Buletin Teman Surga 266: Kisah Cinta Dua Dunia

0
2491

“Cinta sejati tidak meminta balasan. Cinta sejati adalah ketika engkau mencintai Allah, meskipun tak ada yang tersisa kecuali Dia.” (Jalaludin Rumi)

Urusan cinta gak bisa dipandang sebelah mata. Karena rasa itu udah bawaan dari lahir nempel pada diri manusia. Sengotot apapun kita menafikan rasa cinta, tetep aja gejalanya bakal nongol tanpa notifikasi. Siapapun orangnya, pasti punya rasa cinta. Hanya cara mensikapinya aja yang lain. Beda server.

Kisah cinta shahabat nabi, menarik untuk diulik. Mereka hidup bersama Panutan kita bersama. Otomatis dong, ekspesi cinta mereka pun tak luput dari penilaian Nabi saw. Seperti kisahnya menantu tokoh quraisy munafik ini.

# Cinta Pengantin Langit

Hanzhalah bin Abu Amir adalah seorang pemuda yang dikenal akan keimanan, ketampanan, dan keberaniannya. Ia merupakan putra Abu Amir, seorang tokoh yang sangat menentang dakwah Rasulullah ﷺ, meskipun Hanzhalah sendiri menjadi salah satu sahabat Nabi yang teguh.

Hanzhalah jatuh cinta kepada seorang wanita cantik dan shalihah bernama Jamilah binti Abdullah bin Ubay, putri dari Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang tokoh munafik di Madinah. Meski Abdullah bin Ubay dikenal sebagai musuh dalam selimut terhadap Islam, Jamilah tidak mewarisi sikap ayahnya. Sebaliknya, ia adalah wanita beriman yang memilih Islam sebagai jalan hidupnya.

Hanzhalah dan Jamilah menikah dalam suasana penuh kebahagiaan. Malam pernikahan mereka menjadi momen yang sangat indah bagi keduanya. Cinta mereka begitu dalam, dan Hanzhalah sangat mencintai istrinya.

Namun, kebahagiaan mereka hanya bertahan semalam. Pada pagi setelah malam pernikahan, panggilan jihad untuk berperang dalam Perang Uhud dikumandangkan oleh Rasulullah ﷺ. Sebagai seorang Muslim yang taat dan pejuang sejati, Hanzhalah tidak ragu untuk memenuhi panggilan tersebut.

Meski ia baru saja merasakan malam pertama bersama istrinya, Hanzhalah tidak ingin ketinggalan dalam berjihad di jalan Allah. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan bersiap untuk pergi ke medan perang. Jamilah mencoba menahan Hanzhalah agar tetap tinggal, tetapi ia memahami kewajiban suaminya sebagai seorang Muslim.

Hanzhalah meninggalkan rumahnya dengan tergesa-gesa untuk bergabung dengan pasukan Muslim. Dalam kegiatannya yang terburu-buru, ia belum sempat mandi junub setelah malam pernikahannya.

Di medan Perang Uhud, Hanzhalah bertarung dengan penuh keberanian. Ia maju melawan musuh dengan semangat tinggi, mengorbankan dirinya demi mempertahankan Islam. Dalam pertempuran tersebut, ia berhasil melukai beberapa musuh sebelum akhirnya gugur sebagai syahid.

Setelah perang usai, Rasulullah ﷺ melihat sesuatu yang luar biasa. Beliau bersabda kepada para sahabat: “Aku melihat para malaikat sedang memandikan jenazah Hanzhalah di antara langit dan bumi dengan air dari awan di dalam bejana perak.”

Allah memuliakan Hanzhalah dengan mengutus para malaikat untuk memandikannya. Sejak saat itu, Hanzhalah diberi gelar Hanzhalah Al-Ghasil, yang berarti “Hanzhalah yang dimandikan.”

# Menjemput Kasih Sayang Sang Pemilik Cinta

Apa yang dilakukan Hanzhalah di malam pertamanya itu emang amazing banget sih. Setega itu meninggalkan istri tercinta pujaan hati yang baru saja dinikahirnya, demi menjemput kasih sayang Sang Pemilik Cinta. Setelah cinta dari perhiasan dunia telah didapatkan, tak ragu memenuhi panggilan jihad. Hingga berujung syahid di medan perang.

Kalo ngikutin hawa nafsu, pengennya berlama-lama berasyik masyuk dengan istri tersayang. Bisa jadi, Rasulullah saw pun ngasih dispensasi untuk Hanzhalah. Secara pengantin baru gitu lho. Tapi Hanzhalah tak mau dicap sebagai orang fasik alias orang yang nggak taat. Sebagaimana ditegaskan firman Allah swt.

“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah : 24)

Ternyata, tak hanya Hanzhalah yang rela meninggalkan cintanya kepada dunia demi menjemput kasih Sang Pemilik Cinta. Tapi mayoritas shahabat juga sama mulianya dengan mengamalkan nasihat Umat bin Khattab. “Barang siapa yang jujur dalam mencintai Allah, maka dia tidak akan pernah takut kehilangan apapun di dunia.”

Sebut saja Mushab bin Umair, pemuda tampan dan kaya raya yang rela meninggalkan kehidupan mewahnya untuk berjuang bersama Rasulullah saw. Ia menjadi duta pertama dalam Islam pembuka jalan hijrah ke Madinah yang menjadi cikal bakal berdirinya Negara Islam Adidaya.

Ada juga Sa’ad bin Abi Waqqas. Pemuda quraisy yang tegas memilih jalan Islam meski ditentang oleh ibunda tercinta yang melakukan aksi mogok makan. Namun Sa’ad dengan penuh rasa cinta berkata, “Wahai ibu, jika engkau memiliki 100 nyawa, dan setiap nyawa keluar satu per satu karena aku tetap beriman, aku tidak akan meninggalkan agamaku.”

Hal ini selaras dengan kandungan ayat dalam Surah Luqman (31:15) yang menegaskan bahwa cinta kepada orang tua tidak boleh mengalahkan ketaatan kepada Allah.

Dan masih banyak lagi kisah inspiratif lain dari para shahabat. Bagi kita, kisah cinta dua dunia mungkin gak sehitam putih para sahabat. Tapi entah kenapa, terkadang merasa berat untuk mengamalkan ketaatan kita pada Sang Pemilik Cinta.

Kita masih berat untuk mengalihkan hobi main game online sampai lupa waktu dan melalaikan kewajiban. Kita masih berat untuk meninggalkan euforia nonton konser music musisi idola yang campur baur laki dan perempuan.

Bahkan dalam urusan cinta pada lawan jenis, banyak yang diperbudak oleh hawa nafsu sehingga terjerumus ke dalam budaya pacaran yang menyesatkan. Apalagi menjelang perayaan hari maksiat sedunia pada pertengahan Februari, hubungan tanpa ikatan itu makin dipelihara dan menjadi-jadi. Ujung-ujungnya, rasa cinta mendekatkan pada perilaku orang-orang kafir. Ngeri!

Padahal, Allah Swt yang kita sembah, Rasullah saw yang jadi panutan kita, atau akidah Islam yang menghujam dalam dada kita, sama seperti Hanzhalah dan para shahabat. Tapi kenapa mereka begitu kuat memegang bara Islam, sementara kebanyakan kita mentalnya seperti kerupuk mentah yang dibanjur kuah seblak. Letoy.

Bisa jadi karena cinta kita pada dunia dengan segala keindahannya masih dominan dibanding kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Untuk itu, biar keimanan kita sekuat baja dan akidah kita sekokoh karang, jagain dengan selalu mengenal Islam lebih dalam. Itu yang dilakukan oleh para Shahabat.

Sehingga rasa cintanya pada ajaran Islam bukan kaleng-kaleng. Mereka rela berkorban untuk berjihad, berdakwah, dan istiqomah memegang ajaran Islam meski ditempa berbagai tantangan. Untuk itu, jangan pernah bosan untuk menghadiri majlis ilmu. Baik di dunia maya maupun dunia nyata. Sehingga kisah cinta dua dunia kita, tetap selaras.

“Jangan letakkan cintamu kepada manusia melebihi cintamu kepada Allah. Jika manusia meninggalkanmu, cintamu kepada Allah akan selalu menguatkanmu.” Ayo kita rajin ngaji tanpa tapi tanpa nanti. Gaskeun! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here