Podcasts #01. Login Yuuk!

0
376

Sebelum berbuat sesuatu, pastinya kita harus log in terlebih dahulu. Entah itu berbentuk reservasi untuk memesan tempat makan, pendaftaran sekolah dan surat kependudukan, atau meminang pujaan hati agar tidak ada pria lain yang mendahului.

Jum’at malam ini, tanggal 19 Mei, Teman Surga melangsungkan podcast live IG bertemakan “Log In Yuuk!”. Bersama Kak Moga sebagai host dan Kak Sahar sebagai pemateri, kita membahas tentang keberagaman di lingkungan baru, baik asal daerah, budaya, hingga agama.

Kak Moga sempat bercerita tentang bagaimana culture shock-nya saat berada di dunia kampus. Di antaranya adalah memiliki teman yang berbeda agama tapi terbiasa berbicara kalimat-kalimat thayyibah sementara orang muslim sendiri malah lebih sering berucap kata-kata kasar. Dengan mengatasnamakan kebebasan, orang-orang bebas berbuat, pacaran, mengonsumsi minuman keras, dan seterusnya.

“Islam ini ajaran yang sempurna, gitu. Kehidupan dari bangun hingga tidur diatur oleh Islam,” tutur Kak Moga, “Jadi, harusnya kita bisa berakhlak sesuai ajaran Islam untuk mengajak orang lain pada kebaikan juga. Apalagi di masa sekarang yang penuh perbedaan dan culture shock.”

Podcast berlanjut ke pembawaan materi inti oleh Kak Sahar. Kak Sahar sempat membahas fenomena ketika banyak orang malah menjadikan agama sebagai bahan candaan. “Aku pengen bilang ke temen-temen, jangan pernah jadikan agama, apalagi agama Islam, menjadi candaan bagi kehidupan kita,” jelas Kak Sahar, “Kita harusnya bisa membedakan ranah mana yang dapat dijadikan candaan maupun tidak.”

Walaupun niat awalnya adalah untuk berdakwah, kita harus mengerti batasan-batasan dalam berdakwah dulu agar tidak seenaknya berkata dan bertindak. Jangan sampai candaan tersebut malah merusak aqidah dan syariat Islam. Oleh karena itu, kita perlu menguatkan dan memahami sempurna aqidah Islam kita.

“Banyak anak muda yang tidak menganggap agama sebagai hal yang serius,” lanjut Kak Sahar, “takut disebut mabuk agama katanya.” Salah persepsi tentang kefanatikan agama seperti ini malah membuat hal-hal normal bagi muslim menjadi sesuatu yang istimewa dan tidak dilakukan kebanyakan orang. Orang yang sholat lima waktu aja dibilang “si paling alim”, berarti masih banyak orang yang “bolong” sholat lima waktunya.

“Mulai hari ini, coba deh bereskan aqidah kita, keyakinan kita dulu pada Allah karena ini fatal banget kalau kita beragama sekedar Islam turunan, ngikutin ayah-ibu aja,” tutur Kak Sahar. Sebagai seorang muslim, kita harus menyelesaikan masalah aqidah untuk menjawab “uqdatul kubro” sebagai motivasi hidup kita. Kita seharusnya berbuat dan meninggalkan sesuatu berdasar pada aturan dan ridha Allah SWT, jangan sebatas ada atau tidak ada manfaatnya.

Kalau ada orang yang meninggalkan pacaran dengan alasan “tidak ada gunanya”, maka ada juga orang yang berpacaran karena dia mendapat manfaat dari berpacaran. Tempat sandaran, teman ngobrol, dan seterusnya. Harusnya, kita meninggalkan pacaran dan maksiat lainnya sesimpel karena Allah Melarangnya, kembali pada standar halal-haram serta keridhoan Allah SWT.

Masalah utamanya hanya bagaimana caranya agar kita bisa istiqamah. “Ada tiga caranya,” jelas Kak Sahar.

  1. Perkuat aqidah, kenali Allah siapa sampai yakin Allah suka atau benci perilaku tertentu
  2. Bangun ukhuwah “teman surga” yang bisa bantu fii sabilillah. Pilih baik-baik siapa yang menjadi teman-teman kita.
  3. Pahami dan sandarkan hidup pada syariat. Jangan sebatas tahu syariat, merasa tidak relate dengan Al-Qur’an, lalu mengikuti aturan manusia. Seharusnya, kita mengikuti kebenaran absolut (Islam), jangan pilih-pilih (taat yang ini, nolak yang itu) atau ikutin kebenaran relatif (seenak perasaannya).

Jaga dan tingkatkan identitas muslim kita sebaik mungkin. “Banggalah menjadi seorang muslim karena yang sudah Allah beri hidayah kepada kita sudah 100 persen benar, tidak ada keraguan,” begitu kata Kak Sahar. Jadikan standar syariat, keridhoan, perintah, dan larangan Allah SWT sebagai standar kehidupan kita, jangan dari aspek manfaat.

Kak Moga mempersilakan para peserta untuk menulis pertanyaan di kolom chat podcast. Kak Sahar sedikit menambahkan bahwa kita berada di antara dua himpitan: dari belakang ada rezeki kita yang sudah dijamin sejak kita belum lahir, dan dari depan ada maut yang menunggu di masa depan. Jadi, jangan ragu dan takut dengan masalah rezeki.

Rezeki kita tidak akan lebih dari apa yang sudah ditetapkan Allah. Jangan sampai malah melanggar syariat Allah karena sebatas mencari kebahagiaan dunia, tapi tetaplah bertakwa agar rezeki dan setiap aktivitas kita dapat berpahala di jalan Allah. Dunia ini hanyalah permainan, tidak perlu terlalu diseriusi kecuali untuk persiapan log out dari dunia.

Podcast berlanjut ke sesi tanya jawab. Kak Moga mulai membacakan dua pertanyaan yang akan dijawab langsung di podcast.

Pertama, apakah kita boleh mengidolakan orang nonmuslim? Cukup Nabi Muhammad SAW saja yang diidolakan. Jangan mengidolakan orang yang masih hidup karena belum dijamin masuk surga. Mungkin ada yang bilang “Aku masih jaga iman kok”, tapi yang pasti, orang yang beriman dengan iman sebenarnyaakan mengidolakan Rasulullah SAW.

Kedua, bagaimana caranya agar percaya diri berbicara di depan umum? Mulailah dulu dari hal-hal dan kesempatan sekecil apapun itu. Kembangkan terus dan harus mau dan sabar berproses. Jangan mau nyamannya saja. Luruskan, perbaiki, dan ikhlaskan dulu niatnya. Barulah setelah mendapat kepercayaan diri itu, sampaikanlah kebaikan yang Allah Ajarkan lewat syariat Islam.

Sudah satu jam berlalu, pertanyaan peserta lain yang belum terjawab akan dijawab secara pribadi. Kak Moga berterima kasih atas kesediaan para peserta yang menghadiri podcast malam ini dan memohon maaf atas segala ketidaksiapan selama berlangsungnya podcast.

Jumpa lagi di podcast selanjutnya, wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. []

Jum’at, 19 Mei 2023 | 20.00-21.00

Kak Moga & Kak Sahar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here