Suasana lebaran di negeri 62 itu bisa sebulan penuh. Apalagi momen halal bi halal sekaligus temu kangen setelah 2 tahun gagal lepas kangen akibat wabah corona digeber di setiap tempat. Halal bi halal dengan rekan kerja, teman sekolah, lingkungan rw, kelurahan, tempat kursus, komunitas mobil, kawan maen futsal, teman nongkrong di cafe, dan lain sebagainya.
Ya kita sih maklum aja. Temu kangen demi menyambung silaturahmi pasca pandemi itu emang amazing banget. Orang bela-belain untuk mudik atau berbondong-bondong piknik. Yang penting asyik.
Seru juga kalo ngeyelnya kita saat maksimalkan ngisi liburan lebaran dengan silah ukhuwah sama ngototnya dengan semangat taat kita yang pantang kendor pasca Ramadhan. Tanpa tapi tanpa nanti, kita kejar deh tuh ridho Allah dalam keseharaian. Nggak cuman yang wajibnya aja ditunaikan, amalan sunnahnya juga nggak ketinggalan. Mantul!
Tantangan Pasca Ramadhan
Kini, bulan mulia sudah berlalu. Suasana Ramadhan yang syahdu bin religi perlahan hilang ditelan hiruk pikuk euforia lebaran dan bulan kemenangan. Imbasnya, semangat taat kita mulai menghadapi banyak tantangan. Kalo nggak siap, bisa-bisa bekal Ramadhan kita tergerus godaan setan dalam keseharian. Waspadalah!
Kita nggak bisa menutup mata kalo lingkungan di sekitar kita setelah Ramadhan berlalu kembali pada habitat awalnya. Kehidupan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Kebiasaan-kebiasaan baik selama Ramadhan mulai memudar.
Al-Qur’an kembali menempati rak-rak buku yang mungkin akan dicari lagi kalo ketemu Ramadhan tahun berikutnya. Keropak infak kembali penuh terisi angin tak seperti saat bulan puasa yang dipadati lembaran-lembaran rupiah.
Mesjid dan majelis ta’lim kembali lengang. Remaja muslimah yang tampil menawan dengan busana yang menutup auratnya, tak sedikit yang kembali menanggalkan kerudung dan jilbabnya. Seiring berakhirnya bulan mulia. Kemaksiatan perlahan-lahan mulai menyeruak ke permukaan. Setelah sebulan sebelumnya nggak gitu keliatan karena setan pada dibelenggu.
Idealnya, setelah digembleng untuk menguatkan akidah dan keimanan selama Ramadhan, bulan syawal dan seterusnya kita udah punya benteng pertahanan. Biar kata godaan setan datang dari segala arah, ini saatnya kita buktikan buah ketakwaan hasil puasa Ramadhan. Istiqomah dalam ketaatan.
Pertanyaannya, gimana caranya agar tetap istiqomah?
Kuatkan Sinyal Ketaatanmu
Bercermin dari para pengemban dakwah yang tetap istiqomah hingga ajal menjemput, kita bisa mengambil banyak hikmah. Salah satunya dari perjalanan hidup seorang alm. Ust. Khair Hari Moekti (semoga Allah swt menempatkan beliau di Surga bersama para pejuang Islam lainya). Beliau adalah da’i mantan rocker tahun 80-an yang hijrah meninggalkan dunia keartisan dan terjun dalam dunia dakwah hingga akhir hayatnya.
Dalam satu kesempatan, beliau ngasih satu kunci agar kita bisa tetap istiqomah menjadi pribadi taat meski Ramadhan udah lewat.
Kuncinya, Ngaji!
Kunci istiqomah itu yang beliau pegang hingga maut menjemputnya. Karena ngaji, setidaknya ngasih tiga kekuatan dalam jalanin proses hijrah
Pertama, menguatkan pondasi keimanan. Setiap ikut pengajian, kita diingetin sifat-sifat Allah yang Mulia. Allah swt Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Penolong, Maha Kaya dan Mengayakan, Yang Menghidupkan dan Mematikan. Jadi pantang menyerah menjadikan halal-haram sebagai standar perbuatan. Meski banyak tantangan, yakin Allah pasti tak akan berlepas tangan.
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allâh,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”. [QS. Fushshilat/41:30]
Kedua, dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang saling mengingatkan dan menguatkan. Dalam forum pengajian, kita bisa bergabung dengan komunitas dakwah. Karena mereka tak sungkan saling mengingatkan jika ada kawan yang nyerempet kemaksiatan. Dan menguatkan saat temannya terpuruk ditimpa masalah.
“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.[HR. Bukhari dan Muslim]
Umar bin Khattab berkata, “Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]
Ketiga, bertaqarrub ilallah jadi kebiasaan. Hanya Allah subhanallahu wa ta’ala tempat kita mengadu dan meminta pertolongan. Dengan aktif ngaji, kita diajak membiasakan diri untuk mendekati-Nya. Getol menunaikan berbagai amalan sunnah. Sehingga ridho Allah swt membersamai kita dalam suka dan duka.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’” (HR. Bukhari)
Untuk itu, semangat taat kita jangan dikasih kendor. Jagain biar sinyal ketaatannya tetap full bar. Gak pake blank spot. Meski banyak godaan menghadang. Kuncinya, ngaji dan dakwah. Kuy! []














