Kalo ngomongin tentang perasaan, emang abstrak gitu ya. Seabstrak dandanan unik bin nyentrik street fashion ala remaja ABG yang adu outfit di kawasan Sudirman – Dukuh Atas yang lagi viral. Warna atasan dan bawahannya tabrakan dengan cuek. Kacamata hitan segede gaban nutupin mukanya. Poni lempar berayun sana-sini bak wipper kaca depan mobil saat hujan. Lebay!
Bedanya dengan kaumnya Jeje, Perilaku hati itu gak keliatan. Tapi efeknya bikin kita galau saat cepat, sumringah saat gembira, nangis bombay saat sedih.
Dan yang unik, perasaan gak bisa ditebak. Mudah berubah dalam hitungan detik. Tergantung moodnya. Awalnya benci, seiring waktu berubah jadi bener-bener cinta. Seperti itulah yang dialami salah satu sahabat Nabi, Ikrimah bin Abu Jahal.
Bencinya Ikrimah Pada Rasullullah saw
Ikrimah berusia 30 tahun ketika Rasulullah mulai menyampaikan dakwah Islam secara terbuka. Ia adalah seorang bangsawan Quraisy yang dihormati, kaya, dan berasal dari keturunan ningrat. Kalaulah tidak terhalang oleh sikap ayahnya yang sangat keras menentang Islam, agaknya ia telah masuk Islam lebih awal, sebagaimana putra-putra Makkah yang berpandangan luas dan maju, seperti Saad bin Abi Waqqash dan Mush’ab bin Umair.
Ikrimah dikenal sebagai pemuda Quraisy yang gagah berani dan seorang penunggang kuda yang mahir. Ia memusuhi Rasulullah hanya karena didorong oleh sikap keras ayahnya yang sangat membenci beliau. Oleh sebab itu, Ikrimah turut memusuhi Rasulullah lebih keras lagi dan menganiaya para sahabat lebih kejam dan bengis, untuk menyenangkan hati ayahnya.
Sejak kematian ayahnya dalam Perang Badar, ia semakin memusuhi Rasulullah dan para sahabatnya karena dendam atas kematian ayahnya. Dan dendam itu ia lampiaskan dalam Perang Uhud.
Ketika Perang Khandaq meletus, kaum musyrikin Quraisy mengepung kota Madinah selama berhari-hari. Ikrimah bin Abu Jahal tak sabar dengan pengepungan yang membosankan itu. Lalu ia nekad menyerbu benteng kaum Muslimin. Usahanya sia-sia, bahkan merugikannya hingga ia lari terbirit-birit di bawah hujan panah kaum Muslimin.
Ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah), kaum Quraisy memutuskan tidak akan menghalangi Rasulullah dan kaum Muslimin masuk kota Makkah. Tapi Ikrimah dan beberapa orang pengikutnya tak mengindahkan keputusan itu. Mereka menyerang pasukan besar kaum Muslimin. Namun serangan itu dapat dipatahkan oleh Panglima Khalid bin Walid. Ikrimah melarikan diri ke Yaman lantaran takut dihukum mati oleh Rasulullah.
Cintanya Rasulullah saw Pada Ikrimah
Ummu Hakim, istri Ikrimah, menemui Rasulullah untuk meminta ampunan. Rasulullah memenuhi permohonan itu. Maka Ummu Hakim pun berangkat menyusul Ikrimahke tempat pengasingannya dan membujuk suaminya agar mau kembali ke Makkah karena Rasulullah telah mengampuni dan memaafkannya.
Ketika Ikrimah dan istrinya hampir tiba di kota Makkah, Rasulullah berkata kepada para sahabat, “Ikrimah bin Abu Jahal akan datang ke tengah-tengah kalian sebagai Mukmin dan Muhajir. Karena itu, janganlah kalian memaki ayahnya. Sebab memaki orang yang sudah meninggal berarti menyakiti orang yang hidup. Padahal makian itu tidak terdengar oleh orang yang sudah meninggal.”
Ketika Ikrimah dan istrinya memasuki majelis Rasulullah, beliau menyambutnya dengan gembira. Ketika Rasulullah duduk kembali, Ikrimah duduk pula di hadapan beliau dan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda keislamannya. Setelah itu, Ikrimah memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar Allah mengampuni dosa-dosa dan kesalahannya yang telah lalu. Rasulullah pun memenuhi permintaan Ikrimah itu.
Maka wajah Ikrimah pun berseri-seri. Kemudian ia berkata, “Demi Allah, ya Rasulullah. Tak satu sen pun dana yang telah saya keluarkan untuk memberantas agama Allah di masa lalu, melainkan mulai saat ini akan saya tebus dengan dengan mengorbankan hartaku berlipat ganda untuk menegakkan agama Allah. Dan tak seorang pun kaum Muslimin yang telah gugur di tanganku, melainkan akan kutebus dengan membunuh kaum musyrikin berlipat ganda, demi untuk menegakkan agama Allah.”
Sejak itu, Ikrimah menggabungkan diri ke dalam barisan dakwah sebagai anggota pasukan berkuda yang cekatan dan gagah berani di medan perang. Disamping itu, Ikrimah juga menjadi seorang ahli ibadah dan pembaca Alquran yang tekun di masjid.
Ketika terjadi Perang Yarmuk, Ikrimah maju berperang seperti kesetanan. Melihat tindakan nekat itu, Khalid bin Walid, yang menjadi panglima pasukan segera mengejar, “Ikrimah, kamu jangan bodoh! Kembali! Kematianmu adalah kerugian besar bagi kaum Muslimin.”
Namun Ikrimah tidak mempedulikan peringatan tersebut. “Biarkan saja, ya Khalid. Biarkan aku menebus dosa-dosaku yang telah lalu. Aku telah memerangi Rasulullah di beberapa medan peperangan. Pantaskah setelah masuk Islam, aku lari dari tentara Romawi ini? Tidak, sesekali tidak!” Kemudian dia berteriak, “Siapakah yang berani mati bersamaku?”
Beberapa orang segera melompat ke samping Ikrimah, kemudian menerjang ke depan, menghalau pasukan lawan yang terus maju. Akhirnya, walau korban berjatuhan, mereka berhasil memukul mundur pasukan Romawi dengan kemenangan yang gemilang.
Di akhir pertempuran, di bumi Yarmuk berjejer tiga mujahid Muslim yang terkapar dalam keadaan kritis yang akhirnya syahid. Mereka menderita luka yang sangat parah; Al-Harits bin Hisyam, Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan Ikrimah bin Abu Jahal.
Cinta Islam, Kuatkan dengan Ngaji
Dari kisah Ikrimah, kita bisa pahami bahwa tak ada alasan untuk membenci Islam apalagi Rasulullah saw. Ajaran Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam. Tak ada satupun aturan Islam yang bisa dinilai rendah seperti aturan kapitalis, sosialis, atau sekuler.
Begitu juga dengan kemuliaan pribadi Rasulullah saw. Tak ada satu celahpun dari perkatan, perbuatan maupun diamnya beliau yang patut dinilai hina seperti musuh-musuh Islam.
Kalopun kita ngerasa keberatan untuk jalanin aturan Islam, bisa jadi karena informasi yang kita terima tentang Islam masih setengah-setengah. Allah swt sudah ngingetin kita dalam firmannya:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS Al-Baqarah: 216)
Makanya, penting bagi kita untuk terus ngaji. Dan jangan lupa berdoa agar hati kita selalu Allah swt tambatkan dalam ketaatan. Yuk, Kenali islam lebih dalam. Tanpa tapi, tanpa nanti, sampai mati. []














