Buletin Teman Surga 294: Ganti Tahun Atau Ganti Kiblat?

0
2378

Akhir Desember selalu datang dengan suara yang sama. Timeline penuh hitung mundur. Story WhatsApp ramai dengan rencana kumpul. Ajakan nongkrong muncul satu per satu. Ada yang bakar-bakaran, ada yang nunggu jam dua belas malam sambil merekam langit. Kembang api meledak, teriakan senang bersahut-sahutan. Seolah-olah, kalau kamu tidak ada di sana, kamu akan dianggap ketinggalan zaman.

Banyak remaja nganggep ikut tahun baruan itu hal biasa. Cuma kumpul. Cuma rame. Cuma bakar-bakaran. Nggak ada niat apa-apa. Tapi justru di situ letak bahayanya. Ada dosa yang datang bukan karena niat jahat, tapi karena meremehkan.

Akidah itu bukan mainan. Sekali goyah, dampaknya panjang. Dan salah satu cara akidah rusak adalah ketika seorang Muslim dengan santainya ikut budaya yang jelas bukan dari Islam, tanpa mikir, tanpa nanya, tanpa peduli arah.

# Ikut Budaya Luar Islam Itu Bukan Netral, Tapi Ganti Arah

Banyak remaja mikir, “Kan cuma ikut acaranya, bukan keyakinannya.” Kedengarannya aman. Padahal dalam Islam, meniru budaya yang punya akar keyakinan lain itu bukan perkara ringan.

Rasulullah SAW sudah ngasih peringatan keras: “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)

Kenapa sampai kita dilarang meniru-niru orang kafir secara lahiriyah? Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Keserupaan dalam perkara lahiriyah bisa berpengaruh pada keserupaan dalam akhlak dan amalan. Oleh karena itu, kita dilarang tasyabbuh dengan orang kafir” (Majmu’ Al Fatawa, 22: 154).

Hadits ini nggak lagi bicara soal gaya atau tren. Tapi soal keberpihakan. Soal identitas. Soal arah. Kebiasaan meniru budaya di luar Islam yang dilakukan terus-menerus akan membentuk rasa memiliki. Dari sekadar ikut, menjadi terbiasa. Dari terbiasa, menjadi bangga. Dan dari bangga, lahirlah identitas baru. Ganti kiblat.

Ketika seorang Muslim ikut merayakan pergantian tahun masehi yang lahir dari peradaban dan ritual agama lain, itu bukan sekadar ikut acara. Itu simbol. Dan simbol dalam Islam itu penting. Ia menunjukkan siapa yang kamu ikuti dan nilai siapa yang kamu agungkan.

Rasulullah SAW sendiri hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Di Makkah, beliau hidup berdampingan dengan kaum Quraisy yang penuh tradisi jahiliah. Di Madinah, beliau hidup bersama Yahudi dan Nasrani dengan budaya dan ritual masing-masing. Tapi satu hal yang tidak pernah beliau kompromikan: akidah dan identitas Islam.

Rasulullah SAW tidak pernah ikut ritual mereka, tidak pernah meniru perayaan mereka, dan tidak pernah membiarkan batas antara Islam dan kekufuran menjadi kabur. Bahkan dalam hal-hal yang kelihatannya kecil, beliau sengaja membedakan diri.

Contohnya, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang Yahudi dan Nasrani tidak mewarnai rambut mereka, maka berbedalah dengan mereka.” (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan satu prinsip penting: Islam ingin umatnya punya identitas yang jelas, bukan larut dan menyatu tanpa batas.

Para sahabat memahami prinsip ini dengan sangat serius. Umar bin Khaththab r.a. pernah memperingatkan kaum Muslim agar tidak masuk ke tempat ibadah kaum kafir saat hari raya mereka, karena khawatir hati ikut condong dan terpengaruh. Bukan karena benci manusia, tapi karena menjaga iman.

Inilah sikap para sahabat. Mereka hidup berdampingan, berdagang, bertetangga, bahkan bekerja sama. Tapi ketika menyangkut akidah dan perayaan, batasnya tegas.

Menolak perayaan tahun baru Masehi bukan berarti membenci orang lain. Tapi bentuk loyalitas pada akidah sendiri, sebagaimana Rasulullah ﷺ dan para sahabat mencontohkannya.

Islam sangat tegas tentang meniru budaya selain Islam karena akidah adalah pondasi. Kalau pondasinya retak, amalan apa pun di atasnya jadi rapuh. Ikut-ikutan tanpa paham, tanpa ilmu, tanpa sadar arah, itulah pintu awal rusaknya akidah.

# Akidah Itu Mahal, Jangan Digadai Demi Dianggap Gaul

Akidah bukan cuma urusan keyakinan di hati. Ia harus kelihatan dalam sikap, pilihan, dan penolakan.

Seorang Muslim yang bangga dengan akidahnya akan mikir seribu kali sebelum ikut budaya yang bertentangan dengan Islam. Karena dia sadar, akidah itu mahal. Lebih mahal dari gengsi. Lebih mahal dari pengakuan sosial.

Beriman itu selalu disandingkan dengan menolak. Menolak nilai yang bertentangan. Menolak simbol yang bukan dari Islam.

Masalahnya, banyak remaja justru takut dicap aneh kalau nolak. Padahal yang seharusnya ditakuti adalah ketika Allah murka karena kita meremehkan akidah.

Murtad itu bukan cuma soal keluar Islam secara lisan. Ia bisa dimulai dari pembenaran, pembiasaan, dan kebanggaan terhadap budaya yang bertentangan dengan Islam.

Kalau kamu rela ninggalin prinsip demi diterima lingkungan, itu bukan adaptasi, tapi pengkhianatan pada imanmu sendiri. Dan iman yang dikhianati terus-menerus lama-lama akan pergi tanpa pamit.

# Muslim Sejati Itu Tegas, Bukan Plin-Plan

Islam nggak ngajarin umatnya abu-abu dalam akidah. Jelas iya, jelas tidak. Tegas dalam keyakinan, santun dalam sikap.

Allah SWT berfirman: “Dan barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya.” (TQS. Ali ‘Imran: 85)

Ayat ini bukan ancaman kosong. Ini pengingat keras bahwa identitas Muslim itu eksklusif. Bukan karena sombong, tapi karena benar.

Kamu boleh hidup di tengah masyarakat majemuk. Tapi hatimu, sikapmu, dan arah hidupmu tetap harus tunduk pada Islam.

Kalau Rasul dan para sahabat saja tegas menjaga batas akidah di tengah masyarakat yang jauh lebih majemuk dari kita hari ini, lalu apa alasan kita yang hidup nyaman sebagai Muslim malah ragu menjaga identitas sendiri? Jangan sampai iman kita lebih lemah daripada tekanan sosial.

Menolak perayaan tahun baru Masehi bukan berarti membenci orang lain. Tapi bentuk loyalitas pada akidah sendiri.

Kalau hari ini kamu malu menolak demi iman, jangan kaget kalau besok imanmu benar-benar meninggalkanmu. Akidah nggak pernah pergi tiba-tiba. Ia pergi karena terus-menerus diabaikan.

# Akidah Itu Nyawa, Bukan Aksesori

Akidah itu nyawa seorang Muslim. Bukan hiasan. Bukan formalitas.

Sekali kamu remehkan, kamu sedang membuka pintu kehancuran yang panjang. Sekali kamu banggakan budaya selain Islam, kamu sedang memindahkan kiblat hidupmu sendiri.

Jadi sekarang pilihannya jelas. Mau ganti tahun sambil tetap jaga iman, atau ikut ganti kiblat demi dianggap eksis dalam pergaulan?

Seorang Muslim sejati lebih baik terlihat asing, daripada kehilangan akidah. Say No to Perayaan Tahun Baru Masehi! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here