Buletin Teman Surga 194. Kata Kunci Untuk Idolamu: Takwa

0
470

Hallyu alias gelombang budaya Korea masih menjadi trend setter di kalangn remaja negeri +62. Bukan cuman drama televisi (K-Drama), musik (K-Pop), atau K-Fashionnya yang populer. Remaja juga keranjingan dengan litelatur, kuliner, kosmetik, dan bahasa negeri ginseng.

Dan kalo udah ngomongin budaya Korea, nggak pernah ketinggalan gosip seputar musisinya yang didominasi oleh boy band dan girl band yang menawan bin charming. Udah gak keitung jumlah artis K-Pop yang menjadi idola remaja. Bukan cuman NTC, Blackpink, BTS, EXO tapi juga para pendatang baru yang terus berseliweran menghiasi linimasa obrolan kpopers.

Dan ternyata, musik korea tak hanya menghasilkan lantunan musik easy listening atau gaya tariannya yang bikin penggemarnya histeris. Tapi juga menjadi kiblat, standar hidup, dan bagian dari pola pikir para fansnya. Sehingga melahirkan fans garis keras yang rela mati demi idolanya. Waduh!

Celebrity Worship

Fans K-Pop, terutama yang masuk kategori garis keras, dikenal sebagai kumpulan orang ‘ajaib’ yang akan membuat siapapun terpana dan tidak percaya. Sampai geleng-geleng kepala dan mengelus dada dengan perilakunya.

Pada linimasa tiktok ada yang nulis gini nih, “Semisal saya disuruh memilih pilih uang 5M atau tidur Bersama Taehyung 2 jam, saya jauh lebih memilih tidur sama Taehyung. Uang bisa dicari, tapi kesempatan tidur sama taehyung ga dating dua kali. Ah, halu”, what???? Demi apa mau-maunya kayak gitu?

Mereka rela melakukan apapun demi idola. Mereka juga bisa mendadak over powered gitu kalo idolnya dilecehkan. Emang nggak sampai berubah jadi naga atau vampired, tapi sikapnya di sosial media sangat ganas untuk membela idolanya.

Terlihat dari konflik penggemar NCT Dream yang menjadi pangkal Safa Space sehingga jadi trending topic di Twitter. Berawal dari cuitan yang dianggap sebagai hinaan pada salah satu artis idola, Safa diancam dengan berbagai hal, termasuk diseret ke meja hijau.

K-Pop Lebih dari sekedar melodi dan pecinta musik, ada keterikatan dan rasa saling memiliki yang terjalin antara fans dan idol. Sehingga melahirkan fenomena celebrity worship. Kedekatan antara idola dengan fansnya secara emosional di dunia maya dan dunia nyata.

Saking dekatnya, bisa bikin fans lupa diri sehingga terjangkiti toxic fandom. Perilaku penggemar budaya populer yang cenderung negatif dan tidak dapat diterima. Berbagai hal dilakukan demi idolanya, tanpa peduli dampaknya pada orang lain.

Perilaku toxic gandom ini bikin illfeel. Mulai dari bullying, hate speech, respons negatif yang masif pada budaya pop tertentu, dan menindas anggota fandom lain atau yang berseberangan dengan mereka. Toxic fandom juga termasuk perilaku antisosial seperti membuat ancaman pembunuhan, ancaman pemerkosaan, atau doxing (memublikasikan informasi pribadi seseorang). Ngeri!

Biar Gak Salah Pilih Idola  

Remaja punya idola itu normal kok. Bahkan remaja kudu punya idola alias role model sebagai bagian dari prosesnya mencari jati diri. Lantaran idola bisa jadi figur panutan remaja dalam berfikir dan berbuat.

Bagi kita sebagai remaja muslim, punya idola gak sekedar rasa kagum dengan suaranya yang merdu, parasnya yang menawan, atau skill olahraga yang keren abis. Tapi mesti punya karakter positif yang patut kita tiru. Baik perilakunya, maupun cara berpikirnya.

Makanya, dalam milih idola kita nggak neko-neko. Cukup satu aja syaratnya. Yang penting dia sholeh atau sholehah. Itu aja. Nggak ada yang lain.

Lantaran kalo sosok yang kita idolakan itu sholeh/sholehah, ada jaminan kebaikan yang bakal kita dapatkan. Nggak bikin pengagumnya lupa diri apalagi sampai terjangkit toxic fandom Nggak ada ruginya kita mencintai dan membelanya mati-matian. Karena kita, bisa jadi akan membersamainya di tempat kembali terbaik di akhirat kelak. Aamiin.

Rasulullah saw bersabda, dalam riwayat Shahih Bukhari, Anas bin Malik mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”

Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan; Itulah keutamaan orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang shalih, pelaku kebaikan yang masih hidup atau pun yang telah mati. Namun, kecintaan ini dilakukan dengan melakukan perintah Allah dan Rasul-Nya, menjauhi setiap larangan dan beradab sesuai yang diajarkan oleh syari’at Islam. (Lihat Syarh Muslim, 8/483)

Nggak kebayang deh nestapanya kita di akhirat kalo ngefans banget sama sosok idola yang non muslim yang jelas-jelas nggak pernah akan menginjakkan kakinya di surga. Emang ada yang mau dikumpulin di hari kiamat dengan para pelakuk maksiat dan atau orang-orang kafir di seburuk-buruknya tempat kembali? Jangan sampai deh!

Meski kita punya banyak pilihan untuk menjadikan orang lain sebagai idola, tapi jangan sampai pilih idola yang doyan mengumbar aurat, biasa bermaksiat, dan jauh dari perilaku taat. Apalagi sampai bikin fansnya lupa diri menggadaikan kemuliaan dan kehormatannya sebagai seorang muslim. No way!

Cukup Rasulullah saw sebagai sosok idola kita yang pertama dan utama. Lalu diikuti oleh para shahabat, para ulama, cendekiawan muslim, atau tokoh-tokoh pahlawan Islam. Satu kata kunci untuk pilih idola kita: takwa! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here