Buletin Teman Surga 184. Remaja Muslim Got Talent

0
579

Ajang pencarian bakat kembali bergeliat meramaikan siaran televisi. Agenda tahunan yang sempat mangkrak dihantam pandemi. Dan seperti biasa, antusias masyarakat selalu meninggi seiring gencarnya liputan ajang pencarian bakat. Ujung-ujungnya popularitas dan keberlimpahan materi jadi bagian yang tak terpisahkan dari acara hiburan ini.

Dunia hiburan begitu gencar menyaring pada pendatang baru yang punya potensi untuk diorbitkan jadi penyanyi, artis, atau selebritis. Tak sedikit, remaja muslim pun ikut kejaring dan terperosok dalam hiruk pikuk gemerlapnya dunia hiburan.

Begitu silaunya cahaya popularitas dan kesenangan dunia, bikin remaja muslim lupa dengan peran pentingnya sebagai agen kebangkitan umat. Padahal, justru pencarian bakat yang diperlukan oleh umat saat ini bukan sosok generasi muda yang kebelet ikut audisi seleb wanna be. Bukan juga yang latah bikin foto selfi biar bisa ikut kecipratan cuan dari NFT.

Tapi remaja muslim yang meneladani karakter barisan pemuda zaman Nabi. Generasi pertama yang turut membersamai Rasulullah saw dalam menyebarkan Islam. Seperti Ali bin Abi Thalib ra, Thalhah bin Ubaidillah, Al Arqam bin Abi Arqam, Abdullah bin Makhzum, Ja’far bin Abi Thalib, Sa’id bin Zaid, Shuhaib bin Ar-Rumi, Mushab bin Umair, AL Miqdad bin AL-Aswad dan lain-lain.

 Talent Sejati Remaja Muslim.

Ulama besar Abu Abdillah Muhammad bin Idris atau yang masyhur dengan sapaan Imam Syafi’i pernah bersyair;

“Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru. Sesungguhnya kegagalan mempelajari ilmu disebabkan ketidaksabaran murid dalam menghadapinya.”

“Siapa yang tak pernah merasakan pahitnya belajar walau sebentar, ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.”

“Siapa yang tidak belajar di masa mudanya, bertakbirlah untuknya 4 kali karena kematiannya”

 “Demi Allah, hakikat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa. Jika keduanya tidak ada maka pribadinya tidak bernilai.”

Syair nasihat dari seorang ulama besar kelahiran Palestina yang sudah hafal Al-Qur’an pada usia 7 tahun di atas sejatinya ngingetin kita tentang karakter remaja muslim.

Talent alias bakat sejati bawaan seorang remaja muslim itu cuman dua hal aja. Ilmu dan takwa. Ini yang seharunya digenjot setengah hidup dengan gencar menimba ilmu dan getol beribadah.

Tempatnya bukan di atas panggung audisi atau di bawah sorotan kamera televisi. Tapi di taman-taman surga yang keutamaannya ditegaskan dalam sabda Rasulullah saw.

“Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah Ta’ala (masjid), sembari membaca Kitab Allah, saling mendaras (mengkaji) di antara mereka, melainkan turun ketenangan pada mereka, rahmat menyelimuti mereka, malaikat mengerumuni mereka dan mereka akan disebut Allah pada makhluk di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud)

Dalam hadits lain riwayat Abu Dawud, majelis seperti ini bahkan didoakan oleh makhluk Allah di langit dan di bumi. Mereka memintakan ampun untuk orang yang berada di majelis ini. Bahkan, ikan-ikan di lautan yang dalam pun berdoa untuk kebaikan orang yang berada dalam majelis tersebut.

Sejatinya remaja muslim itu kehadirannya memadati taman-taman surga. Bukan ajang audisi pencarian bakat. Kesabarannya saat menimba ilmu dan menghadapi kerasnya sikap seorang guru. Bukan saat menunggu giliran unjuk gigi dihadapan para juri.

 Remaja Muslim Seorang Pejuang

Selain gencar belajar dan getol beribadah, talent sejati remaja muslim mesti didukung oleh sikap mental seorang pejuang. Biar kepintarannya gak dipake untuk ngebodohin orang lain. Agar kesholehannya bukan untuk bahan kontent sosial media. Tapi untuk berkontribusi. Apa saja sikap mental seorang pejuang?

Pertama, seorang pejuang tak segan menebar manfaat dengan keilmuannya tanpa pamrih.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Kedua, seorang pejuang tak kenal kata cukup dalam menimba ilmu. Belajar terus dan terus belajar. Bukan tanpa istirahat ya. Cuman lebih banyak mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang bermanfaat. Belajar secara mandiri dengan membaca buku di perpustakaan atau di rumah. Dia juga tak sungkan untuk mendatangi orang-orang pintar yang jadi rujukannya. Biar bisa diskusi dan menyerap berbagai ilmu yang dibagi. Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.

Ketiga, seorang pejuang sabar jalanin proses. Pepatah bilang, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kaya gitu deh yang namanya belajar. Untuk dapetin hasil maksimal, kita dituntut untuk berani berkorban waktu, pikiran, tenaga, harta, atau kepentingan pribadi. Nggak semua remaja sanggup jalanin proses itu dengan sabar. Makanya hanya mereka yang konsisten dan serius bakal sampe di garis finish dengan segudang prestasi yang membanggakan.

Keempat, seorang pejuang aktif berdakwah. Kewajiban berdakwah nggak pandang usia atau status pendidikan. Selama dia muslim dan udah baligh, wajib saling mengingatkan satu sama lain. Tak terkecuali remaja. Meski usia rata-rata masih muda belia, tugasnya bukan cuman belajar. Tapi juga mengenal islam lebih dalam sebagai bagian dari menuntut ilmu plus menyampaikan ke orang lain sesuai kemampuannya.

Aktivitas dakwah akan menjaga remaja muslim agar selalu keep in touch dengan aturan Islam. Nggak lupa diri dan meminimalisir sikap egois bin individualis. Sehingga ilmu dan ketakwaannya mendukung kebangkitan Islam dan kaum Muslimin. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here