Buletin Teman Surga 310: Taat Sama Allah Nggak Boleh Baper

0
129

Pernah nggak sih kamu ada di titik ketika hati pengen mempertahankan sesuatu, tapi iman malah nyuruh buat ngelepasin? Rasanya berat banget. Pikiran tahu itu salah, tapi hati masih nggak rela. Mau ninggalin pacaran takut kesepian. Mau hijrah takut ditinggalin teman. Mau jauhin maksiat tapi masih nyaman dijalanin. Mau berubah tapi gengsi. Akhirnya hidup jadi tarik-ulur antara iman dan perasaan.

Untungnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam nggak main perasaan dalam urusan keimanan. Coba bayangin, Beliau bukan baru sehari dua hari pengen punya anak. Bertahun-tahun beliau menunggu keturunan. Umurnya sudah tua. Rambut mulai memutih. Tapi belum juga punya anak. Sampai akhirnya Allah kasih hadiah luar biasa itu: Nabi Ismail. Anak yang dicintai. Anak yang dinanti. Anak yang menjadi cahaya dalam hidupnya.

Lalu ketika rasa cinta itu sedang besar-besarnya, Allah justru memberi ujian yang nggak masuk logika manusia: menyembelih anaknya sendiri!

Gokil nggak sih? Kalau kita jadi Nabi Ibrahim mungkin langsung nangis sejadi-jadinya. Bingung. Nggak terima. Banyak protes. Banyak tanya “kenapa”. Tapi lihat bagaimana iman Nabi Ibrahim bekerja. Beliau nggak mendahulukan perasaan. Beliau mendahulukan ketaatan.

Allah SWT berfirman: “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” (TQS Ash-Shaffat: 102)

Dan yang bikin merinding, Nabi Ismail pun menjawab dengan luar biasa:

“Wahai ayahku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (TQS Ash-Shaffat: 102)

Subhanallah. Ayah dan anak sama-sama menang melawan perasaan. Sama-sama mendahulukan iman. Mereka paham satu hal: kalau Allah yang perintah, pasti itu yang terbaik. Fix!

# Taat Itu Nggak Selalu ‘Nyaman’

Hari ini semua orang diajarin buat nurutin perasaan. Kalau suka, lanjut. Kalau nggak nyaman, tinggalin. Yang penting diri sendiri happy. Yang penting puas. Sampai akhirnya manusia takut merasa sedih. Takut kecewa. Takut kehilangan. Padahal dalam Islam, nggak semua yang bikin kita nyaman itu baik.

Ada orang yang nyaman pacaran bertahun-tahun, padahal hubungannya bikin dosa terus ngalir. Ada yang nyaman buka aurat karena merasa lebih cantik dan percaya diri. Ada yang nyaman nongkrong sampai lalai salat. Ada yang nyaman jadi budak scrolling TikTok sampai lupa ngaji. Semua terasa menyenangkan. Semua terasa nikmat. Tapi belum tentu Allah suka.

Makanya Allah udah ngingetin kita: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu.” (TQS Al-Baqarah: 216)

Kadang yang berat justru menyelamatkan kita. Dan yang menyenangkan malah menghancurkan kita perlahan-lahan.

Lihat aja gimana orang yang berhenti maksiat demi Allah. Awalnya pasti berat. Berat banget malah. Ada yang nangis karena harus ninggalin pacarnya. Ada yang kehilangan circle karena mulai hijrah. Ada yang dibully karena berubah jadi lebih taat. Ada yang dicap sok alim. Ada yang dianggap nggak asik lagi. Tapi anehnya, setelah semua itu dilewati, hati mereka justru jadi lebih tenang.

Karena ternyata ketenangan sejati itu bukan ketika semua keinginan dituruti. Tapi ketika hati dekat dengan Allah.

Masalahnya hari ini banyak orang salah paham tentang kebahagiaan. Mereka kira bahagia itu ketika semua perasaan dipenuhi. Padahal hawa nafsu manusia nggak akan pernah puas. Hari ini pengen satu hal, besok pengen lagi yang lain. Hari ini cinta mati sama seseorang, besok bisa asing total. Hati manusia gampang berubah. Makanya kalau hidup cuma ngikutin hati, hidup bakal capek sendiri.

Setan juga paham banget cara mempermainkan perasaan manusia. Makanya maksiat sering dibungkus dengan kata-kata indah. Pacaran disebut “hubungan yang tulus.” Buka aurat disebut “ekspresi diri.” Musik dan hiburan berlebihan disebut “healing.” Padahal semuanya perlahan bikin hati jauh dari Allah.

Makanya Islam nggak ngajarin kita jadi budak perasaan. Islam ngajarin kita mengendalikan perasaan dengan iman. Sedih boleh. Cinta boleh. Kecewa boleh. Tapi semua harus tetap tunduk sama aturan Allah.

Bayangin kalau Nabi Ibrahim nurutin perasaan beliau waktu itu. Mungkin beliau bakal bilang, “Ya Allah, jangan Ismail. Saya terlalu sayang.” Tapi justru karena beliau mendahulukan Allah dibanding rasa sayangnya kepada Ismail, Allah memuliakan beliau sepanjang zaman.

Itulah hebatnya iman. Iman bikin seseorang tetap taat meskipun hatinya berat.

Hari ini kita sering terlalu baper buat taat. Baru dikit diuji langsung nyerah. Baru dikit nggak nyaman langsung mundur. Padahal surga nggak dibangun dari rebahan dan zona nyaman. Surga dibangun dari perjuangan melawan hawa nafsu.

Rasulullah SAW bersabda: “Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat.” (HR. Imam Muslim)

Artinya jalan menuju surga memang sering nggak enak buat hawa nafsu. Harus nahan diri. Harus sabar. Harus kuat nolak godaan. Sementara jalan menuju dosa sering kelihatan indah dan menyenangkan.

Makanya orang yang kuat itu bukan yang bebas nurutin semua keinginan. Tapi yang mampu berkata “tidak” ketika hawa nafsunya mengajak maksiat.

# Duluin Iman, Pasti Aman

Gaes, hidup ini sebenarnya sederhana. Kalau Allah suka, lanjut. Kalau Allah nggak suka, tinggalkan. Sesimpel itu. Tapi manusia sering bikin semuanya rumit karena terlalu ngikutin perasaan.

Kadang kita udah tahu suatu hubungan nggak sehat, tapi dipertahanin karena takut kehilangan. Kadang kita sadar suatu kebiasaan itu dosa, tapi terus diulang karena sudah nyaman. Kadang kita tahu suatu pergaulan menjauhkan kita dari Allah, tapi tetap dipeluk karena takut sendirian.

Padahal kehilangan sesuatu demi Allah nggak akan pernah bikin kita rugi.

Nabi Ibrahim nggak kehilangan Ismail. Allah justru menggantinya dengan kemuliaan luar biasa. Nama beliau diabadikan. Kisahnya dikenang miliaran manusia setiap Idul Adha. Karena setiap pengorbanan yang dilakukan karena Allah nggak pernah sia-sia.

Begitu juga kita. Ketika kamu ninggalin maksiat demi Allah, Allah tahu perjuanganmu. Ketika kamu nahan diri buat nggak pacaran, Allah lihat itu. Ketika kamu berusaha jaga aurat di tengah lingkungan yang rusak, Allah bangga sama kamu. Ketika kamu tetap salat walau malas dan capek, Allah nggak pernah luput melihat semuanya.

Masalahnya kita sering terlalu fokus sama apa yang dilepas, sampai lupa apa yang bakal Allah kasih. Padahal janji Allah itu nyata.

Bisa jadi hari ini kamu nangis karena harus kehilangan sesuatu demi taat. Tapi besok Allah ganti dengan ketenangan yang nggak bisa dibeli dengan apa pun. Bisa jadi hari ini kamu merasa sendirian karena memilih hijrah. Tapi sebenarnya Allah sedang menjauhkanmu dari lingkungan yang menghancurkan imanmu.

Makanya jangan takut taat. Jangan takut kehilangan sesuatu demi Allah. Karena yang paling berbahaya bukan kehilangan manusia. Tapi kehilangan iman.

Idul Adha bukan cuma soal sapi dan kambing. Bukan cuma tentang daging kurban dan bakar sate. Tapi tentang ketaatan pada Allah swt. Tanpa tapi, tanpa nanti, sampai mati! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here