Buletin Teman Surga 295: Ambil Kendali Masa Depanmu

0
632

Libur akhir tahun akhirnya resmi tamat. Alarm yang sempat kamu matiin berkali-kali sekarang bunyi lagi tanpa kompromi. Bangun pagi jadi perjuangan. Seragam yang kemarin cuma jadi pajangan lemari sekarang kembali dipakai. Jalanan pagi penuh wajah pelajar yang masih setengah sadar, setengah nyesel kenapa liburan harus berakhir.

Sekolah mulai lagi. Rutinitas balik lagi. Tapi jujur aja, yang sering kejadian itu cuma jadwal yang berubah, bukan cara hidup. Badan kamu udah duduk di kelas, tapi pikiran masih kebawa suasana liburan. Masih pengen santai. Masih pengen nunda. Masih mikir, “jalanin aja dulu.”

Padahal momen masuk sekolah setelah liburan itu bukan sekadar transisi waktu. Itu momen penting buat nentuin arah. Dan di titik ini, ada satu pertanyaan yang jarang banget ditanya remaja ke dirinya sendiri: siapa yang sebenernya lagi ngatur hidup gue sekarang?

# Liburan Boleh, Tapi Jangan Sampai Lepas Kendali

Liburan itu wajar. Istirahat itu perlu. Tapi yang sering kejadian, libur panjang malah bikin remaja kehilangan ritme hidup. Jam tidur acak-acakan. Waktu kebuang buat hal yang sebenernya gak ngasih nilai. Scroll lama, tapi kosong. Nongkrong sering, tapi gak tumbuh.

Awalnya santai. Lama-lama jadi kebiasaan. Dan pas sekolah mulai lagi, kebiasaan itu kebawa. Bangun males. Fokus gampang buyar. Ngerjain tugas nunggu mepet. Hidup dijalani sekadar “yang penting jalan.”

Padahal masa depan jarang hancur gara-gara satu kesalahan gede. Biasanya rusak pelan-pelan gara-gara hal kecil yang diulang terus: 1) nunda hari ini, 2) lalai besok, 3) nyaman lusa, 4) dan terus berulang

Sampai suatu hari sadar, waktu udah jauh jalan, tapi kamu gak kemana-mana.

Allah SWT sebenarnya udah ngasih peringatan keras tapi elegan. Bukan pakai nada marah, tapi pakai kalimat yang bikin kita mikir lama. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (TQS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini kelihatannya simpel. Gak pakai istilah ribet. Gak panjang. Tapi justru di situ letak “tamparannya”. Karena ayat ini langsung motong satu kebiasaan remaja yang paling sering kita lakuin: nunggu hidup berubah dulu, baru kita mau berubah.

Banyak dari kita pengen nilai naik, tapi masih males belajar. Pengen hidup lebih terarah, tapi kebiasaan lama masih dipeluk erat. Pengen masa depan cerah, tapi hari ini masih santai tanpa arah. Kita sering nunggu kondisi ideal datang dulu, nunggu mood bagus, nunggu disemangatin, nunggu keadaan mendukung, padahal Allah justru bilang sebaliknya.

Hidup kamu gak akan otomatis berubah Kalau kebiasaan kamu masih sama, cara mikir kamu masih sama, pilihan kamu masih sama, maka hasilnya juga bakal sama. Mungkin kelihatan sibuk, tapi sebenarnya muter di tempat yang sama.

Ayat ini juga ngajarin satu hal penting yang sering kita hindari: tanggung jawab pribadi. Bahwa hidup kamu bukan sepenuhnya salah lingkungan. Bukan sepenuhnya salah keadaan. Bukan sepenuhnya salah orang lain. Ada bagian besar yang ada di tangan kamu sendiri.

Dan jujur aja, ini gak nyaman. Karena lebih enak nyalahin keadaan daripada ngaca ke diri sendiri. Tapi justru di situ letak kedewasaan. Di saat kamu berani bilang, “Oke, ini hidup gue. Kalau mau berubah, gue harus mulai dulu berubah.”

Karena pada akhirnya, Allah sudah janji: perubahan itu pasti datang. Tapi kuncinya ada di tangan kamu.

# Ambil Kendali Itu Bukan Soal Langsung Jadi Hebat

Kadang remaja gak mau mulai berubah karena mikirnya kejauhan. “Kalau ambil kendali, berarti harus langsung rajin, pinter, alim.” Akhirnya berat di awal, terus gak mulai sama sekali. Jalan di tempat.

Padahal ambil kendali itu bukan soal langsung kelihatan keren. Tapi soal berhenti nyerahin hidup ke keadaan.

Ambil kendali itu: 1) mulai mikir sebelum milih, 2) mulai sadar mana yang bikin maju, 3) mana yang bikin mandek, 3) mulai berani nolak hal yang kelihatannya seru tapi bikin jauh

Misalnya, kamu mulai ngatur waktu tidur biar gak kesiangan. Mulai ngurangin scroll yang gak jelas. Mulai milih temen yang ngajak berkembang, bukan cuma ketawa. Mulai jujur sama diri sendiri soal kebiasaan buruk.

Kelihatannya kecil. Tapi di situlah setir hidup kamu mulai balik ke tanganmu.

Allah SWT berfirman: “Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (TQS. Al-Muddatsir: 38)

Cepat atau lambat, hidup ini bakal dimintai pertanggungjawaban. Jadi mumpung masih di bangku sekolah, mumpung masih ada waktu, ambil alih dari sekarang.

Masuk sekolah setelah libur panjang itu kesempatan emas buat reset. Bukan cuma reset jadwal, tapi reset cara hidup. Jangan biarin tahun baru cuma ganti kalender, tapi kebiasaan lama masih dipelihara.

Kamu gak harus langsung jadi versi paling rapi dari dirimu. Gak harus langsung rajin maksimal, gak harus langsung ngerti semua jawaban hidup. Tapi ada satu hal yang gak bisa ditunda-tunda lagi: kamu harus mulai sadar. Karena jujur aja, masa depan itu gak peduli kamu siap atau belum. Dia jalan terus. Setiap hari. Setiap jam. Dan setiap hari yang kamu lewatin tanpa arah, itu satu langkah yang gak bisa diulang.

Makanya, pegang setir hidupmu. Walaupun tangan kamu masih gemetar, walaupun arahnya belum sepenuhnya jelas. Arahkan pelan-pelan. Jangan biarin hidup kamu cuma digerakkan dari luar, diseret jadwal, ditarik tren, dipaksa keadaan, atau dibelokin pergaulan. Karena hidup yang cuma reaktif itu capek, dan sering kali bikin nyesel di belakang.

Tapi ingat, megang kendali hidup itu gak cukup cuma dengan niat baik. Kamu perlu kompas. Kamu perlu arah yang benar. Dan di situlah Islam punya peran paling penting. Ngaji itu bukan sekadar kegiatan tambahan. Bukan cuma buat yang “pengen alim”. Ngaji adalah cara kamu belajar melihat hidup dengan benar. Cara kamu ngerti mana yang penting, mana yang cuma kelihatan penting. Cara kamu tahu ke mana hidup ini seharusnya dibawa.

Ketika kamu mulai konsisten ngaji (walaupun pelan, walaupun sedikit) sebenarnya kamu lagi belajar megang setir dengan benar. Kamu belajar mengenal Allah, mengenal tujuan hidup, dan mengenal batasan yang justru bikin hidupmu gak kebablasan. Dari situ, pilihan-pilihan kamu jadi lebih sadar. Bukan asal ikut. Bukan asal nyaman.

Karena masa depan yang gemilang (baik di dunia maupun di akhirat) gak lahir dari hidup yang dibiarkan mengalir. Ia lahir dari remaja yang mau belajar, mau ngerti Islam lebih dalam, dan mau menjadikan iman sebagai dasar setiap langkahnya. Dan semua itu selalu dimulai dari satu langkah sederhana: mulai ngaji, dan konsisten menjalaninya. Tanpa tapi, tanpa nanti, sampai mati. Yuk! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here