Buletin Teman Surga 282: Guruku Tercinta, Guruku Didenda

0
1408

Bila bentakan kecilku patahkan hatimu / Lebih keras dari itu dunia ‘kan menghakimimu / Kubentuk dirimu menjadi engkau hari ini / Kau harus kuat, kau harus hebat / Permata hatiku //

Akhir-akhir ini jagat maya sempat heboh. Bukan karena drama seleb yang hamil di luar nikah, tapi karena kisah nyata yang lebih ngenes. Seorang guru Madrasah Diniyah di Demak dituntut bayar Rp 25 juta karena menampar murid yang nakal. Bukan tamparan benci. Tapi karena jengkel, sang murid melempar sandal sampai kena peci sang guru saat pelajaran.

Guru itu sudah sepuh. Umurnya 63 tahun. Sudah puluhan tahun mengabdi tanpa gaji tetap. Tapi satu tamparan berujung pelaporan sebagai tindakan kekerasan. Tak berdaya hingga harus menanggung denda puluhan juta. Miris.

Padahal Imam Syafi’i mengingatkan, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru, sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya”. Bisa jadi potret buram pendidikan kita akibat minim adab terhadap guru. Baik murid maupun orangtuanya. Sedih.

# Pahlawan Tanpa Tameng

Coba mikir, siapa yang selama ini ngajarin kita baca tulis hitung dari nol? Mulai dari ngaji alif ba ta, nulis nama sendiri, sampai ngerjain akar pangkat tiga?

Nggak perlu di-spill kalo itu semua jasa guru-guru kita tercinta. Tapi hari ini, mereka seperti kehilangan tameng. Tak ada yang melindungi mereka ketika menjadi incaran objek content sosmed. Nggak boleh marah, nggak boleh menegur, apalagi nyentuh fisik. Sedikit aja ‘keras’, langsung viral.

Padahal marahnya guru bukan tanpa sebab. Bukan untuk menyakiti, tapi mendidik agar murid-murid kesayangannyanya kuat mental. Niat mulia sang guru tergambar dalam penggalan lirik ‘Saat Kau Telah Mengerti’  di awal tulisan.

Nggak heran kalo para ulama mazhab, Imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan lainnya adalah murid-murid yang sangat menghormati dan memuliakan para gurunya. Jangankan berbuat gaduh saat belajar, Imam Syafi’i merasa segan meski hanya untuk minum air saat sedang belajar.

Sedangkan Imam Malik saat hendak membuka lembaran bukunya, maka Ia melakukannya dengan sangat perlahan agar tidak berisik. Pantas saja mereka menjadi ‘orang besar”, itu karna memuliakan guru.  Maka ilmu mereka pun menjadi berkah dan nama mereka sampai saat ini dikenal dan ilmunya dijadikan rujukan dalam beramal.

Sebaliknya, Umar As-Sufyani Hafidzohulloh mengingatkan “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya atau tidak dapat menyebarkan ilmunya”.

Come on gaes, guru itu bukan robot yang tahan banting 24 jam. Mereka juga manusia—punya hati, punya rasa. Kadang capek, kadang kecewa. Tapi tetap aja, mereka berdiri paling depan buat ngajarin kita. Padahal belum tentu kita dengerin, apalagi ngucap makasih.

Banyak guru yang diam-diam ngedoain muridnya biar sukses. Bukan karena pengen dapet bonus atau pujian. Tapi karena mereka yakin, kalau kamu berhasil, itu bukti bahwa perjuangan mereka nggak sia-sia. Mereka rela berkorban, bukan buat ketenaran, tapi demi liat kamu jadi pribadi yang membanggakan.

Mereka nggak nuntut pamrih. Tapi masa iya, kita balas semua jasa itu dengan adab yang minim? Ngomong seenaknya, ngerendahin, ngegibah, bahkan dipaksa bayar denda akibat kesalahan kita.

Padahal, guru adalah bagian dari pewaris ilmu. Harusnya dihormati, bukan dicurigai. Harusnya dibela dan dijaga, bukan diperdaya.

# Orang Tua Juga Perlu Ngaji

Kadang, masalah di sekolah itu bukan cuma soal murid yang bandel. Tapi juga soal orang tua yang nggak siap anaknya ditegur. Baru denger anaknya dihukum guru, langsung reaktif. Posting status panjang, lapor polisi, main viralin. Padahal, nggak semua teguran itu bentuk kekerasan. Tapi justru bentuk kasih sayang yang sering disalahartikan karena terlalu cepat menyimpulkan.

Orang tua perlu sadar: guru bukan musuh anak kita, tapi partner kita dalam mendidik. Sekolah bukan tempat dagang, dan anak bukan pelanggan yang “harus selalu benar.” Kalau ada masalah, bukan dibela buta. Anak bukan raja. Guru bukan pembantu. Dan sekolah bukan tempat main hakim sendiri.

Tapi cari tahu, diskusi baik-baik, dan jaga wibawa guru di depan anak. Karena begitu orang tua ikut merendahkan guru, anak akan kehilangan rasa hormat. Dan dari situlah bibit-bibit durhaka bisa tumbuh.

Sejatinya anak adalah cerminan dari kedua orangtuanya. Yang wajib memuliakan guru bukan cuman anak, tapi juga orang tuanya. Yang mesti berbakti pada orangtua, bukan cuman anaknya. Tapi juga orangtuanya. Rasulullah saw mengingatkan,  ”Berbuat baiklah kamu terhadap ibu dan bapakmu, niscaya anak-anakmu akan berbuat baik terhadapmu.’‘ (HR Imam Thabrani).

Kewajiban menimba ilmu agama bukan hanya anaknya, tapi juga kedua orangtuanya. Catat!

# Guru Tercinta Guru Sejahtera

Dalam Islam, posisi guru itu bukan kaleng-kaleng. Mereka adalah pewaris para nabi. Orang-orang pilihan yang jadi jalan lahirnya generasi cerdas, bukan cuma soal akademik, tapi juga soal iman dan akhlak. Makanya, guru itu bukan profesi ecek-ecek. Di mata Islam, mereka itu aset peradaban!

Beda banget sama sistem sekarang yang kadang bikin guru cuma dihargai setengah hati. Digaji kecil, kerjanya numpuk, eh kadang masih dapat omongan pedas dari orang tua murid. Tapi dalam sejarah Islam, guru diperlakukan super mulia. Mereka digaji negara dengan jumlah yang bikin kamu melongo.

Bayangin, di masa Khalifah Umar bin Khattab, guru-guru anak-anak di Madinah digaji 15 dinar per bulan. Itu setara dengan sekitar 63,75 gram emas—kalau dihitung pakai harga emas sekarang, gaji mereka bisa tembus lebih dari 100 juta rupiah sebulan. Gak main-main, kan?

Dan hebatnya lagi, bukan cuma gaji yang disiapin. Pemerintahan Islam juga kasih fasilitas lengkap buat guru: ruang belajar, alat bantu mengajar, buku, dan kebutuhan hidup lainnya. Semua gratis. Tujuannya satu: biar guru bisa fokus ngajar dan ngebentuk karakter generasi unggul.

Nggak perlu nyambi sana-sini buat cari tambahan penghasilan. Mereka didukung penuh, karena negara paham betul: guru adalah fondasi masa depan.

Bayangin kalau sistem kayak gini diterapin hari ini. Guru nggak cuma semangat ngajar, tapi juga bisa all out dalam mendidik—tanpa tekanan ekonomi. Anak-anak juga bisa dapat pembelajaran terbaik, dari guru yang terjamin hidupnya. Tak ada guru tercinta, guru didenda. Yang pasti, guru dibela, guru dijaga, guru sejahtera.

Engkau bukan sekadar pengajar, tapi orang tua kedua yang mencintai kami dengan ilmu dan sabar. Maaf kalo kadang kami auto-zonk pas dikasih tugas. Tapi percayalah, kami tetap sayang dan respek. Kami tahu, vibes capekmu kadang nggak kelihatan. Tapi semoga Allah yang kasih reward-nya no limit. Daisuki na sensei-tachi, hontou ni arigatou! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here