tetep terjaga. Kalo keimanan kita udah tangguh, insya Allah hawa nafsu juga bakal ngeper. Fisik kita pun lebih siap ngadepin tantangan demi meraih ridho Allah swt. Nggak peduli meski badan tinggal tulang dan dosa. Yang penting, pantang menyerah meraih berkah!
Kedua, jangan ‘tidur’ melulu. Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengingatkan kita, “Manusia itu tidur, jika mati dia terjaga”. Artinya, selama hidup manusia kadang terlena dengan kenikmatan dunia. Seolah hidup cuman untuk bersenang-senang. Giliran ajal menghampiri, baru nyadar kalo kenikmatan dunia yang selama hidup dia kejar itu halu dan gak berbekas untuk kebaikannya di akhirat.
“Tidak ada seseorang meninggal, kecuali dia pasti menyesal,.“ Sahabat bertanya: “Apa yang dia sesalkan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Jika pelaku kebaikan, dia akan menyesal, mengapa dia tidak melakukan lebih banyak lagi kebaikan. Jika dia pelaku keburukan, dia akan menyesal, mengapa dia tidak sejak awal berhenti melakukan keburukan.” (HR. Tirmidzi).
Biar Ramadhan makin greget, jangan tidur melulu. Bangun dan kejar sebanyak mungkin pahala untuk bekal di akhirat.
Ketiga, coba renungkan, andai tahun ini Ramadhan terakhir kita. Tentu udah kebayang ajal di depan mata. Waktu untuk bertobat dan menabung pahala tinggal menghitung hari. Apa yang akan kita lakukan?
Sebagai seorang muslim, tentu bukan menghabiskan waktu bersama keluarga, menghambur-hamburkan harta, atau bersenang-senang selagi masih hidup. Tapi justru bakal jor-joran beramal sholeh selama Ramadhan. Dikejar waktu untuk menabung pahala dan mengejar ampunan-Nya untuk mengurangi dosa. Karena hanya ini kesempatan untuk mempersiapkan bekal akhirat yang berlipat ganda.
“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari, no. 6514; Muslim, no. 2960)
Seperti itulah harusnya yang kita tanamkan dalam diri kita setiap kali berjumpa Ramadhan. Biar Ramadhan selalu greget penuh ketaatan.
Nah, mumpung di bulan puasa, jangan sampe waktu terbuang percuma. Tunjukkin greget Ramadhanmu. Ikuti kajian online Ramadhan demi menimba ilmu. Luangkan untuk tilawah qur’an setiap waktu. Syukur-syukur bisa hatam 30 juz minimal satu kali selama Ramadhan. Sisihkan uang jajan untuk bersedekah.
Yang ini juga nggak boleh kelewat, shalat tarawih sebulan penuh. Dan tetep beraktivitas seperti biasa mesti porsinya dikurangi. Semoga Allah swt memasukkan kita dalam golongan mukmin kuat yang dicintai-Nya. Amiin. Meski puasa, tetep perkasa dan selalu greget mengejar pahala. Gak pake lama. Gas poll![]















