Buletin Teman Surga 251. Awas, Gaul Bebas Makin Nge-Gas!

0
4188

Gaul bebas di kalangan remaja makin beringas. Layaknya hewan buas yang udah berhari-hari kelaparan, begitu ngeliat mangsa di depan mata langsung dilibas sampai puas. Itulah yang terjadi di daerah penghasil Marmer terbesar di Indonesia.

Dari data akumulasi 3.829 kasus pengidap HIV pada bulan Mei 2024, terungkap sebanyak 424 remaja di Tulungagung dengan usia 15-24 tahun positif terinfeksi HIV. Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tulungagung, Ifada Nurrohmania, menyebut 97 persen kasus HIV di Tulungagung disebabkan hubungan seks berisiko.

Hal yang sama juga terjadi pada kasus HIV/ AIDS di Jembrana, Bali yang menunjukkan tren mengkhawatirkan. Dalam lima bulan terakhir, tercatat ada 36 kasus baru. Tiga di antaranya merupakan remaja yang masih usia sekolah. Diduga, mereka tertular akibat pergaulan bebas dan seks bebas. (https://www.detik.com/bali, 26/06/24).

Sementara di kabupaten Blitar, berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) sejak Januari hingga Mei 2024 diketahui ada 11 orang positif sifilis. Mereka mayoritas berusia 18-19 tahun dan kemungkinan baru saja lulus SMA. Sifilis ini disebabkan oleh hubungan seksual tanpa pengaman dengan orang berpenyakit sifilis. Diduga, pergaulan bebas menjadi penyebab utama belasan remaja di Kabupaten Blitar mengidap sifilis.

Tak hanya di Tulungagung, Jembrana atau Blitar, bisa jadi kasus seks bebas remaja juga marak terjadi di kota-kota lainnya. Hanya belum terdata dan terungkap media saja. Karena Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pada 2017 mencatat usia remaja di Indonesia yang sudah melakukan hubungan seksual di luar pernikahan paling muda di rentang usia 14 hingga 15 tahun tercatat sebanyak 20 persen. Diikuti dengan usia 16 hingga 17 tahun sebesar 60 persen. Sedangkan di umur 19 sampai 20 tahun sebanyak 20 persen. Ngeri!

# Rasa Cinta Berbuah Petaka

Lagian apa sih emangnya makna cinta, kok ujungnya berbuah petaka. Bukankah Allah yang mengizinkan rasa ini bergemuruh di dada? Dalam Bahasa Arab cinta adalah ‘al-hubb’ yang bermakna benih. Namanya orang menanam benih, pasti akan dipilih benih terbaik agar mendapatkan buah yang baik.

Coba mari kita pikirkan bersama, apa ya mungkin benih yang baik bisa di dapatkan lewat jalan pacaran? Nampaknya agak sulit karena aktivitas pacaran biasanya akan senantiasa menampakkan yang baik-baiknya saja. Kadang kentut saja ditahan-tahan supaya doi nggak nyium baunya. Hal ini berbeda jika kita melakukan aktivitas taaruf (proses perkenalan sebelum menikah) justru kita harus memaparkan jawaban sebenar-benarnya tanpa rekayasa. Pertanyaan yang diajukan tidak ngalor ngidul, jelas seusai kebutuhan.

Menanam benih juga membutuhkan proses yang sangat serius dan istiqamah, tidak akan mungkin ditinggal pergi. Dari menyirami, memupuk, menghilangkan hama, dll. Apalagi kalau yang ditanam pohon kurma akan bertahun-tahun ngerawatnya, harus sabar. Kalau aktivitasnya pacaran, Apa mungkin jalan setiap hari ‘mbayari makan cewek kita sehari tiga kali?’ belum jajan dan kebutuhan lainnya; halah yang ada bangkrut (belum nanti kalau putus) nanti kalau udah putus nyanyi lagunya Denny Caknan ‘ngancani nanging ora iso nduweni…’ #duhpedihbangetdek.

Dalam aktivitas pernikahan memberi nafkah istri dan anak dari uang yang halal adalah aktivitas jihad yang sangat besar pahalanya. Meski susah akan tetap diupayakan, supaya anak istri memiliki energi full untuk beramal shalih. Istri akan menjadi orang yang qanaah dan tawadhu menerima berapapun harta dari suami sebab istri ingin menjadi orang yang sama-sama menjaga diri dan keluarga dari api neraka seperti pesan cinta Allah di QS. At-Tahrim:6

Itulah mengapa rasa cinta yang Allah titipkan di dalam dada harus diletakkan pada tempatnya, didudukkan sesuai dengan perintah-Nya. Betul memang kehidupan kita sehari-hari dari bangun tidur sampai tidur lagi sejatinya hanya memenuhi kebutuhan jasmani (makan, minum, tidur) dan naluri (naluri beragama: shalat, berdzikir); (naluri berkasih sayang: mencintai lawan jenis, rasa senang terhadap bayi, rasa sayang kepada orang tua); (naluri memertahankan diri: berprestasi, senang memimpin orang lain dll).

Tapi kita juga tidak boleh lupa Allah juga menitipkan akal, yang harusnya dengan akal itu kita mampu mengarahkan pemenuhan kebutuhan jasmani dan naluri bisa sesuai pada tempatnya. Akal yang lemah dan terbatas juga butuh dipandu oleh wahyu (alquran) agar dia tidak tercampur dengan hawa nafsu.

Bayangkan seandainya akal tidak digunakan untuk mengomando proses pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani, wah bisa beringas manusia. Cari makan saling rebutan, kalau suka sama lawan jenis langsung main berhubungan (eh kalau udah hamil nggak mau tanggungjawab); yang lebih parah berhubungannya sesama jenis lagi, naudzubillah.

# Agar Cinta Tetap Mulia

Lalu bagaimana Islam mengatur? Islam memberikan panduan yang sangat rigid. Misalnya kebutuhan jasmani adalah proses alamiah di dalam tubuh kita, rangsangannya dari dalam. Kalau dia muncul maka harus segera dipenuhi, jika tidak akan menimbulkan kematian. Orang kalau lapar ya silahkan makan (tak perlu menunggu sebulan). Rasulullah SAW juga mencontohkan adab makan dengan pencontohan yang sangat sempurna sehingga mari kita ikuti agar makan bukan sekadar mendatangkan kenyang, melainkan berbuah keberkahan dan semakin menambah ketaatan kita kepada Allah SWT.

Lain halnya dengan naluri. Naluri rangsangannya dari luar tubuh. Pemenuhan naluri tidak harus saat itu juga, ditunda bertahun-tahun juga bukan menjadi masalah. Buktinya di dunia ini orang nggak pacaran bertahun-tahun nggak bikin dia mati. Jadi, kalau jantung anda berdebar kencang ketika melihat lawan jenis. Hal itu penyebabnya bukan dari dalam tubuh, tetapi dikarenakan ada trigger eksternal. Anda berselancar di sosmednya, melihat fotonya, membayangkan karismatiknya (ya gimana nggak deg-degan kalau ketemu?)

Maka supaya Sobat tidak terjebak pada gaul bebas, tidak ada jalan lain selain meningkatkan ketakwaan individu Sobat di tengah alam liberalisme yang bikin orang makin beringas. Kemudian carilah kawan shalih yang siap saling nasihat menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Selanjutnya jangan lupa untuk dakwahkan indahnya Islam ini kepada Sobat yang lain, supaya semua orang sadar bahwa kerusakan ini sudah sistematik dan membutuhkan perbaikan di segala lini. Semua proses tadi akan mudah kita tempuh jika kita berilmu, maka mari mengkaji agar Allah turunkan cahaya untuk menyinari diri kita dan amal kita. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here