Buletin Teman Surga 311: Me Time vs Wasting Time

0
424

Liburan Panjang akan segera menyapa. Momen yang paling ditunggu-tunggu pelajar setelah berbulan-bulan dihajar tugas, ulangan, bangun pagi, sampai drama kehidupan sekolah yang kadang lebih plot twist daripada sinetron azab.

Lega rasanya kalo libur panjang tiba. Punya banyak waktu untuk sekedar memanjakan diri. Bareng keluarga berkunjung ke saudara untuk mengokohkan silaturahmi. Dan yang pasti, me time itu perlu. Rehat itu penting. Menenangkan diri itu manusiawi. Bahkan kadang duduk santai sambil ngopi, jalan sore, ngobrol sama keluarga, baca buku, olahraga ringan, atau sekadar tidur cukup bisa jadi cara buat tetap bahagia setelah aktivitas sekolah yang padat.

Masalahnya, banyak orang nggak sadar kalau batas antara me time dan wasting time itu tipis banget. Awalnya cuma pengen istirahat sebentar buat recharge malah berubah jadi festival rebahan nasional. Tidur jam dua pagi gara-gara scrolling di gedzet tanpa tujuan atau main game online. Bangun siang. Shalat shubuh telat. Al-Qur’an nggak disentuh. Waktu habis buat nonton series. Hari demi hari lewat tanpa makna. Hingga liburan habis tanpa pertumbuhan apa-apa. Saying banget.

# Saat Hiburan Jadi Tujuan Hidup

Salah satu penyakit generasi sekarang adalah menjadikan hiburan sebagai pusat kehidupan. Semua harus seru. Semua harus fun. Semua harus bikin happy. Sedikit bosan langsung buka HP. Sedikit sedih langsung cari distraksi. Sedikit capek langsung lari ke hiburan. Akhirnya hidup dipenuhi kesenangan instan tapi miskin makna.

Padahal algoritma media sosial nggak peduli masa depan kita. Yang penting kita terus scroll. Terus nonton. Terus stay online selama mungkin. Makanya jangan heran kalau satu video bisa nyambung ke video lain tanpa ujung. Satu episode drama berubah jadi satu season semalam suntuk. Satu game berubah jadi lupa waktu. Kita pikir kita sedang menikmati hiburan, padahal sebenarnya masa depan kita sedang dipertaruhkan.

Dan parahnya lagi, budaya sekarang bikin wasting time terlihat keren. Orang produktif dibilang terlalu serius. Orang disiplin dianggap nggak asik. Orang yang menjaga waktunya sering dianggap sok alim atau nggak gaul. Sementara hidup yang berantakan justru sering dijadikan konten lucu. Begadang dianggap lifestyle. Malas-malasan dianggap healing. Padahal kalau diteruskan, semua itu bisa menghancurkan masa depan pelan-pelan.

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (TQS. Shad [38] Ayat 26)

Masalahnya, hiburan yang nggak dikontrol sering banget bikin manusia hidup cuma ngikutin hawa nafsu. Maunya yang gampang. Maunya yang enak. Maunya yang instant. Akhirnya jadi generasi yang lemah menghadapi proses dan gampang menyerah saat hidup nggak sesuai ekspektasi.

Coba perhatikan. Berapa banyak remaja yang punya mimpi besar tapi kalah sama rebahan? Punya target hidup tapi kalah sama notifikasi? Punya potensi luar biasa tapi waktunya habis buat hal-hal receh yang bahkan nggak diingat seminggu kemudian? Sedihnya, banyak orang sadar dirinya sedang membuang waktu, tapi tetap melakukannya karena sudah terlalu nyaman dengan kebiasaan itu.

Dan saat libur panjang biasanya manusia paling gampang lalai. Karena saat sibuk, hidup masih punya ritme. Tapi saat waktu kosong datang, di situlah terlihat sebenarnya kita mengarahkan hidup ke mana. Waktu luang bisa jadi jalan menuju pertumbuhan, tapi bisa juga jadi pintu kehancuran kalau nggak dijaga.

Ibnu Qayyim berkata: “Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian. Karena kematian memutusmu dari dunia, sedangkan menyia-nyiakan waktu memutusmu dari Allah dan akhirat.”

Kalimat ini dalem banget. Kadang yang bikin hati kita kosong bukan karena hidup terlalu berat, tapi karena terlalu banyak waktu yang habis tanpa makna.

# Agar Liburanmu Tak Menguras Masa Depanmu

Masa muda itu mahal banget. Dan yang bikin mahal bukan karena kita masih kuat begadang atau kuat lari ke sana-sini. Tapi karena masa muda adalah masa paling berharga buat membangun masa depan dan mengumpulkan amal terbaik.

Sayangnya banyak orang baru sadar pentingnya waktu setelah semuanya lewat. Baru nyesel setelah kesempatan hilang. Baru sadar setelah hidup berantakan.

Padahal sebenarnya menjaga waktu nggak harus langsung jadi manusia super produktif. Nggak harus mendadak jadi ustadz. Nggak harus anti hiburan. Mulainya bisa dari hal sederhana. Tetap bangun pagi meski libur. Tetap jaga shalat tepat waktu. Kurangi screen time. Isi waktu dengan baca buku atau belajar skill baru. Luangkan waktu buat Al-Qur’an. Ikut kajian. Olahraga. Bantu orang tua. Nongkrong boleh, tapi jangan sampai lupa tujuan hidup.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Jiwa itu jika tidak disibukkan dalam kebaikan, maka ia akan menyibukkanmu dalam keburukan.”

Makanya jangan biarkan waktu kosong mengendalikan kita. Karena manusia yang nggak punya arah biasanya gampang terseret arus lingkungan dan hawa nafsu.

Karena hidup ini terlalu berharga kalau cuma dihabiskan buat rebahan dan scrolling tanpa arah. Bayangin kalau waktu yang kita habiskan buat hal receh itu dipakai buat membangun diri sedikit demi sedikit. Belajar public speaking. Belajar desain. Menghafal Qur’an. Menulis. Berkarya. Memperbaiki ibadah. Betapa jauhnya perkembangan diri kita beberapa tahun ke depan.

Dan yang paling penting, jangan sampai hati kita ikut kosong saat badan sedang santai. Sebab istirahat terbaik sebenarnya bukan cuma tidur cukup atau liburan panjang. Tapi hati yang dekat dengan Allah. Ada orang yang hidupnya sederhana tapi tenang. Ada juga yang hiburannya banyak tapi hatinya capek terus. Karena ketenangan sejati nggak datang dari banyaknya hiburan, tapi dari dekatnya hubungan dengan Allah.

Jadi, nikmati liburanmu. Silakan istirahat. Silakan tertawa. Silakan refreshing. Tapi jangan sampai hidupmu ikut libur dari tujuan besar yang Allah kasih. Jangan sampai badanmu santai tapi masa depanmu perlahan hancur. Jangan sampai waktumu habis cuma buat hal-hal yang bahkan nggak akan kamu ingat beberapa bulan lagi.

Karena pada akhirnya, yang akan membuat hidup kita bernilai bukan seberapa lama kita rebahan, tapi seberapa baik kita menggunakan umur yang Allah titipkan. Dan jangan lupa, waktu yang hilang nggak akan pernah bisa diputar ulang. Karena itu remaja keren bukan yang hidupnya paling santai, tapi yang tahu cara memanfaatkan waktunya.

Makanya jangan cuma menikmati liburan. Tapi pastikan setelah liburan selesai, dirimu jadi lebih baik daripada sebelumnya. Karena tujuan istirahat bukan untuk berhenti melangkah, tapi supaya kita punya tenaga buat melanjutkan perjuangan.

Liburan itu kayak api. Kalau dipakai dengan benar, bisa menghangatkan dan menguatkan. Tapi kalau nggak dijaga, bisa membakar masa depan pelan-pelan. Makanya, penting banget buat punya “rem” biar me time nggak berubah jadi wasting time. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here