Banjir bandang datang tanpa permisi. Air turun deras, tanah runtuh, rumah hanyut, dan berita itu lagi-lagi hanya lewat di layar HP kita. Scroll… pause sebentar… lalu scroll lagi. Seolah bencana itu cuma headline, bukan jeritan nyata dari saudara kita sendiri. Padahal yang terdampak itu bukan orang asing, mereka satu iman, satu umat, bahkan satu bangsa.
Sebagai remaja, mungkin kamu mikir, “Gue kan nggak nebang pohon. Gue juga nggak tinggal di sana.” Tapi justru di situ masalahnya. Kita sering ngerasa aman karena bencana nggak mampir ke halaman rumah kita. Kita lupa, bumi ini satu sistem. Kalau satu bagian rusak dan dibiarkan, bagian lain tinggal nunggu giliran.
Islam ngajarin kita buat peka. Bukan cuma peka sama notifikasi, tapi peka sama tanda-tanda Allah. Banjir, longsor, dan rusaknya alam itu bukan cuma soal hujan gede. Ada tangan manusia di baliknya. Ada pohon yang ditebang sembarangan, ada amanah yang dilanggar, dan ada maksiat yang dianggap biasa. Dan di sinilah peran remaja diuji: sekedar jadi penonton, atau jadi bagian dari solusi.
# Saat Alam Nggak Kuat Lagi Nahan Ulah Kita
Kita sering nyebut banjir, longsor, atau kebakaran hutan sebagai “bencana alam”. Padahal kalau ditarik ke belakang, banyak di antaranya adalah bencana buatan manusia. Alam cuma nerima dampaknya, lalu akhirnya “meledak”. Ibarat HP yang dipakai terus-terusan tanpa jeda, lama-lama hang. Alam juga gitu.
Banjir misalnya. Hujan deras itu normal. Tapi ketika hutan di hulu ditebang liar, sungai dipersempit, dan saluran air di kota penuh sampah, air kehilangan jalannya. Akhirnya meluap. Sekarang jujur aja, seberapa sering kita buang sampah sembarangan karena “ah cuma plastik kecil”? Seberapa sering kita cuek lihat got mampet depan rumah atau sekolah? Hal-hal kecil yang dianggap sepele itu ternyata nyambung ke bencana besar di tempat lain.
Tanah longsor juga nggak jauh beda. Bukit yang seharusnya ditumbuhi pohon malah dijadikan tambang, vila, atau dipotong seenaknya. Kita mungkin nggak ikut nebang, tapi kita sering ikut menikmati hasilnya, liburan ke tempat yang alamnya dipaksa berubah, tanpa pernah mikir dampaknya.
Kebakaran hutan pun sama. Kadang dimulai dari kelalaian: api kecil, puntung rokok, pembakaran lahan ilegal yang dianggap “biasa”. Efeknya? Asap ke mana-mana. Sekolah diliburkan. Masker jadi kebutuhan harian. Anak-anak sesak napas. Dan yang kena dampak, lagi-lagi bukan pelaku utamanya.
Allah sudah ngingetin dengan jelas: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (TQS. Ar-Rum: 41).
Ayat ini bukan cuma buat pejabat atau pengusaha. Ini juga buat kita, remaja yang setiap hari bikin pilihan: mau cuek atau mau peduli.
# Remaja Muslim, Amanahmu Nggak Kecil
Ini bagian penting banget. Karena sering kali remaja merasa bahwa isu lingkungan itu “terlalu besar”. Padahal justru remaja lah yang harus punya kesadaran ini lebih awal daripada generasi sebelum-sebelumnya.
Dalam Islam, kita sudah dibekali cara pandang yang sangat indah tentang alam. Setiap tindakan kecil pun punya nilai ibadah. Nabi mengajarkan, menanam satu pohon saja bisa jadi sedekah yang pahalanya mengalir terus, bahkan jika pohon itu dimakan burung. Islam melarang penebangan pohon tanpa kebutuhan. Islam melarang merusak alam. Bahkan, dalam keadaan perang pun, Rasulullah melarang menebang pohon sembarangan. Artinya: alam bukan “bonus dekorasi”. Alam adalah bagian dari ibadah.
Sebagai remaja Muslim, kamu mungkin belum punya otoritas untuk menghentikan pembalakan liar. Kamu belum bisa menandatangani kebijakan atau menangkap pembalak hutan. Tapi kamu bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih penting: kamu bisa membangun kesadaran, kamu bisa mengubah cara berpikir teman sebayamu, kamu bisa jadi generasi yang sejak muda sudah ngerti bahwa menjaga bumi itu bagian dari taat kepada Allah.
Kamu bisa mulai dari hal-hal sederhana yang jarang orang sadar:
- Tidak buang sampah ke sungai (sepele tapi dampaknya besar)
- Mengurangi plastik sekali pakai
- Mendukung gerakan lingkungan hidup di sekolah
- Ikut kegiatan bersih sungai atau penanaman pohon
- Membuat konten edukatif di media social (serius, suara remaja itu sering lebih didengar daripada suara orang dewasa).
- Ngajak adik-adik sekolah paham bahwa bumi ini bukan mainan
- Mendoakan saudara-saudara yang sedang tertimpa bencana
Islam itu agama yang memandang alam sebagai salah satu tanda kebesaran Allah. Jadi kalau kita sampai merusak alam, kita sedang merusak ayat-ayat kauniyah yang Allah ciptakan.
Dan yang nggak kalah penting: peduli pada alam bukan tren. Bukan gaya-gayaan estetik. Bukan supaya kelihatan keren atau aktivis. Peduli pada alam adalah bagian dari akhlak. Bagian dari iman. Bagian dari jati diri remaja Muslim yang nggak cuma rajin ibadah pribadi, tapi juga ngerti tanggung jawab sosial dan tanggung jawab ekologis.
# Peduli Bencana, Peduli Masa Depan Kita
Peduli sama bencana bukan berarti kamu harus langsung jadi relawan atau punya uang banyak buat donasi. Peduli bisa dimulai dari hal yang sering diremehkan: jaga diri dari maksiat, belajar agama dengan serius, dan berani ngingetin kalau ada yang salah. Karena kerusakan di bumi seringkali berawal dari kerusakan sikap manusia.
Allah sudah ngasih peringatan berkali-kali. Bukan buat nakut-nakutin, tapi buat nyadarin. Seperti firman-Nya: “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (TQS. Al-Anfal: 25)
Ayat ini kayak tamparan halus buat kita semua, termasuk remaja. Bahwa kalau kerusakan dibiarkan, kalau maksiat dianggap wajar, kalau salah nggak lagi ditegur, maka akibatnya bisa datang ke siapa saja. Termasuk ke orang-orang yang sebenarnya “nggak ngapa-ngapain”. Karena sikap cuek itu juga pilihan. Bencana yang terus berulang bukan cuma soal alam yang rusak, tapi juga tanda bahwa manusia mulai banyak yang tak peduli. Dan kalau kita masih memilih diam, bukan mustahil kita jadi korban berikutnya. Bukan karena kita salah, tapi karena kita terlalu lama membiarkan yang salah.
Kamu nggak harus nunggu jadi tua buat peduli. Justru sekarang waktunya. Waktu kamu masih punya energi, idealisme, dan hati yang belum keburu keras. Jadilah remaja yang nggak egois, yang mikirin umat, yang sadar bahwa iman itu bukan cuma urusan pribadi, tapi juga urusan menjaga bumi dan sesama.
Karena remaja yang peduli hari ini, bisa jadi penyelamat di masa depan. Dan remaja itu adalah kamu. Iya kamu! []














