Buletin Teman Surga 319: Santri Itu Soal Mentalitas

0
404

Apa yang dibenakmu ketika mendengar kata ‘santri’? Sarungan, peci? Kolot? Penyakit kulit? Kumuh? Jadwal padat? Apakah masih seperti itu kira-kira gambaran tentang santri? Ya, apapun bayangan kamu, baik yang tidak maupun belum jadi santri, baiknya hindari nama atau istilahnya stereotip. Stereotip itu penilaian, pandangan, atau keyakinan umum yang kaku dan terlalu disederhanakan mengenai sifat, karakteristik, atau perilaku seseorang berdasarkan keanggotaan mereka dalam kelompok tertentu. Kalo stereotip masih kayak yang tergambar diatas tadi, maka cepat segera hindari, karena santri itu bukan sekadar identitas, sejatinya santri itu soal mentalitas.

Meskipun kita bukan anak pesantren, bukan berarti Hari Santri nggak ada hubungannya dengan kita. Coba tanyakan kepada diri sendiri: sudah sejauh apa kita serius belajar? Bagaimana sikap kita kepada orang tua dan guru? Kalau teman-teman mengajak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Islam, kita berani menolak atau malah ikut-ikutan karena takut dicap nggak asyik? Nah, di sinilah kita perlu memahami bahwa santri bukan cuma soal identitas, tetapi juga mentalitas yang perlu kita tumbuhkan sebagai pelajar Muslim.

# Ngaku Pelajar, Masa Belajarnya Cuma Pas Mau Ujian?

Jujur, deh. Kita pernah nggak, baru mendadak rajin buka buku ketika besoknya ujian? Materi satu semester dikejar dalam semalam. Grup kelas yang biasanya sepi mendadak ramai dengan pertanyaan, “Guys, besok yang keluar bab berapa, ya?” Belum lagi ritual klasik: buka buku lima menit, cek notifikasi sebentar, lanjut scroll, lalu sadar-sadar sudah satu jam. Bukunya masih di halaman yang sama, tetapi waktu sudah kabur entah ke mana. Kalau begini terus, jangan-jangan kita bukan sedang belajar, melainkan sedang mengembangkan bakat menjadi ahli menunda!

Padahal, salah satu nilai yang bisa kita teladani dari kehidupan santri adalah kesungguhan dalam menuntut ilmu. Belajar bukan cuma supaya nilai aman, nggak dimarahi orang tua, atau bisa masuk sekolah favorit. Ilmu membantu kita memahami kehidupan, membedakan yang benar dan salah, serta menentukan langkah yang tepat. Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Mujadilah ayat 11 bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Artinya, ilmu memiliki kedudukan penting dalam Islam. Belajar bukan kegiatan receh yang baru kita anggap penting ketika pembagian rapor tiba.

Rasulullah saw. juga bersabda bahwa siapa saja yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga (HR. Imam Muslim). Keren, kan? Belajar punya nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar angka di kertas. Tentu, kita tetap perlu meluruskan niat, menjalankan kewajiban, dan menggunakan ilmu untuk hal yang bermanfaat. Termasuk belajar agama supaya kita nggak sekadar ikut-ikutan, tetapi memahami bagaimana menjalani hidup sesuai tuntunan Islam.

Masalahnya, untuk menghafal statistik pemain bola, jalan cerita anime, atau detail kehidupan idola, kita bisa semangat banget. Giliran diajak belajar Islam, respons kita malah, “Nanti aja, deh. Lagi mager.” Padahal, kalau urusan hiburan selalu mendapat waktu, sementara belajar agama terus masuk daftar nanti, kapan kita memahami panduan hidup sendiri? Bukan berarti hobi dan hiburan otomatis salah. Kita hanya perlu belajar mengatur prioritas.

Mentalitas santri mengajak kita lebih serius dalam belajar, baik ilmu agama maupun ilmu yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan. Nggak harus langsung berubah menjadi manusia superrajin dengan jadwal padat dari Subuh sampai malam. Mulai dari kebiasaan sederhana: mengurangi menunda, belajar lebih teratur, dan menyediakan waktu untuk mengaji. Kita boleh bercita-cita menjadi dokter, programmer, pengusaha, guru, atau ilmuwan. Namun, jangan sampai makin pintar malah makin jauh dari Allah. Target kita bukan cuma naik kelas, tetapi juga naik level dalam ilmu, iman, dan kualitas diri.

# Otak Boleh Pintar, Jangan Sampai Adabnya Ketinggalan

Dalam Islam, belajar bukan cuma soal mengisi kepala dengan informasi. Kita juga perlu belajar bersikap terhadap ilmu dan orang lain. Menghormati guru bukan berarti harus selalu setuju dengan semua perkataannya. Kita tetap boleh bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat, tetapi dengan cara yang baik. Kalau belum paham, bertanya. Kalau berbeda pendapat, jelaskan alasannya. Kalau ternyata keliru, berani mengakui. Nggak perlu gengsi mengatakan, “Oh, iya, ternyata saya salah.” Mengakui kesalahan bukan tanda kebodohan, melainkan tanda bahwa kita masih mau belajar.

Allah Swt. mengajarkan dalam QS Al-Isra ayat 53 agar hamba-hamba-Nya mengatakan perkataan yang lebih baik. Pesan ini dekat banget dengan kehidupan kita di media sosial. Berapa banyak pertengkaran bermula dari komentar iseng? Berapa banyak orang terluka karena dijadikan bahan olok-olok? Kadang kita berdalih, “Bercanda doang, kali!” Padahal, yang bercanda mungkin tertawa, sementara yang menjadi sasaran justru kepikiran berhari-hari. Niat bercanda nggak otomatis membuat semua ucapan kita jadi aman.

Adab juga kelihatan dari hal-hal sederhana: mengerjakan tugas tanpa menyontek, datang tepat waktu, menepati janji, menghargai teman, dan membantu orang tua tanpa harus disuruh berkali-kali. Hal-hal seperti ini mungkin nggak bikin kita viral, tetapi justru di situlah karakter dibentuk. Sikap kita sering kali lebih terlihat dari kebiasaan sehari-hari daripada dari kata-kata bijak yang kita unggah.

Jadi, mari bercermin. Setelah belajar agama, apakah kita makin sabar atau malah makin gampang menghakimi? Setelah merasa punya ilmu, apakah kita makin rendah hati atau justru merasa paling benar? Jangan sampai semangat membahas kesalahan orang lain lebih besar daripada semangat memperbaiki diri sendiri. Kita semua masih punya kekurangan. Nggak perlu pura-pura sempurna. Yang penting, kita mau belajar, mau diingatkan, dan mau berubah. Pintar itu penting, tetapi menjadi pribadi yang beradab, bisa dipercaya, dan bertanggung jawab juga nggak kalah penting.

# Oke, Terus Kita Mulai dari Mana?

Tenang, kita nggak perlu langsung membuat resolusi panjang yang besok malah lupa semuanya. Perubahan bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Coba pikirkan satu hal yang selama ini perlu kita benahi: belajar lebih teratur, menjaga salat tepat waktu, mengurangi komentar yang menyakiti orang lain, atau mulai rutin mengikuti kajian. Pilih yang realistis, lalu jalankan dengan serius. Nggak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai berubah.

Pertama, rapikan hubungan kita dengan ilmu. Jangan belajar hanya ketika ada ujian atau guru mulai memberi peringatan. Biasakan membaca, bertanya, dan memeriksa kebenaran informasi. Untuk ilmu agama, belajarlah dari sumber tepercaya dan orang yang kompeten. Dalam QS At-Taubah ayat 122, Allah menjelaskan pentingnya sebagian orang memperdalam pengetahuan agama dan memberi peringatan kepada kaumnya. Kita memang nggak harus langsung menjadi ahli, tetapi setiap Muslim perlu berusaha memahami ajaran Islam sesuai kewajibannya.

Kedua, benahi lingkungan pertemanan. Kita tahu sendiri, teman punya pengaruh besar. Kalau setiap hari berkumpul dengan orang yang hobinya mengejek dan meremehkan kebaikan, kita bisa ikut menganggap semua itu biasa. Sebaliknya, lingkungan yang saling mendukung bisa membantu kita lebih semangat belajar dan memperbaiki diri. Kita tetap bisa bersikap baik kepada siapa saja, tetapi perlu bijak memilih teman dekat. Cari teman yang bisa diajak tumbuh bersama, bukan cuma yang selalu bilang, “Gas!” bahkan ketika kita jelas-jelas mau melakukan hal yang keliru.

Ketiga, belajar memberi manfaat. Kalau melihat teman kesulitan, bantu sebisanya. Kalau menemukan informasi bermanfaat, periksa kebenarannya sebelum membagikan. Kalau punya kemampuan tertentu, kembangkan supaya bisa digunakan untuk hal baik. Kita sendiri masih berproses, jadi jangan bersikap seolah-olah sudah paling benar. Mengajak kepada kebaikan dan memperbaiki diri bisa berjalan beriringan. Kita belajar, berusaha mengamalkan, lalu terus membenahi kekurangan.

Terakhir, jangan gampang menyerah ketika belum berhasil. Bisa jadi minggu ini kita sudah berusaha disiplin, tetapi minggu depan mulai berantakan lagi. Bisa jadi kita sudah semangat belajar agama, lalu suatu hari merasa malas. Evaluasi, cari penyebabnya, lalu mulai lagi. Kita bukan robot yang tinggal diprogram sekali lalu otomatis berjalan sempurna. Kita manusia yang perlu terus berusaha, memperbaiki niat, dan memohon pertolongan Allah. Yang penting, jangan menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk betah di tempat yang sama.

Sekarang, yuk, kita tanya diri sendiri: kebiasaan apa yang perlu kita benahi mulai hari ini? Nggak harus banyak. Pilih satu, mulai sekarang, lalu usahakan konsisten untuk memperbaikinya. Targetnya Upgrade diri, jaga iman, dan jangan biarkan masa muda kita cuma lewat buat scroll tanpa arah! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here