Buletin Teman Surga 248. Emang Boleh Sebangga Itu Sebagai Muslim?

0
2068

Sudah lebih dari 210 hari sejak badai al-Aqsha mengguncang Palestina. Aksi genocida yang dilakukan Zionis Yauhid laknatullah pun telah memakan korban lebih dari 30 ribu jiwa. Otoritas Kesehatan Gaza, Sabtu (18/5/2024) melaporkan korban tewas akibat serangan Israel yang tak kunjung berhenti kini mencapai 35.386 jiwa. Sementara itu, korban yang mengalami luka-luka meningkat menjadi 79.366 orang sejak konflik Entitas Yahudi-Hamas pecah pada 7 Oktober 2023 lalu. Ngeri!

Meski suasana di Gaza tidak baik-baik saja, sebagian besar penduduknya enggan mengungsi ke tempat lain. Bagi mereka, nggak ada ceritanya tamu tak diundang dan tak tau diri, mengusir mereka dari rumahnya. Yang bener aja, rugi dong!

Warga Palestina, terutama di Gaza, bangga sebgai seorang muslim. Sehingga tetap bertahan memperjuangkan negerinya yang mulia dan berjuang mengusir penjajah zionis hingga titik darah penghabisan. Hidup mulia atau mati syahid. No compromize!

# Belajar dari Mualaf Suku Ghifar

Adalah Abu Dzar Al-Ghifari r.a. beliau hidup bersama suku Ghifar yang tinggal di lembah Waddan, sebuah area penting yang terletak antara Mekkah dan Syam, dan merupakan jalur perlintasan kafilah dagang yang strategis.

Ketika berita pengangkatan Muhammad SAW sebagai Rasul sampai kepada Abu Dzar, dia berkata kepada adiknya, Unais; “Berangkatlah kamu menuju lembah (Mekkah) itu, dan kabarkan kepadaku tentang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi yang membawa berita dari langit, dengarkanlah ucapannya kemudian kembalilah kepadaku”. Maka saudaranya berangkat hingga sampai di Mekkah dan mendengarkan apa yang diucapkan laki-laki yang dimaksud (Nabi). Setelah beberapa lama, Unais pun kembali kepada Abu Dzar, dan berkata; “Aku melihatnya mengajak kepada keluhuran perilaku dan ucapan yang bukan sya’ir”. Abu Dzar berkata; “Kamu belum bisa memuaskan apa yang aku cari”. Maka Abu Dzar berkemas menyiapkan bekal perjalanan.

Abu Dzar pun tiba di Mekkah, dan mencari orang yang paling lemah di antara mereka, lalu ia bertanya, “Di manakah orang yang kamu katakan sebagai pembawa agama (Rasulullah SAW) itu?” mendengar perkataan Abu Dzar, maka penduduk Mekkah itu langsung memukuli dan melemparinya dengan batu dan tulang sehingga Abu Dzar jatuh pingsan. Ketika terbangun, Abu Dzar mendapati dirinya mengeluarkan banyak darah. Abu Dzar tidak bertanya lagi melainkan hanya mencuri dengar tentang Rasulullah SAW.

Abu Dzar duduk seharian di ka’bah, namun tak jua melihat Nabi Muhammad SAW. Hingga beliau bertemu dengan Ali bin Abi Thalib dan membawanya kepada Rasulullah. Abu Dzar bertemu Rasulullah SAW dan mengucapkan salam kepadanya dengan salam Islam, “As-Salamu `alaika, ya Rasulallah!'” Beliau menjawab, “Wa `alaika wa rahmatullah.” Kemudian Rasulullah bertanya, “darimana Anda berasal?” Abu Dzar menjawab, “Dari Ghifar.”

Rasulullah SAW pun merasa kagum karena telah difahami bahwa daerah suku Ghifar itu sangat jauh jaraknya dengan Mekkah. Rasulullah mengangkat kepalanya seraya bertanya, “Sejak kapan kamu berada di sini?” Abu Dzar menjawab, “Sejak 30 hari 30 malam yang lalu.” Beliau bertanya, “Siapa yang memberimu makan?” Abu Dzar menjawab, “Aku tidak pernah memakan makanan kecuali air Zam-zam. Aku menjadi gemuk sehingga lekukan perutku hilang, dan aku tidak pernah lemah karena kelaparan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Air Zam-zam itu memberikan keberkahan. Ia adalah makanan yang mengenyangkan”.

Kemudian Abu Dzar mendengarkan penjelasan Rasulullah SAW, hingga ia langsung masuk Islam seketika itu juga. Nabi Muhammad SAW berkata kepada Abu Dzar: “Pulanglah ke kaummu dan sampaikanlah ajaran Islam kepada mereka hingga kamu mendapatkan kemenangan agama Islam.” Abu Dzar berkata; “Demi Allah yang menguasai diriku, sungguh akan aku sampaikan Islam kepada mereka dengan sejelas mungkin.”

Kemudian Abu Dzar keluar dari rumah Rasulullah SAW pergi menuju Masjid al Haram. Sesampainya di sana ia berseru dengan sekuat tenaganya mengucapkan; “Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang hak selain Allah semata dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah.” Mendengar seruan itu, maka para penduduk kota Mekkah terkejut dan saling berdatangan ke tempat sumber suara tersebut. Setelah mengetahui bahwa yang mengumandangkan suara itu adalah orang asing dan bukan penduduk Mekkah, maka mereka pun langsung memukulinya hingga ia terjatuh.

Tak lama kemudian Abbas bin Abdul Muththalib datang melindunginya seraya berkata; “Celaka kalian ini! Tidak tahukah kalian bahwa orang yang kalian pukuli itu adalah dari suku Ghifar? Dan tidak sadarkah kalian bahwa jalur perdagangan kalian ke negeri Syam pasti akan melalui wilayah suku Ghifar?” Lalu Abbas pun langsung menyelamatkan Abu Dzar dari amukan orang-orang Quraisy. Keesokan harinya Abu Dzar tetap melakukan perbuatan seperti itu, hingga orang-orang Quraisyy Mekkah berdatangan untuk memukulinya. Kemudian Abbas pun datang untuk melindungi dan menyelamatkannya dari amukan mereka.

Abu Dzar kembali ke suku Ghifar dan mengabarkan kepada Unais dan sang Ibu bahwa ia telah masuk Islam dan beriman, maka Unais dan Ibunya berkata, “Aku tidak membenci agamamu. Sebab aku sudah masuk Islam dan beriman”. Kemudian mereka berangkat hingga datang pada kaumnya, Ghifar. Maka, sebagian dari suku Ghifar masuk Islam.Sementara separuh dari suku Ghifar lainnya mengatakan, “Jika kelak Rasulullah telah sampai di Madinah, maka kami akan masuk Islam.” Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, separuh dari suku Ghifar yang tersisa masuk ke dalam Islam. Maa Syaa Allaah!

# Bangga Karena Allah

Kebanggaan sebagai muslim bukan berarti besar kepala, sombong bin angkuh meremehkan umat lain. Tapi bagian dari ajaran Islam sebagaimana dicontohkan para Sahabat Nabi saw.

Suatu ketika Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu ditanya, ”Keturunan siapa Kamu ?” Salman yang membanggakan keislamannya, tidak mengatakan dirinya keturunan Persia, tapi ia mengatakan dengan lantang, ”Saya putera Islam.” inilah sebabnya Rasulullah SAW mendeklarasikan bahwa, ”Salman adalah bagian dari keluarga kami, bagian dari keluarga Muhammad SAW.”

Mereka yang baru memeluk Islam begitu bersemangat mendakwahkan sekaligus menunjukkan identitas kemusliman mereka. Mereka tak sungkan menampakkan kepada khalayak, meski taruhannya adalah nyawa. Seperti kisah Abu Dzar di atas.

Semoga kita juga bangga jadi seorang muslim demi mencuri perhatian Allah swt. Karena inilah rahasia kemuliaan, kejayaan, dan kemenangan umat Islam. Jangan minder nunjukkin identitas keislaman kita mulai dari cara berpakaian, berperilaku keseharian, hingga aktif dakwah menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kuy! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here