Awal oktober lalu seorang kartunis Swedia, Lars Vilks, yang membuat sketsa kepala Nabi Muhammad pada tubuh anjing telah meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.
Diwartakan BBC, Lars Vilks dilaporkan bepergian dengan kendaraan polisi sipil yang bertabrakan dengan sebuah truk di dekat kota Markaryd di Swedia selatan pada Minggu (3/10/2021).
Vilks, (75 tahun), hidup di bawah perlindungan polisi setelah menjadi sasaran ancaman pembunuhan atas kartun tersebut. Kartun yang diterbitkan pada 2007 itu, menyinggung banyak Muslim karena telah melecehkan junjungan kita Nabi Muhammad saw. Itu terjadi setahun setelah surat kabar Denmark, Jyllands-Posten, menerbitkan kartun yang menghina Nabi juga.
Selain Vilks, para penghina Nabi juga banyak yang mengalami hal yang sama. Mereka mungkin bisa lolos dari pengadilan manusia, tapi bagi Allah swt begitu mudahnya menghancurkan orang-orang yang telah melecehkan Rasul-Nya.
Kebayang kalo penghinaan terhadap Rasulullah saw itu terjadi pada masa para shahabat, para pelakunya nggak akan hidup tenang. Malah kalo mereka nggak segera bertobat, meminta maaf dan menarik publikasi kartunnya, bisa-bisa memicu jihad akbar dari seluruh kaum muslimin. Seperti terjadi pada masa khalifah Abdul Hamid II yang mengecam pertunjukkan teater yang akan menampilkan sosok Nabi Muhammad saw di Prancis.
Begitu besarnya kecintaan umat Islam pada baginda Nabi saw bukan cinta kaleng-kaleng. Cinta nabi, harga mati!
Keutamaan Cinta Nabi
Cinta Nabi bagi umat Islam itu bagian dari keimanan. Nggak heran kalo mereka rela mempertaruhkan hidupnya untuk membela Nabi Muhammad saw yang lebih dicintai dari orang tua, istri, anak, dan siapapun juga.
Allah swt berfirman, “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 69).
Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini turun terkait dengan kisah Tsauban bin Bujdad radhiallahu ‘anhu bekas budak Rasulullah saw. Ia sangat mencintai Nabi saw. Suatu hari ia menemui Nabi saw, rona wajahnya berbeda. Menyiratkan kekhawatiran dan rasa sedih yang bergemuruh.
Rasulullah saw bertanya, ‘Apa yang membuat raut wajahmu berbeda (dari biasa)’?
‘Aku tidak sedang sakit atau kurang enak badan. Aku hanya berpikir, jika tak melihatmu, aku sangat takut berpisah denganmu. Perasaan itu tetap ada, hingga aku melihatmu. Kemudian aku teringat akhirat. Aku takut kalau aku tak berjumpa denganmu. Karena engkau di kedudukan tinggi bersama para nabi. Dan aku, seandainya masuk surga, aku berada di tingkatan yang lebih rendah darimu. Seandainya aku tidak masuk surga, maka aku takkan melihatmu selamanya’, kata Tsauban radhiallahu ‘anhu.
Sebagaimana Tsauban, umat Islam berlomba-lomba untuk mencintai Beliau. Kecintaan kepada beliau akan menguatkan hati, menyejukkan jiwa dan memancarkan rona cahaya kebahagiaan pada diri kita. Sebaliknya bagi mereka yang tidak mencintai Nabi saw, bakal ngerasa galau tingkat dewa, jiwa yang hampa, dan hidup dalam kesempitan selamanya.
Dalam Zadul Ma’ad, Ibnul Qayyim rahimahullah, mengatakan, “Maksudnya adalah sekadar mana seseorang mengikuti Rasul. Setingkat itu pula kadar kemuliaan dan pertolongan. Sebatas itu pula kualitas hidayah, kemenangan, dan kesuksesan. Allah swt memberi hubungan sebab-akibat, kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan mengikuti Nabi. Dia menjadikan kesengsaraan di dunia dan akhirat bagi yang menyelisihi sang Nabi. Mengikutinya adalah petunjuk, keamanan, kemenangan, kemuliaan, kecukupan, kenikmatan. Mengikutinya adalah kekuasaan, teguh di atasnya, kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Menyelisihinya adalah kehinaan, ketakutan, kesesatan, kesengsaraan di dunia dan akhirat.”
Ekspresi Cinta Para Sahabat
Beragam cara ditempuh para generasi awal Islam, terutama para sahabat dan generasi awal tabiin, untuk berlomba-lomba mendapatkan barang pribadi Rasulullah SAW dan berharap keberkahan (tabarruk). Bahkan, tak sedikit yang berupaya mendapatkan secuil potongan dari fisik Rasulullah. Hal ini demi menunjukkan perasaan cinta mereka dan kesetiaan kepada pribadi agung tersebut.
Kisah yang pertama, yaitu ber-tabarruk dengan rambut Rasulullah SAW. Anas RA bercerita bagaimana para sahabat ber-tabarruk dengan rambut Rasulullah SAW. Menurut Anas, ia melihat tukang cukur sedang mencukur rambut Rasulullah SAW dan para sahabat mengitarinya. Para sahabat tidak menghendaki satu helai pun dari rambut Rasulullah terjatuh kecuali telah berada di tangan seseorang. (HR Muslim, Ahmad, dan Baihaqi).
Ada juga kisah dari Abdul hamid bin Ja’far yang mengatakan bahwa Khalid bin Walid kehilangan kopiah saat peperangan Yarmuk. Ia meminta untuk mencarikan kopiah tersebut, namun tidak ditemukan. Ia meminta mencarinya lagi, dan ternyata didapati berupa kopiah usang.
Lalu Khalid berkata sewaktu Rasulullah umrah, beliau mencukur rambut kepalanya, maka orang-orang berebut rambut beliau, dan ia bisa mendahului dan mendapat rambut ubun-ubun beliau. Lalu ia meletakkan rambut tersebut di kopyah miliknya. Saat berperang menggunakan kopiah tersebut Khalid pasti menang.
Kisah yang kedua, para sahabat juga ber-tabarruk dengan sisa air wudhu Rasulullah. Aun bin Abi juhaifah menceritakan dari ayahnya saat para sahabat ber-tabarruk dengan air sisa wudu Rasulullah. “Aku mendatangi Rasulullah sewaktu beliau ada di Kubah Hamra’ dari Adam, aku juga melihat Bilal membawa air bekas wudu Rasulullah dan orang-orang berebut mendapatkannya. Orang yang mendapatkannya air bekas wudu itu mengusapkannya ke tubuhnya, sedangkan yang tidak mendapatkannya, mengambil dari tangan temannya yang basah.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
Selain berharap tabarruk dari barang pribadi Rasulullah saw, kecintaan para shahabat juga ditunjukkan saat berperang bersama beliau. Seperti terjadi saat perang Uhud. Pasukan kaum Muslimin terdesak setelah para pemanah di atas bukit turun gunung dan tidak mengindahkan perintah Rasul karena tergoda dengan harta dunia. Melihat itu, Thalhah hanya berfokus mencari keberadaan Rasulullah SAW. Dari jauh Rasulullah SAW bercucuran darah, maka dia menerjang kepungan kaum kafir.
Dia meraih Nabi dengan tangan kiri dari lubang tempat kakinya terpesorok. Sambil memapah Rasul yang mulia dengan dekapan tangan kiri ke dadanya, dia membawa Rasulullah ke tampat yang aman. Sementara tangan kanannya mengayun-ayun pedang bagaikan kilat yang menyabet orang musyrik.
Walhasil, pada sekujur tubuhnya terdapat lebih dari tujuh puluh luka tusukan tombak, goresan pedang dan tancapan panah. Bahkan anak jarinya putus karena menghadang seorang tentara Quraisy bernama Ibnu Qamiah yang hendak membunuh Rasulullah saw.
Mereka mengira Thalhah sudah gugur. Ternyata masih hidup. Karena itulah dia diberi gelar “syahid yang hidup”. Gelar itu diberikan Rasulullah melalui sabdanya, “Siapa yang ingin melihat orang berjalan di muka bumi sesudah mengalami kematiannya, lihatlah Thalhah!”
Ekspresi Cinta Kita
Memang nggak mudah meniru ekspresi cinta para Sahabat kepada Rasulullah saw. Lantaran saat ini Rasul saw nggak ada di tengah kita jadi nggak bisa nunjukkin secara langsung atau berharap mendapatkan keberkahan dari barang-barang pribadi beliau. Namun kita bisa mengambil hikmah dari kisah para shahabat di atas, kecintaan mereka pada panutan kita itu bukan cinta kaleng-kaleng.
Kalo urusanya udah berkaitan dengan perintah atau keselamatan Rasulullah saw, gak pake lama. Tanpa tapi tanpa nanti. Langsung gass pol. Inilah cerminan akidah yang kokoh dan keimanan yang kuat dari pribadi para sahabat. Lantas, bagaimana dengan kita?
Tunjukkan ekspresi cinta Nabi sesuai dengan kemampuan terbaik kita. Maksimalis. Bukan minimalis.
Berikut tiga hal penting yang mesti kita tunjukkan sebagai wujud kecintaan kita pada Nabi Muhammad saw bukan kaleng-kaleng.
Pertama, jaga warisannya. Rasulullah saw memang udah gak ada di tengah kita. Tapi warisannya, tak lekang oleh waktu sampai hari kiamat tiba. Sebagai seorang muslim yang kece, udah kewajiban kita menjaga warisan dari junjungan Nabi Muhammad saw. Biar jalan hidup kita nggak tersesat.
“Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya selama kamu berpegang dengan kedua-duanya, yaitu kitab Allah (Alquran) dan Sunahku.” (HR Al-Hakim)
Berpegang pada quran dan sunnah akan menjadikan hidup kita mulia. Dekat dengan ketaatan dan jauh dari kemaksiatan. Itu artinya, kita mesti setengah hidup selalu berusaha terikat dengan aturan Islam. Dimana pun dan kapan pun. Catat!
Kedua, kenali lebih dalam ajarannya. Ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw untuk kebaikan hidup manusia seluruh dunia itu lengkap. Saking lengkapnya, tak ada satu celah pun sisi kehidupan kita yang lolos dari aturan islam. Allah swt berfirman:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah Ayat 3)
Karena itu, udah kewajiban kita untuk cari tahu dulu hukumnya sebelum berbuat. Kenali islam lebih dalam sebagai wujud cinta kita pada Rasululah saw. Biar hidup gak salah kaprah dan berbuah masalah.
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al Israa [17]: 36)
Ketiga, sebarkan kemuliaannya. Ajaran Islam diturunkan bukan cuman untuk masyarakat di Timur Tengah tempat kelahiran Nabi Muhammad saw. Tapi untuk seluruh umat manusia dimanapun berada. Sebagaimana ditegaskan Allah swt dalam firman-Nya:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba Ayat 28)
Makanya, para sahabat dulu berlomba-lomba untuk ikut ambil bagian dalam aktifitas dakwah menyebarkan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Seperti halnya seorang Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan kota Konstantinopel atau Thariq bin Ziyad yang membuka akses dakwah ke negeri matador. Semuanya mereka lakukan sebagai bentuk kecintaan pada Rasulullah saw.
Kini giliran kita untuk jadi bagian dari para pengemban dakwah Islam. Tak sungkan untuk menyampaikan kebenaran Islam dan mengingatkan teman-teman serta lingkungan sekitar agar makin dekat dengan Islam dan jauh dari kemaksiatan.
Semoga dengan tiga bentuk ekspresi kecintaan kita pada Nabi saw di atas menunjukkan kalo cinta kita bukan cinta kaleng-kaleng. Tapi cinta sejati yang dibangun oleh keimanan demi meraih ridho Illahi. Cinta Nabi, sampai nanti sampai mati!














