Buletin Teman Surga 279: Bilangnya Healing, Ternyata Wasting. Ups!

0
1205

“Kamu punya waktu. Tapi waktu belum tentu masih punya kamu besok.”

Hari ini libur. Besok libur. Minggu depan masih libur. Hore banget kan?

Nggak ada tugas. Nggak ada guru yang negur. Nggak ada PR yang bikin panik di malam minggu. Setelah ngelewatin ujian tulis, ujian praktik, ujian tahfizh, plus mungkin ada yang dibumbui sedikit drama ujian hidup, welcome to libur panjang — musim ketika banyak pelajar akhirnya merasa bebas.

Emang ngapain aja selama liburan?

Yang udah udah, libur panjang ada yang terbiasa bangun jam 10 siang. Shubuh lewat atau mepet dhuha karena semalaman mabar. Scroll TikTok sampai jam makan siang. Main FF, ML atau Roblox sampai sore. Rebahan. Nonton series. Chat nggak penting. Scroll lagi. Tidur. Besok? Diulang. Lusa? Masih diulang. Sampai akhirnya…

“Eh, kok udah masuk sekolah lagi, ya?”

Duh jangan sampai gejala amnesia itu terus menimpa kamu setiap libur Panjang ya. Pura-pura lupa ngapain aja selama liburan.  Target nggak tercapai tapi waktu udah habis.

Rencananya, liburan mau diisi dengan aktifias bermanfaat nan produktif. Kenyataannya setelah liburan, tanpa disadari jadi males berpikir. Ngerasa baik-baik aja padahal banyak waktu terbuang. Kehilangan ritme hidup. Jadi nggak tahu mana waktu ibadah, mana waktu belajar, mana waktu istirahat.

Itu semua bikin terlena. Pelan tapi pasti. Kayak air laut yang nyeret kaki kita ke tengah tanpa disadari. Pas sadar, kita udah jauh dari daratan. Panik.

Sering banget remaja ngeles kayak gini: “Ya gapapa dong, kan liburan. Gue healing.”

Tapi healing kamu itu bentuknya apa? Kalau sekadar mager dan rebahan tanpa batas, itu bukan healing kali. Itu wasting.

Healing itu idealnya merawat diri, bukan memanjakan kemalasan. Liburan bisa kamu pakai buat nulis, baca buku, belajar hal baru, olahraga, bantu orang tua, bahkan bikin karya. Biarkan otak tetap mikir, meski tipis-tipis. Banyak pilihan yang bisa bikin kamu tumbuh.

Rasulullah ﷺ mengingatkan : “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu: nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Yes, waktu luang adalah jebakan paling halus. Karena kita sering merasa masih punya banyak waktu, padahal kenyataannya waktu terus berjalan dan nggak akan balik lagi. Hati-hati!

# Waktu, Harta yang Gak Bisa Diulang

Gaes, coba pikirin : kalo kamu kehilangan uang, bisa nyari lagi. Kehilangan teman, bisa ketemu yang baru. Tapi kalau kehilangan waktu? Gak ada tombol rewind. Gak bisa diulang. Gak bisa dibeli. Rugi!

Allah SWT dalam Surat Al-‘Ashr berfirman: “Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS Al-‘Ashr: 1–3)

Surat ini pendek, cuma tiga ayat. Tapi para ulama bilang ini cukup buat jadi pegangan hidup.

Kenapa? Karena Allah ngajak kita sadar: kita hidup di dunia bukan buat nyantai. Tapi buat ngejar misi. Dan kerugian paling besar itu… kalau waktu kita habis tapi nggak ninggalin jejak apa-apa. Zonk!

Makanya ulama-ulama terdahulu itu serius banget sama waktu. Buat mereka, buang waktu = buang hidup.

Imam Ibnu Qayyim, pernah bilang: “Orang yang membunuh waktunya berarti sedang membunuh usianya. Dan siapa yang membunuh usianya, dia telah membunuh masa depannya.”

# Waktu Libur: Cermin Masa Depanmu!

Libur panjang tuh ibarat open world tanpa misi—nggak ada jadwal sekolah, nggak ada guru, nggak ada PR, nggak ada seragam. Semua bebas. Tapi justru di dunia tanpa aturan kayak gini, kelihatan siapa yang beneran kuat, dan siapa yang cuma kelihatan rajin karena takut dimarahin.

Kamu mungkin mikir, “Woles lah, ini kan waktunya santai.” Oke, kamu butuh istirahat. Tapi jangan sampai “santai” berubah jadi “shutdown”. Karena waktu libur itu bukan tombol pause dari hidup, tapi kesempatan ngetes: kamu ini orang yang bisa jaga prinsip tanpa diawasi atau cuma jalan kalau ada tekanan? Banyak orang sukses nggak lahir di ruang kelas, tapi di waktu-waktu hening—waktu orang lain rebahan, dia milih baca. Waktu orang lain nge-game, dia nulis ide. Waktu yang lain ikut tren, dia pilih jaga jati diri.

Pas kamu isi waktu luang dengan hal yang bermanfaat, itu bukan cuma soal ngilangin bete. Tapi kamu lagi nanam benih karakter. Kamu lagi nulis cerita hidup kamu, diam-diam. Remaja yang bisa jujur walau nggak dilihat, bisa disiplin walau nggak disuruh, itu calon orang besar. Karena kelak, saat kamu dikasih tanggung jawab, kamu udah terlatih untuk gak main-main. Dan itu bukan hasil dari ceramah, tapi dari latihan diam-diam, setiap hari, walau nggak ada yang tepuk tanganin.

Jangan nunggu umur 25 buat berubah. Jangan nunggu dunia meledak dulu buat sadar. Karakter tuh dibentuk dari kebiasaan kecil yang kamu ulang terus. Kalau sekarang kamu nyaman buang waktu, besok-besok kamu bakal kebingungan saat hidup nuntut keputusan. Kalau sekarang kamu rajin ngeles, nanti kamu bakal capek sendiri karena terus ngehindar dari kenyataan. Waktu libur ini tuh training ground. Kamu bisa pilih: jadi penonton hidup sendiri, atau mulai jadi pemain yang aktif ngatur langkah.

Kamu harus tahu, nggak semua orang dapet jatah liburan kayak kamu. Di luar sana ada yang tetap kerja bantu orang tua. Ada yang liburnya diisi ngurus adik, jualan, atau bantu panen. Jadi kalau kamu punya waktu untuk belajar, istirahat, dan refleksi, itu bukan buat dianggurin. Gunakan waktu dengan bijak. Jangan seharian cuma rebahan sambil scroll-scroll tanpa arah. Bangun dong, masa depanmu nungguin kamu gerak.

Kalau kamu ngerasa hidup lagi flat, itu tandanya kamu butuh tantangan baru. Coba deh bikin list kecil: satu skill yang pengin kamu pelajari, satu buku yang pengin kamu tamatkan, satu habit baik yang pengin kamu mulai. Mulai dari hal-hal receh. Bangun pagi, bantu orang tua di rumah, nulis jurnal, coba hafal satu surat pendek, atau gabung komunitas positif online. Di sanalah kamu bakal nemu jati diri. Bukan dari rating orang, tapi dari proses mengenal dirimu sendiri: kamu mau dikenal sebagai apa atau siapa setelah meninggal nanti?

Nggak harus keren dulu buat mulai. Justru mulai sekarang biar kamu bisa jadi keren versi kamu. Kesalahan itu biasa. Yang penting jangan kebanyakan alasan. Orang sukses itu bukan yang nggak pernah gagal, tapi yang tetap lanjut walau jatuh. Waktu libur ini bisa kamu pakai buat latih mental: mental kuat, mental berani, mental nggak gampang goyah. Jangan biarkan rasa nyaman bikin kamu lupa kalau waktu terus jalan, dan hidup nggak nungguin yang mager.

Dan terakhir, jangan kejar jadi kayak orang lain. Jadi diri sendiri yang bertumbuh jauh lebih bernilai daripada jadi copy-paste orang yang lagi viral. Liburan itu kayak cermin: kamu bisa ngaca, lihat siapa yang kamu jadiin panutan, dan siapa diri kamu sekarang. Remaja keren tuh bukan yang banyak followers, tapi yang punya arah hidup. Dan Ketika kamu mengenal Islam lebih dalam, ikut kajian rutin setiap pekan, aktif dalam komunitas remaja positif seperti Teman Surga, kamu bakal dapat jawaban. Hidup punya tujuan. Dan waktu liburan itu waktu yang tepat untuk memulai perubahan. Be the best of you. Go! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here