Buletin Teman Surga 297: Bukan Bocil Lagi Lho!

0
1686

Banyak remaja hari ini masih ngerasa dirinya “anak kecil”. Masih pengin dimaklumi kalau salah. Masih pengin berlindung di kalimat, “ya wajar lah, kan masih bocil.” Padahal kalau jujur sama diri sendiri, posisi kita sebenarnya sudah bergeser. Umur memang masih belasan, tapi tanggung jawab pelan-pelan sudah mulai ada beban.

Coba deh cek tanggal lahir kamu di kartu keluarga atau kartu pelajar. Angkanya jalan terus. Sekarang kamu bukan cuma “anak sekolah” yang kesehariannya cuman masuk kelas, ngerjain tugas, lalu pulang. Kamu sudah masuk fase remaja. Dan dalam Islam, remaja itu bukan fase main-main, tapi fase mulai serius. Fase nentuin arah hidup, bukan cuma buat urusan dunia, tapi juga buat bekal akhirat.

# Amal Kamu Sudah Dicatat

Ada satu hal penting yang sering banget dilupain remaja: sejak baligh, kamu sudah mukalaf. Mukalaf itu artinya kamu sudah terkena kewajiban syariat. Ibadah bukan lagi sekadar disuruh. Dosa bukan lagi sekadar “dimaklumi”. Semua perbuatan kamu sudah masuk hitungan.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Pena (pencatat amal) diangkat dari tiga golongan: dari anak kecil sampai ia baligh, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari orang gila sampai ia sadar.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Hadits ini tegas banget. Selama belum baligh, pena itu belum menulis. Tapi begitu baligh? Pena mulai ada kerjaan. Raport amal kita sedang dipersiapkan. Amal Sholeh maupun amal salah, semua dicatat tanpa peduli usia kamu masih SMP atau belum punya KTP.

Dulu waktu masih kecil, kalau bolong satu dua kali masih sering dimaklumi. Sekarang? Kamu sudah mukalaf. Artinya, shalat itu bukan lagi sekadar “kalau sempat” atau “kalau ingat”. Ketika kamu sengaja menunda atau malah ninggalin, itu sudah jadi tanggung jawab pribadi, bukan lagi kesalahan orang tua yang lupa ngingetin.

Di sekolah juga sama. Menyontek pas ulangan, copy tugas teman, atau pura-pura nggak tahu waktu disuruh jujur. Mungkin kelihatannya sepele dan “semua juga gitu”. Tapi ingat, kamu sudah mukalaf. Nilai rapor boleh tinggi, tapi kalau jalannya curang, itu tetap catatan amal yang harus dipertanggungjawabkan.

Soal pergaulan, kamu juga mulai diuji. Milih temen yang ngajak kebaikan atau yang ngajak males-malesan. Milih nongkrong yang masih wajar atau yang bikin lupa batas. Di fase ini, kamu nggak bisa lagi bilang, “keikut aja.” Karena sebagai remaja, kamu punya pilihan dan kendali.

Semua contoh itu kelihatannya kecil. Tapi justru dari yang kecil-kecil inilah masa depan kamu dibentuk. Bukan cuma masa depan sekolah atau pekerjaan, tapi juga masa depan kamu di hadapan Allah.

Makanya, sadar mukalaf itu bukan buat bikin hidup kamu sempit. Justru biar hidup kamu punya arah. Kamu tahu kenapa harus jaga diri. Kamu ngerti kenapa harus mikir sebelum bertindak. Karena sekarang, setiap hari kamu bukan cuma ngejalanin rutinitas, tapi juga lagi nulis catatan hidup kamu sendiri.

# Masa Depanmu Dimulai Hari Ini

Dari contoh-contoh tadi, satu hal mulai kelihatan jelas: yang kamu lakukan hari ini nggak berhenti di hari ini. Semua kebiasaan kecil itu lagi ngebentuk masa depan kamu, pelan-pelan tapi pasti. Bukan cuma masa depan versi “nanti mau jadi apa”, tapi juga masa depan versi kamu mau menghadap Allah dengan kondisi bagaimana.

Sering kali kita mikir masa depan itu soal sekolah lanjut ke mana, kerja apa, atau pengin sukses kayak siapa. Itu penting. Tapi Islam ngajarin kita buat nggak berhenti di situ. Karena hidup ini nggak cuma satu bab. Ada dunia, lalu ada akhirat. Dan yang bikin serius, dua-duanya ditentukan dari pilihan yang sama: pilihan hari ini.

Apa yang kamu latih sekarang bakal kebawa nanti. Kalau sekarang kamu terbiasa nunda shalat, nanti ngerasa shalat itu beban. Kalau sekarang kamu terbiasa jujur, nanti kejujuran jadi karakter. Kalau sekarang kamu terbiasa malas belajar dan nyalahin keadaan, nanti kamu kaget sendiri kenapa hidup terasa berat.

Masa depan dunia kamu dibangun dari disiplin, ilmu, dan tanggung jawab. Tapi masa depan akhirat kamu dibangun dari iman, amal, dan akhlak. Dan dua-duanya nggak bisa dipisah. Orang yang serius dunia tapi lalai akhirat bakal kosong. Orang yang pengin akhirat tapi males berusaha di dunia juga bakal keteteran.

Di titik inilah kamu perlu jujur sama diri sendiri. Setiap kali kamu milih malas atau serius, jujur atau curang, jaga diri atau cuek, sebenarnya kamu lagi milih versi masa depan kamu sendiri. Nggak ada orang lain yang milihin. Semua keputusan itu balik ke kamu.

Dan kabar baiknya, kamu belum terlambat. Justru karena kamu masih remaja, kamu masih di fase persiapan, bukan fase penyesalan. Kamu masih bisa ngerapiin arah. Masih bisa benerin kebiasaan. Masih bisa nabung amal dan ilmu dari sekarang.

Karena nanti, saat waktu sudah lewat, satu-satunya hal yang tersisa cuma pertanyaan sederhana tapi berat: Dulu, waktu masih remaja, hidup gue gue pakai buat apa ya?”

# Masa Depan Kita, Tanggung Jawab Kita

Pelan-pelan tapi jujur. Masa depan kamu bukan ditentukan sepenuhnya oleh guru atau orang tua. Semua itu bisa berpengaruh, iya. Tapi Allah udah kasih prinsip yang jelas:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d: 11)

Ayat ini jelas-jelas ngingetin tentang kedewasaan. Dewasa itu bukan soal umur, tapi soal keberanian bilang, “Ini hidup gue, dan gue yang bertanggung jawab.”

Kesadaran kayak gini memang nggak enak. Rasanya nyesek. Kadang bikin malu sama diri sendiri. Tapi justru di situlah titik awal perubahan. Orang yang nggak pernah sadar salahnya, nggak akan pernah merasa perlu memperbaiki apa pun. Dan orang yang nggak mau merasa salah, biasanya juga nggak mau bertanggung jawab.

Waktu yang sudah lewat nggak bisa diulang. Jam yang terbuang nggak bisa diputar balik. Tapi kesadaran hari ini masih bisa nyelamatin hari-hari ke depan. Daripada sibuk nyesel, jauh lebih penting berani bilang, “oke, gue salah. Dan gue mau benerin.”

Di titik inilah hidup mulai serius. Bukan saat kamu punya rencana besar, tapi saat kamu berani ambil tanggung jawab atas pilihan kamu sendiri. Berhenti nyalahin keadaan. Berhenti berlindung di status “masih remaja”. Karena masa depan kamu, baik di dunia maupun di akhirat, nggak akan berubah cuma karena harapan, tapi karena keputusan yang kamu ambil sekarang.

Dan faktanya, cuma orang-orang yang mau bertanggung jawab atas hidupnya yang benar-benar bisa menyiapkan masa depan. Bukan yang paling pintar. Bukan yang paling santai. Tapi yang mau jujur, mau belajar, dan mau memperbaiki diri pelan-pelan.

Masa depan dunia yang baik butuh usaha, disiplin, dan ilmu. Masa depan akhirat yang selamat butuh iman, amal, dan akhlak. Dan dua-duanya cuma bisa dibangun oleh orang yang nggak lari dari tanggung jawab hidupnya sendiri.

Kalau hari ini kamu mulai sadar, itu tanda kamu masih punya harapan. Karena orang yang sadar, masih punya kesempatan untuk berubah. Dan orang yang berani berubah, punya peluang besar buat menyiapkan masa depan dunia–akhirat yang cemerlang.

Dan untuk menopang persiapan masa depan cemerlang, kamu harus getol menuntut ilmu. Ilmu agama bikin kamu ngerti arah hidup. Ilmu dunia bikin kamu kuat menghadapi kehidupan. So, teruslah belajar, bertumbuh, dan berbahagia. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here