“Orang berilmu akan tetap hidup meski jasadnya telah mati. Tapi orang bodoh itu mati padahal ia masih bernyawa.” (Imam Syafi’i)
Teman surga, sadar nggak sih kalau masa remaja itu kayak benih pohon yang baru tumbuh? Masih lentur, tapi kalau dirawat, bisa jadi pohon besar dengan batang yang kokoh dan daun yang rindang. Tapi kalau dibiarkan, malah bisa layu sebelum mekar. Nggak kepake. Malah jadi sampah.
Banyak remaja hari ini ngejar viral, ngotot biar FYP, sibuk banget jadi “anak senja” yang kerjaannya nulis puisi galau sambil ngopi, tapi lupa ngerjain PR. Caption-nya estetik, tapi masa depannya masih diotak-atik. Endingnya malah gak berbentuk alias abstrak. Waduh!
Boro-boro getol belajar. Nggak pegang HP satu jam aja udah gelisah bin panik setengah hidup kaya kehabisan oksigen. Nomofobia banget. Giliran disuruh belajar, ada aja alasannya. Jago ngeles kayak bajaj.
# Belajar Serius Gak Nunggu Tua
Zaman Nabi dulu, ada remaja yang udah sibuk mikirin ilmu. Namanya Abdullah bin Abbas. Umurnya masih belasan, tapi ilmunya udah selangit. Nggak main-main, gelarnya aja “Habrul Ummah” alias lautan ilmu umat!
Abdullah bin Abbas adalah sepupu Nabi Muhammad ﷺ. Tapi bukan itu yang bikin dia keren. Yang bikin dia luar biasa adalah semangat belajarnya yang gokil abis! Sejak kecil, dia udah nempel terus sama Rasulullah, dengerin sabda-sabda beliau, nyatet, ngafalin, nanya, nyimak, belajar terus. Bahkan ketika Rasul wafat, Ibnu Abbas masih muda banget—sekitar 13 tahun! Tapi jangan salah, justru di usia itulah dia tancap gas belajar dari para sahabat senior.
Abdullah bin Abbas itu tipe remaja yang nggak nunggu dewasa buat serius belajar. Banyak pelajar yang beralasan, “Nanti aja ah, seriusnya pas kuliah,” atau “Sekarang mah santai dulu, masa muda cuma sekali.” Hey, masa depan juga cuma sekali. Nggak ada siaran ulang. Kalo masa muda banyak dipakai buat leha-leha, alamat madesu alias masa depan suram. Cuman gigit jari jadi penonton kesuksesan hidup orang lain. Mupeng.
Ibnu Abbas ngajarin kita justru waktu muda adalah waktu emas buat nyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Daya hafal masih kuat, otak masih fresh, energi masih full. Dan yang lebih penting: tanggung jawab belum terlalu banyak. Belum mikirin kerja, belum mikirin nafkah, belum pusing bayar listrik rumah. Pas banget buat fokus belajar dan asah skill. Gak ada alasan “belum waktunya”.
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, Abdullah bin Abbas masih sangat muda—sekitar usia 13–15 tahun. Tapi semangatnya untuk belajar malah makin menyala. Beliau sadar, para sahabat senior seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zaid bin Tsabit, dan lainnya masih hidup, dan mereka menyimpan ilmu yang luar biasa dari Rasulullah.
Apa yang dilakukan Ibnu Abbas? Beliau mendatangi satu per satu rumah sahabat Nabi untuk menimba ilmu. Bahkan diceritakan, seringkali ia duduk di depan rumah sahabat tersebut saat siang hari yang terik, hanya untuk menunggu sang sahabat keluar. Kadang tertidur di depan pintu karena saking lamanya nunggu. Tapi beliau tetap sabar dan gak mau ganggu. Kalau ditanya, “Kenapa gak ketok pintu aja?” Ibnu Abbas jawab:
“Mereka adalah sahabat Nabi. Aku yang butuh ilmu mereka. Aku tidak ingin mengganggu mereka.”
Masya Allah! Ini menunjukkan betapa rendah hati dan bersungguh-sungguhnya Ibnu Abbas. Gak gengsi duduk di depan pintu. Gak sok dekat. Gak ngarep diistimewakan mentang-mentang sepupu Nabi. Yang dia pikirkan cuma satu: ilmu.
Dan benar aja, berkat kesabaran dan semangat luar biasanya, Allah berkahi Ibnu Abbas dengan ilmu tafsir yang dalam, pemahaman agama yang luas, dan gelar “Turjumanul Qur’an” (juru tafsir Al-Qur’an). Bahkan Umar bin Khattab sering mengajaknya ikut dalam majelis para senior, padahal beliau masih remaja. Respect!
Kalau kamu nunggu semua kondisi ideal buat belajar, kamu bakal ketinggalan. Belajar itu bukan nunggu mood, tapi butuh tekad. Bukan nunggu waktu luang, tapi menciptakan waktu untuk tumbuh. Karena belajar itu investasi. Semakin dini, semakin besar hasilnya. Jangan nunggu tua. Jangan nunggu sempat. Nggak akan nemu waktu luang kalo nggak meluangkan waktu. Percaya deh.
# Menuntut Ilmu Menapaki Jalan Menuju Surga
Banyak pelajar sekarang belajar cuma buat satu alasan: dapat nilai bagus. Tapi kalau kamu pikir nilai itu segalanya, coba deh renungin:
Berapa banyak yang IPK-nya 4, tapi hidupnya 0 arah?
Berapa banyak yang ranking 1, tapi lupa tujuan hidupnya?
Beda banget sama Ibnu Abbas. Buat dia, ilmu itu bukan buat pamer, tapi buat mengabdi. Ilmu itu jalan menuju Allah, cahaya buat hidup, dan bekal ke surga. Makanya dia belajar bukan karena dikejar deadline, tapi karena dikejar keinginan untuk ngerti kebenaran.
Nabi Muhammad ﷺ sendiri pernah mendoakan Ibnu Abbas:
“Ya Allah, ajarilah dia hikmah dan tafsir Al-Qur’an.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
Dan hasilnya? Ibnu Abbas jadi ahli tafsir nomor wahid. Bahkan Umar bin Khattab sering ngajak dia ikut rapat-rapat penting. Padahal dia masih muda. Kenapa? Karena Umar tahu, ilmu gak ngelihat umur. Siapa yang ngerti, dia yang pantas didengar.
Dan ingat hadits ini baik-baik: “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Jadi, kalau kamu selama ini belajar cuma buat UN, UTBK, atau sekadar biar gak dimarahin orang tua, yuk upgrade niat. Belajar itu bentuk ibadah. Ilmu itu cahaya yang Allah titipkan buat yang mau nyari, bukan buat yang rebahan sambil mimpi, “Ntar juga ngerti sendiri.”
# Jadi ‘Ibnu Abbas Zaman Now’
Kamu mungkin gak hidup di zaman Nabi. Tapi kamu hidup di zaman informasi. Semua ada di genggaman. Belajar agama? Ada YouTube, podcast, e-book, aplikasi ngaji. Mau belajar tafsir, fiqih, sejarah Islam, bahasa Arab—semua tinggal klik. Tapi masalahnya: niat dan kemauan kamu ada gak?
Jangan nunggu semua sempurna buat mulai belajar. Mulailah dari yang kecil. Ikut kajian di masjid. Baca satu halaman tafsir tiap hari. Gabung komunitas belajar Islam seperti Teman Surga. Download aplikasi Quran. Ngaji rutin mengenal Islam lebih dalam seminggu sekali. Gak harus langsung jadi ulama, tapi minimal kamu bergerak. Ada kemajuan untuk menjadi baik. Karena Allah gak minta kamu sempurna, tapi Allah lihat kamu berusaha.
Remaja hebat bukan yang viral di TikTok, tapi yang dikenal malaikat karena ilmunya. Kamu bisa jadi generasi penerus Ibnu Abbas. Generasi yang cinta ilmu, haus belajar, dan punya tujuan akhirat.
Selagi kamu lagi di fase penuh energi. Yuk jadi remaja yang punya visi. Remaja yang mikir jauh, bukan cuma mikir gaya. Yang mikir akhirat, bukan cuma outfit. Yang mikir kualitas diri, bukan cuma followers IG.Karena hidup kamu bukan buat jadi penonton. Tapi pemain. Bahkan pemenang. Yuk gasss! []














