Buletin Teman Surga 320: Literasi di Tengah Gempuran FYP

0
79

Jujur, pas dengar kata “literasi”, apa sih yang pertama muncul di kepala kita? Tumpukan buku tebal di perpustakaan dengan bau khasnya? Atau tugas merangkum bab sejarah yang sukses bikin mata berat di jam pelajaran terakhir? Kalau iya, tenang, kita nggak sendirian.

Nah, kebetulan hari ini seratus tahun yang lalu 1928, tepatnya 28 Oktober., dua anak muda yang usianya baru awal 20-an, Tabrani dan Yamin, beda pendapat soal satu hal di Kongres Pemuda 1: bahasa persatuan kita ini sebaiknya dinamai apa? Yamin melihat bahasa Melayu sebagai calon bahasa persatuan. Tabrani ngotot: kalau tanah air dan bangsanya bernama Indonesia, bahasanya pun harus bernama Indonesia. Kongres itu belum menemukan kata sepakat. Dua tahun kemudian, pada 1928, nama “Bahasa Indonesia” akhirnya diikrarkan dalam Sumpah Pemuda.

Perjalanan itu kini genap seratus tahun (1926–2026). Bulan Bahasa dan Sastra tahun ini pun mengusung tema “Bahasa Indonesia Bermartabat; Indonesia Berdaulat”, dengan puncak peringatan di tanggal 28 Oktober. Biasanya sekolah ramai dengan lomba mading, cerpen, dan baca puisi. Tapi bagaimana dengan hari-hari di luar lomba? Literasi kita tinggal di mana? Jawabannya mungkin ada di layar yang sedang kita pegang sekarang.

Di era digital, smartphone sudah jadi “jendela utama” untuk melihat dunia, dan definisi literasi ikut berevolusi. Literasi nggak lagi cuma urusan mata, kertas, dan tinta. Sebuah thread panjang yang mengupas satu isu, caption Instagram yang bikin orang ikut berpikir, sampai skrip video 60 detik dengan hook yang kena, semuanya adalah ekspresi literasi. Media sosial memang sudah menjadi kanvas literasi masa kini. Pertanyaannya: kita ini pelukisnya, atau cuma penonton yang ikut digiring?

# Jago Bikin, Belum Tentu Jago Memeriksa

Sering kita dengar komentar dari generasi di atas kita: “Main HP melulu, kurang baca buku!” Refleks pertama biasanya ingin membantah. Tapi coba jujur dulu. Menurut laporan Digital 2026: Indonesia (We Are Social dan Meltwater, bersama DataReportal), rata-rata orang Indonesia menghabiskan sekitar 3 jam 7 menit per hari di media sosial, atau hampir 22 jam per minggu. Di sisi lain, skor membaca siswa Indonesia usia 15 tahun dalam PISA 2022 adalah 359 poin, turun 12 poin dari 2018 dan jauh di bawah rata-rata negara OECD yang berkisar 476. Dua data ini jangan langsung dibaca sebagai “medsos penyebabnya”, karena PISA tidak mengukur itu. Tapi cukup untuk mengakui satu hal: tuduhan tadi bukan sepenuhnya salah.

Namun, itu juga bukan cerita lengkapnya. Waktu kita nge-spill sebuah kejadian, mengulas tempat nongkrong, mengedit video, atau menyusun thread biar followers nggak gagal paham, kita sedang memakai keterampilan nyata: bercerita, merangkum, memilih diksi, dan menaruh hook di tiga detik pertama. Itu literasi produksi, dan di situ kita sering jago. Tapi literasi punya sisi lain: memeriksa, menimbang, dan memahami sebelum bereaksi. Di sisi inilah alarm PISA berbunyi.

Kesimpulan jujurnya: kita bukan generasi “nol literasi”, tapi literasi kita masih pincang, kuat di membuat, belum tentu kuat di memeriksa. Platform digital ini memang mading sekolah versi global, tempat kita memproduksi teks yang relate dengan zaman dan bukan sekadar jadi konsumen pasif. Bedanya, mading sekolah nggak punya algoritma.

Satu hal lagi perlu kita akui terang-terangan: tulisan tentang bahasa yang bermartabat ini sendiri diselipi banyak kata Inggris dan bahasa gaul. Apakah itu berarti nggak bermartabat? Menurut kita, nggak. Bahasa gaul bukan musuh martabat, karena martabat bahasa ada pada niat dan isinya, yaitu jujur, jelas, dan tidak merendahkan orang, bukan pada baku-tidaknya setiap kata. Santai boleh, asal kita tahu kapan: caption tongkrongan boleh luwes, tapi surat izin ke guru atau tulisan yang dibaca banyak orang perlu lebih rapi. Dan jangan sampai kebiasaan menyelipkan kata asing bikin kita lupa merawat bahasa sendiri.

# Jaga Martabat Literasi: Skill vs Sensasi

Mentang-mentang punya kanvas yang bisa dilihat ribuan orang dalam hitungan detik, bukan berarti kita bebas asal corat-coret. Algoritma kadang memanjakan hal-hal yang sensasional. Konten yang memancing emosi, kontroversi, atau debat kusir gampang banget masuk FYP (For You Page).

Contohnya dekat sekali dengan keseharian kita: komentar kasar saat mabar yang dipotong jadi konten “rage”, screenshot chat teman yang disebar tanpa konfirmasi, debat bola atau politik yang sengaja dibuat panas biar ramai, sampai video yang menjadikan pacaran bebas dan pergaulan tanpa batas terlihat normal dan keren. Itulah yang dimaksud dengan konten yang memvalidasi pergaulan buruk.

Kalau kita sedang haus validasi, butuh like biar merasa ada, godaan membuat konten asal viral jadi besar. Akibatnya, banyak yang akhirnya ikut menyebar ujaran kebencian atau ikut tren cancel culture yang menyeret orang ramai-ramai sebelum duduk perkaranya jelas. Ujung-ujungnya, yang runtuh justru martabat kita sendiri.

Bukan berarti kita nggak boleh menegur. Menegur dengan tabayyun dan nasihat itu kebaikan, sedangkan menghakimi massal sebelum faktanya jelas itu yang berbahaya. Yang pertama mengajak orang kembali, yang kedua mengusirnya.

Di titik inilah kualitas literasi kita yang sesungguhnya diuji. Ekspresi literasi yang keren bukan cuma soal seberapa jago merangkai kata, tapi juga kemampuan membaca konteks dan menyaring informasi. Islam sendiri sudah memberi panduan literasi informasi sejak belasan abad lalu. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 6, Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (Tabayyun), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Tabayyun, yaitu cek dan ricek sebelum percaya atau menyebar, adalah pondasi literasi yang bermartabat. Sebelum jempol bergerak, kita bisa bertanya pelan-pelan pada diri sendiri: sumbernya jelas nggak? Ada sumber lain yang membenarkan? Kalau ternyata salah, siapa yang kena imbasnya? Kita lagi membantu, atau cuma lagi kepancing?

Kita semua pernah kepancing di kolom komentar. Yang membedakan adalah apa yang terjadi di satu detik sebelum mengetik. Literasi yang jalan memberi kita jeda itu: jeda untuk tahu kapan harus speak up dengan argumen yang solid, dan kapan harus menahan jari agar terhindar dari dosa jariyah di dunia maya, yaitu dosa yang terus mengalir selama unggahan kita masih dibaca dan ditiru orang.

# Berdaulat di Medsos: Jadilah Creator yang Membawa Value

Tema “Indonesia Berdaulat” bisa kita tarik ke dua level. Pertama, berdaulat atas bahasa sendiri: nggak sekadar ikut template yang lagi viral. Kita yang memegang kemudi atas kata-kata kita, bukan tren. Kedua, berdaulat atas diri sendiri: punya prinsip dan nggak gampang terseret arus peer pressure.

Dan kemerdekaan yang kedua ini bukan berarti tanpa pegangan. Justru karena kita hanya tunduk kepada Allah, takut ditinggal circle atau takut sepi like tidak lagi punya kuasa penuh atas kita.

Inilah waktunya shifting: dari sekadar menikmati konten orang lain, perlahan naik level jadi creator yang membawa pengaruh baik. Ada tiga ide yang bisa langsung dicoba.

  1. Darurat Circle Toxic

Bayangkan grup mabar jam sebelas malam. Ada yang mulai mengatai orang tua temannya, yang lain tertawa. Kita nggak ikut tertawa, tapi juga nggak berani bilang apa-apa. Besoknya di sekolah, suasananya canggung. Konten tentang ini bisa mengangkat ciri-cirinya: ngatain dijadikan hiburan, ghibah rame-rame, dan tekanan ikut-ikutan yang bikin ibadah jadi bolong. Lalu bahas cara elegan keluar: kurangi intensitas pelan-pelan tanpa drama pamitan, tetap sopan saat bertemu, dan carilah circle baru yang menarik kita ke arah yang lebih baik.

  1. POV: My Life, My Values

Formatnya video 30–45 detik berjudul “Satu hari, tiga prinsip”. Mulai dari bangun Subuh sebelum scroll, jadwal belajar dan olahraga yang rapi, sampai berani bilang “nggak dulu” pada ajakan nongkrong yang bikin salat bolong, tanpa nyindir siapa pun. Pesannya: kita yang mengatur hidup, tapi nilai-nilainya bukan dari FYP, melainkan dari petunjuk Allah. Hasilnya, manajemen waktu dan ibadah berjalan seimbang.

  1. Ibnu Battutah dan Nusantara

Tahun 1345, penjelajah dari Maroko ini singgah di Kesultanan Samudra Pasai, Aceh, setelah pelayaran panjang menuju Cina. Ia disambut hangat oleh Sultan Al-Malik az-Zahir dan menulis bahwa penguasa itu seorang muslim yang taat. Bayangkan kontennya dengan gaya penceritaan remaja: “POV: kamu naik kapal puluhan hari, lalu mendarat di pelabuhan yang ternyata sudah jadi pusat Islam di Nusantara.” Ini bukan sekadar konten traveling. Ini literasi yang membuka mata kita bahwa sejarah Islam dan sejarah tanah air kita tersambung, dan bahwa jauh sebelum ada Indonesia, Nusantara sudah masuk “konten” dunia. Kita masih bisa membaca jejaknya hari ini karena ada yang menuliskannya, dan tulisan bertahan lebih lama daripada trending.

Prinsipnya sederhana: style boleh kekinian, tapi value keislaman dan martabat bahasa tetap jadi ruhnya. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).

Manfaat itu nggak melulu berupa uang. Tulisan yang memotivasi teman, thread informatif, atau pesan dakwah yang dikemas dalam desain minimalis dan eye-catching, semuanya adalah kebaikan yang dampaknya menembus batas ruang dan waktu.

# Mari Melukis Sejarah Kita Sendiri

Seratus tahun lalu, dua anak muda memperdebatkan satu kata, dan hasilnya kita pakai sampai hari ini. Itu pengingat bahwa pilihan kata anak muda bisa bertahan lebih lama dari yang mereka kira. Kini kanvas digital tersedia gratis di genggaman, dan kuasnya adalah skill merangkai kata yang kita miliki.

Tantangan Hari Ini. Tulis satu caption atau story, maksimal tiga kalimat, tentang satu hal baik yang kita pelajari hari ini. Sebelum posting, uji dengan tiga pertanyaan: Benar? (sudah dicek), Bermanfaat?, dan Perlu? Kalau lolos ketiganya, posting, lalu ajak satu teman melakukan hal yang sama. Mulailah mengekspresikan literasi yang bermartabat, berdaulat, mencerdaskan, dan pastinya mendatangkan kebaikan dunia akhirat. Selamat berkarya! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here