Menjelang berakhirnya bulan mulia, umat Islam terutama di negeri kita ramai-ramai pulang kampung. Apalagi setelah 2 tahun belakang suasana hari raya dihantam pandemi, tak ada cerita mudik. Kali ini, seperti minuman bersoda yang dikocok terus dibuka tutup botolnya. Wuush…! membuncah.
Tengok saja, para pemudik memadati terminal bis, stasiun kereta hingga bandara. Kemacetan pun tak terhindarkan di berbagai pelosok jalan raya. Nggak heran kalo menurut survei Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Balitbang Kemenhub), tahun ini diperkirakan ada 85,5 juta orang yang akan melakukan perjalanan mudik Lebaran.
Mudik Haqiqi : Ke Kampung Akhirat
Sejatinya, setiap manusia tak terkecuali seorang muslim tak hanya pulang kampung menjelang hari raya saja. Tapi ada kampung akhirat yang cepat atau lambat kita akan mengunjunginya. Lantaran gerbang kampungnya selalu mengikuti kita setiap saat. Tinggal nunggu dibukakan aja oleh malaikat Izroil.
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. Al-An’aam: 32)
Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti? (QS. Al-A’raaf: 169)
Berbeda dengan kampung halaman, tak banyak yang merindukan untuk ngebet pulang ke kampung akhirat. Lantaran kebanyakan umat Islam terpapar penyakit Wahn seperti diingatkan oleh baginda Rasulullah saw.
Dari Tsauban, ia berkata bahwa telah bersabda Rasulullah SAW: “Hampir saja bangsa-bangsa memangsa kalian sebagaimana orang lapar menghadapi meja penuh hidangan.” Seseorang bertanya “Apa saat itu kita sedikit?” jawab beliau “Bahkan saat itu kalian banyak, akan tetapi kalian seperti buih di laut. Allah akan cabut rasa takut dari dada musuh kalian, dan Allah sungguh akan mencampakkan penyakit wahn dalam hatimu.” Seseorang bertanya “Ya Rasulullah ap aitu Wahn?” beliau menjawab “Cinta dunia dan takut mati” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani.
Makanya cuman orang-orang yang bertakwa saja yang punya anti virus penyakit Wahn ini. Nggak keranjingan dengan kenikmatan dunia, dan pantang mundur jika ajalnya sudah tiba. Siap menapaki perjalanan menuju kampung akhirat.
Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. [QS. An-Nahl: 30-32]
Makanya, jangan sampai kita lupa dengan kampung akhirat. Tempat kembali (place of return) yang abadi. Apalagi mudik ke kampung akhirat gak kenal waktu, usia, atau status sosial. Bisa kapan aja nggak mesti nunggu lebaran tiba. Bisa siapa saja nggak harus yang berlimpah harta atau tua renta. Tak ada notifikasi, meski gadget kita paling canggih sedunia. Saat ajal menjemput, perjalanan menuju kampung akhirat dimulai. Bersiaplah!
Siapkan Bekal Mudikmu!
Bukan bekal baju baru dan oleh-oleh kuliner yang dibawa pulang ke kampung akhirat. Bukan pula perhiasan mentereng, gadget tercanggih, atau kendaraan baru. Semua itu nggak ada artinya di sana.
Biar nggak salah bawa bekal, Rasulullah saw mengingatkan kita dalam sabdanya, “Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta, dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.”[HR. Bukhari muslim]
Karena itu, jangan sampai nyesel saat sampai di kampung akhirat, bekal yang dibawa minimalis banget. Mending kalo bekal amal soleh yang dibawa, lha kalo ternyata yang tersisa cuman amal salah gimana? Tekor gaes!
“Tidak ada seseorang meninggal, kecuali dia pasti menyesal,.“ Sahabat bertanya: “Apa yang dia sesalkan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Jika pelaku kebaikan, dia akan menyesal, mengapa dia tidak melakukan lebih banyak lagi kebaikan. Jika dia pelaku keburukan, dia akan menyesal, mengapa dia tidak sejak awal berhenti melakukan keburukan.” (HR. Tirmidzi).
Selagi masih dikasih kesempatan untuk mendulang amal sholeh di dunia, maksimalkan. Jangan disia-siakan. Karena amal sholeh, satu-satunya bekal yang sudah Allah swt garansi akan membahagiakan kita di kampung akhirat.
Sebagaimana Luqmanul Hakim pernah memberikan wejangan kepada anaknya tentang perumpamaan dunia ini, ia berkata pada anaknya: “Wahai anakku! Ketahuilah bahwa sesungguhnya dunia ini merupakan lautan yang dalam dan luas, maka hendaklah engkau isi perahumu dengan ketakwaan kepada Allah Swt., dan di dalamnya diisi dengan keimanan kepada Allah Swt., sedangkan layarnya diisi dengan tawakkal kepada Allah Swt. Mudah-mudahan kamu selamat, namun saya tidak melihat kamu selamat.”
Udah jelas ya, muslim’s place of return alias tempat kembali kita sebagai seorang muslim hakikatnya bukan kampung halaman, tapi kampung akhirat. Bekal yang kita bawa mudik juga bukan harta kekayaan, sanak kerabat, jumlah follower, subscriber, atau status sosial. Tapi sejatinya amal sholeh selama hayat masih dikandung badan. Nggak pake lama, ayo kencengin amal solehnya dan jauhin amal salahnya. Jangan kasih kendor! []














