Buletin Teman Surga 172. Boleh Beda Asal Mulia

0
1007

Kesamaan jadi suatu keharusan. Inilah prinsip yang sering dipegang remaja saat menjalin persahabatan. Dalam banyak hal, remaja ngerasa harus bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman sebayanya agar diterima. Dalam teori komunikasi, kesamaan dalam berteman ini yang dinamakan dengan sebutan homofili.

Homofili pada remaja, membawa mereka pada pembentukan kelompok pertemanan (peer group) yang dibangun karena kesamaan hoby, minat, pola pikir, pola sikap atau status sosial. Biar lebih nyambung obrolannya. Biar lebih nyaman jalan bareng apapun aktifitasnya. Untuk itu, remaja akan berusaha ikut-ikutan apa yang dilakukan temannya. Dan kalo ada satu aja yang berbeda, dianggap nggak solider. Ujung-ujungnya, doi bakal dikucilkan, dijauhin, bahkan sampai dimusuhin. Waduh!

 Fase ‘Storm and Stress’

Dalam proses pencarian jati diri, remaja bakal dihadapkan pada banyak pilihan mau seperti apa atau dikenal sebagai siapa. Untuk itu, mereka akan mencari teman sebaya untuk memudahkannya dalam menentukan pilihan.  Teman yang bisa ngerti kegalauan mereka. Teman yang bisa jadi tempat curhat tanpa rasa sungkan. Teman yang bisa membantunya dalam mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapinya. Makanya, pertemanan bagi remaja itu suatu kebutuhan.

Meski nggak dipaksa harus sama, dalam pergaulan remaja ada tekanan teman sebaya yang gak bisa dipandang sebelah mata. Pengaruh teman sebaya cukup kuat ‘memaksa’ remaja untuk ngelakuin hal yang sama atau menghindari perbedaan.

Kalo temen-temennya hoby mabar, dia memaksakan diri menggandrungi game online biar gak jadi kambing congek saat teman-temannya asyik main. Kalo temen-temennya doyan jajan bin kulineran, dia harus siapkan lebih uang saku biar bisa ikutan. Kalo temen-temennya golongan anak band, dia mau gak mau mesti menyukai musik sesuai genre yang dibawain teman-temannya.

Ngerinya, kalo perilaku teman sebaya yang diikutinya justru mengarah yang negatif. Temennya ngerokok, dia coba-coba ngisep tembakau biar gak dikatain cupu. Temennya pacaran, dia kasak-kusuk cari gebetan biar gak dikasih label banci. Temennya tawuran, dia terjun juga ke ‘medan perang’ biar gak dianggap cemen. Temannya ngedugem, dia ikut-ikutan begadang  supaya kekinian. Demi pertemanan, terkadang harga diri dan prinsip hidup juga dikorbankan. Nah lho!

Di sisi lain, fase storm and stress juga mendorong remaja untuk berani tampil beda dengan identitas yang unik. Terkadang, kita ngeliat remaja yang pakai kaos kakinya beda motif, sepatunya kiri dan kanan beda model, atau warna baju dan celananya tabrakan. Tapi mereka cuek aja. Bilangnya lagi tren, padahal salah kostum. Gak masalah, yang penting bisa tampil beda demi menarik perhatian.

Di era digital, gaya remaja dalam menampilkan identitas uniknya keliatan banget dari postingan mereka yang viral di sosial media. Yang pinter nyanyi, bikin video cover lagu-lagu populer. Yang punya paras cantik, berlomba-lomba selfie imut bin unyu ala tik-tok. Yang suka dandan, bikin tutorial pakai kosmetik dari yang branded sampai yang pasaran. Yang doyan main game, bikin video saat lagi seru-seruan main game yang lagi nge hit. Semua dilakukan demi pujian, banjir love, serta panen folower dan subscriber.

 Tampil Beda Karena Iman

Sebagai muslim, kita diwanti-wanti untuk menjaga setiap perbuatan kita. Agar selalu menjadi amal sholeh bukan amal salah. Makanya, kita jangan sampai reaktif dengan ajakan teman sebaya. Cari tahu dulu ilmunya sebelum ikut-ikutan. Pake kacamata Islam buat menilai apakah suatu perbuatan itu boleh atau nggak dikerjain.  Lantaran setiap perilaku di dunia bakal dimintai tanggung jawab di akhirat nanti. Allah swt berfirman:

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak ketahui tentangnya. Sesungguhnya penglihatan, pendengaran, dan hati masing-masing akan dimintai pertanggungjawabannya.“ (QS. Al-Isra: 36)

Sering kali, keseharian kita sebagai remaja muslim yang selalu berusaha terikat dengan aturan Islam, keliatan berbeda di tengah lingkungan pergaulan remaja. Gimana nggak, ketika kebanyakan remaji pakai baju yang irit bahan dan mengumbar aurat, busana remaja muslimah justru tertutup rapat dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Ketika kebanyakan remaja terhanyut dalam budaya pacaran, remaja muslim justru menjaga pergaulan. Ketika mayoritas remaja ngabisin waktunya untuk main game online, nonton drama korea, nongkrong di cafe atau pinggir jalan, nonton konser musisi idola, atau sekedar window shopping, remaja muslim justru lebih banyak baca buku islam, hadir di pengajian, aktif berdakwah, atau terjun langsung dalam aksi kemanusiaan. Keliatan beda banget.

Kerennya, remaja muslim tampil beda bukan untuk menuai pujian. Apalagi demi mengejar kontent viral di sosial media. Bukan itu. Kita harus menjauhkan diri dari mental banci pujian. Karena kalo kita nggak pandai mensikapinya, sebuah pujian bisa jadi bumerang lho. Bisa melenakan dan potensi kita bisa habis terkikis. Kita sangat menghargai pujian, tapi bukan berarti itu tujuan dari perbuatan kita. Kecuali kalo pujian itu datang dari Allah swt. Pastinya, itu yang kita harapkan. Seperti diucapkan oleh Umar bin Khaththab r.a: “Ya Allah! Jadikanlah semua amalku sebagai amal shalih, dan janganlah Engkau jadikan amalku itu untuk seseorang sedikitpun”.

Tampil beda bagi remaja muslim murni karena landasan iman. Ikhlas karena Allah swt. Abu Qasim Al-Qusyairi menjelaskan “Ikhlas adalah menjadikan satu-satunya yang berhak ditaati dalam sebuah niat ialah Allah swt. Artinya, bahwa yang diinginkan dengan ketaatannya itu hanyalah untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah semata; tidak untuk dipamerkan kepada seseorang, mencari popularitas, atau ingin disanjung-sanjung.”

Pentingnya kita menjaga keikhlasan dalam berbuat, agar amal sholeh kita terjaga sampai akhir hayat. Kalo amal sholeh kita mengharapkan pujian teman atau banjir jempol dari netizen, bakal hangus semangat taat saat yang diharapkan tak kunjung didapat.

 

Tunjukkin Rasa Loe!

Sebagai remaja muslim, berani tampil beda mesti dibarengi dengan prinsip hidup sebagai pegangan biar gak gampang tergoda oleh gaya hidup sekular yang steril dari aturan agama. Berikut beberapa prinsip yang bisa kita jadikan pedoman saat bergaul.

Pertama, No compromize. Terikat syariat, setiap saat. Dalam urusan selera warna, makanan, atau musik kita boleh aja ngikutin temen. Tapi untuk urusan perbuatan, kita pakai aturan Islam sebagai standar. Kalo Islam sudah mengharamkan perilaku pacaran, gak usah capek-capek cari pembenaran. Kalo Islam sudah mewajibkan menutup aurat sempurna, ikuti aja biar diri kita mulia. Kalo Islam melarang perayaan tahun baru, valentine days, april mop, dan seabreg hari-hari besar agama lain yang dijadikan trending, jangan sungkan untuk nolak ajakan teman. Karena, kita sendiri yang bertanggung jawab atas perbuatan kita di dunia, bukan teman sebaya.

Kedua, Pahala Mindset. Hidup untuk ngejar pahala. Dalam keseharian, banyak aktifitas yang kita lakukan. Dari mulai bangun tidur, berangkat sekolah, pulang sekolah, main bareng temen, ngerjain tugas, sampai ikut kegiatan sana-sini. Utamakan kegiatan yang mendatangkan pahala. Seperti ibadah sunah, puasa sunah, bantu orang tua, bersedekah, dll. Biar energi yang kita keluarkan berbalas dengan pahala yang kita dapatkan. Kalo teman ngajak main, pertimbangkan baik-baik. Bakal mendekatkan pada ketaatan atau kemaksiatan.

Ketiga, My Time, My Future. Manfaatkan waktu untuk membingkai masa depan. Waktu yang kita punya itu sangat terbatas. Kalo gak dipakai untuk aktifitas yang bermanfaat, bakal rugi dunia akhirat. Kebanyakan remaja menghabiskan waktunya untuk main dan ngejar kesenangan dunia. Seolah usianya bakal panjang dan masa depannya terbingkai indah dengan sendirinya.

Sebagai remaja muslim, kita diajarin untuk menghargai waktu. Sedapat mungkin, setiap waktu yang kita gunakan itu bernilai positif yang mendatangkan pahala, menambah ilmu, dan mendekatkan kita pada impian masa depan. Gak papa dibilang kutu buku, kuper, kudet, dan sederet julukan baper lainnya lantaran gak mau ikut-ikutan hang out bareng teman. Yang penting, kita sadar dan mau ambil tanggung jawab untuk masa depan kita di dunia dan akhirat.

Keempat, Ngaji, sampai nanti sampai mati. Tak sekedar belajar baca qur’an yang benar dan tartil, tapi juga menengenal Islam lebih dalam. Inilah salah satu aktifitas yang membedakan remaja muslim dari yang lain. Ngaji setiap minggu untuk memahami bagaimana Islam mengatur setiap aktifitas kita dalam keseharian seperti cara bergaul dengan lawan jenis, mengelola rasa cinta tanpa maksiat, keutamaan menuntut ilmu, berbakti pada orang tua, mendongkrak semangat beribadah setiap saat, hingga bagaimana konsep negara Islam menyelesaikan masalah umatnya. Lengkap.

Aktifitas pengajian ini yang akan menjaga remaja muslim terikat dengan syariat, selamat dunia akhirat, dan selalu dalam ketaatan serta dijauhkan dari kemaksiatan. Imbasnya, akan berbuah kebaikan di lingkungan sekolah, lingkungan rumah, dan pastinya bikin bangga orang tua. Anak yang sholeh/sholihah jadi investasi akhirat bagi ayah dan ibu kita.

Kelima, Dakwah jalan hidupku. Tak cukup mengenal Islam untuk konsumsi pribadi, ada kewajiban bagi kita sebagai seorang muslim untuk ikut terlibat dalam aktifitas dakwah. Biar kita nggak egois bin individualis. Kalo remaja lain banyak menghabiskan waktu untuk ngurusin hobynya, kepoin timeline akun sosial media selebriti, atau berburu tiket konser musisi idolanya, remaja muslim menyibukkan diri dalam aktifitas amar makruf nahi munkar.

Driser, inilah beberapa prinsip yang membedakan kita dengan remaja lainnya. Berani tampil beda karena keimanan, bukan demi pujian atau pencitraan di sosial media. Inilah jalan kemuliaan yang kita tempuh selagi masih muda demi masa depan gemilang tiada dara. Boleh beda, asal mulia. Siap? []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here