Buletin Teman Surga 276: Kamu Remaja, Mana Suaranya?!

0
2244

“Whoosh…!!!” Pas kita lagi jalan kaki, tiba-tiba ada motor dari belakang yang ngebut tanpa suara. Mentang-mentang motor Listrik. Pastinya kaget banget dong. Spontan terucap istighfar sebelum ngomel-ngomel nggak karuan. Wajar kan, karena bisa bikin celaka.

Nah beda cerita kalo si pengendara pencet klakson duluan. Kita jadi waspada. Saat gak nyadar jalannya di tengah, perlahan melipir ke pingir. Ngasih jalan, semua aman.

Klise sih, tapi ternyata bunyi klakson itu semacam cara simpel buat nunjukin: “Hey, gue di sini! Gue lagi jalan, tolong kasih ruang.”

Sama seperti kamu sebagai remaja. Perlu juga bunyiin klakson. Biar orang tahu kamu ada. Biar keberadaan kamu dihargai. Eksistensi itu penting, karena tanpa eksistensi, suara kamu nggak akan pernah didengar.

Tapi jangan salah. Eksistensi bukan sekadar viral, bukan cuma tampil gaya. Eksistensi yang bener itu tentang nunjukkin identitas, nilai, dan arah hidup kamu. Dan itu semua Allah tanamkan sebagai bagian dari fitrah kita sebagai manusia.

Jadi, jangan malu bunyiin klaksonmu! Bukan buat nyusahin orang, tapi biar kamu bisa jalan bareng kebaikan tanpa tabrakan. “Tin…tiiin….!”

# Ketika Remaja ‘Bersuara’

Di zaman sekarang, jadi remaja itu bukan sekadar tumbuh—tapi juga harus tampil. Suaranya harus kedengeran, eksistensinya harus terlihat. Makanya banyak yang berlomba bikin konten, ngejar viral, sampai rela pasang wajah kaget tiap lima detik cuma biar “fyp-able.” Ada yang rela jadi badut digital, asal dikenal. Ada yang update story tiap dua jam, asal dianggap eksis. Ya, wajar sih. Remaja emang lagi di fase nyari jati diri.

Nggak heran kalo eksistensi remaja saat ini identik dengan popularitas semata. Remaja sekarang berlomba-lomba ikut audisi nyanyi, dari yang lokal sampai nasional. Contohnya, audisi ajang nyari idola yang jago nyanyi di tahun 2025 diikuti ribuan peserta . Begitu juga dengan Good Talent dari sebuah produk permen anak-anak yang diikuti sekitar 8.000 anak dan remaja . Semua pengen tampil, pengen dikenal.

Suara remaja juga kerap terdengar saat mabar. Main bareng temen, seru-seruan, push rank. Tapi, sadar nggak sih, kadang kita terlalu asyik sampai lupa waktu? Survei Jakpat menunjukkan bahwa mayoritas Generasi Z di Indonesia menghabiskan waktu luang dengan menjelajahi media sosial. (BPS, GoodStats)

Suara remaja di dunia maya juga nggak kalah berisik. Emosinya gampang meledak bak sumbu pendek. Komentar pedas, hate speech, sampai cyberbullying jadi hal biasa. Data menunjukkan bahwa 45% remaja Indonesia mengalami kekerasan emosional, dan pelakunya bisa dari teman hingga orang tua sendiri. (suara.com)

Kalo suara remaja banyak terdengar di dunia hiburan atau ujaran kebencian, masih mungkinkah ada perubahan?

# Suara Kebaikan yang Tertelan Keramaian

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang makin bising, suara kebaikan makin jarang kedengeran. Coba deh buka beranda medsos kamu sekarang. Apa yang dilihat?

Konten viral yang isinya prank toxic, flexing nggak jelas, pamer pacar, atau drama perselingkuhan anak sekolah. Belum lagi celoteh sarkas dan gosip murahan yang selalu masuk FYP. Yang ngajak taat, ngajak shalat, atau ngajak mikir, malah tenggelam. Seolah nggak layak tampil. Ngenes.

Padahal ada banyak remaja yang diam-diam masih peduli. Mereka jadi panitia kajian di sekolah. Aktif ikut Rohis. Bikin campaign sosial. Ngumpulin donasi buat Palestina. Tapi suara mereka kayak dikubur algoritma. Jarang viral. Jarang masuk explore. Padahal justru suara mereka yang dibutuhin umat.

Sebuah laporan dari We Are Social & Kepios (2024) nyebutin kalau lebih dari 99% anak muda Indonesia usia 13–18 tahun aktif di media sosial, tapi cuma sekitar 4,7% yang menggunakan platform itu buat hal-hal positif seperti edukasi, dakwah, atau isu sosial. Sementara sisanya? Ya itu tadi—kebanyakan nyari hiburan, ikut tren, atau sekadar pengen viral.

* Nggak aneh kalau akhirnya suara yang keras adalah suara yang salah.
* Yang rame adalah yang receh.
* Yang viral adalah yang melanggar batas.
* Yang trending adalah yang maksiat.
* Yang lurus dan ngajak mikir, malah dibilang bosenin.

Di dunia nyata pun sama. Banyak remaja yang punya potensi besar—otaknya encer, energinya luar biasa—tapi malah disalurkan ke hal-hal yang salah arah. Mulai dari
Tawuran antar pelajar yang makin marak, bahkan sampai bawa senjata tajam.
(Data KPAI 2023: 258 kasus kekerasan fisik antar pelajar, didominasi anak SMP dan SMA). Hingga balapan liar dan konvoi geng motor yang meresahkan warga.

Belum lagi fakta miris yang dirilis data Kominfo & UNICEF (2023), 1 dari 3 remaja Indonesia mengaku pernah jadi pelaku atau korban cyberbullying. Sebagian besar kasus itu muncul karena konten negatif, debat gak penting, dan komentar nyinyir yang dianggap biasa di medsos.

Sementara itu, yang ngajak puasa Senin-Kamis, ngajak jaga jarak pergaulan dengan lawan jenis, ngajak jaga lisan—nggak kedengeran. Yang aktif di Rohis, sering malah disudutkan. Dicap anak alim, nggak gaul, terlalu fanatik. Padahal merekalah yang jadi benteng terakhir generasi ini. Suara-suara itulah yang seharusnya dikuatkan, bukan dimatikan.

# Bersuara untuk Perubahan: Eksistensi Sejati

Eksistensi sejati bukan tentang seberapa banyak followers atau seberapa viral kita. Tapi, seberapa besar manfaat yang kita berikan untuk orang lain. Gunakan suara kita untuk menyuarakan kebaikan, membantu sesama, dan menjadi agen perubahan.

Rasulullah ﷺ udah wanti-wanti soal pentingnya kita bersuara: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman.”(HR. Muslim)

Lihat tuh. Lisan kita —suara kita— itu alat perjuangan. Tapi kenyataannya, lisan hari ini lebih banyak dipakai buat ngejulidin temen, ngeluh di story, atau berisik di mabar. Kita bisa kok bersuara untuk hal yang lebih besar, lebih mulia, dan lebih berdampak.

Cuma masalahnya, masih dikit banget remaja yang peduli sama kondisi negeri ini dan umat Islam. Mayoritas lebih peduli ke jumlah likes daripada nasib generasi. Lebih semangat ikut challenge TikTok daripada ikut aksi sosial. Lebih antusias ngisi keranjang ijo daripada ngisi hati dengan ilmu. Sedih, tapi nyata.

Umat Islam hari ini bukan cuma krisis pemimpin, tapi juga krisis penyambung suara kebaikan. Dan sayangnya, kita terlalu sibuk jadi penonton bising ketimbang ikut jadi speaker perubahan.

Karena itu jangan remehkan suaramu, sekecil apa pun. Karena sejarah udah banyak nunjukkin, perubahan besar kadang lahir dari suara yang awalnya dianggap sepele. Dulu, Bilal bin Rabah bersuara lantang dengan kalimat “Ahad! Ahad!” di tengah siksaan. Suaranya mengguncang hati para sahabat dan jadi simbol keteguhan iman.

Kamu nggak harus langsung jadi penceramah terkenal atau influencer dakwah. Tapi mulai dari jadi the real influencer di lingkungan sekitarmu: ngajak temen shalat bareng, nyetop gosip, nyebar konten Islam di IG dan tiktok, atau ikut diskusi positif yang bikin otak makin cerdas, bukan cuma jadi penonton drama hidup orang.

Jadilah bagian dari remaja yang bersuara untuk bikin perubahan, bukan sekedar ikut keramaian. Berani speak up saat melihat ketidakadilan. Tunjukkan eksistensimu lewat jalan kebaikan. Karena suaramu begitu berharga, jangan dibuang sia-sia untuk hal receh tak berguna. Bunyikan klaksonmu! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here