Bucin alias Budak Cinta, adalah istilah generasi zaman now untuk orang-orang yang diri dan akalnya tunduk pada cinta. Di Barat, bucin disebut juga Simp dari istilah simpleton, yang menunjukkan seorang pria yang kebahagiaannya begitu sederhana yaitu mengidolakan perempuan yang ia suka dan membanjirinya dengan hadiah, bahkan meskipun ia tidak pernah bertemu sekalipun dengannya. Misalnya para penggemar seleb di media sosial atau aplikasi streaming.
Fenomena remaja bucin ini memang bikin gemes. Fase remaja dan pemuda adalah fase pertumbuhan manusia yang paling penting dari sisi pertumbuhan, baik fisik maupun akal. Islam juga melihat bahwa pendewasaan seorang manusia terjadi pada masa baligh yang bervariasi dalam rentang usia remaja, mulai dari 9 tahun hingga 13 tahun tergantung munculnya tanda-tanda baligh tersebut. Setelah baligh, seorang manusia dianggap telah mampu berpikir secara sempurna dan mengemban tanggung jawab dalam mengarungi kehidupan. Namun semua potensi yang telah Allah jadikan itu pada diri remaja disia-siakan oleh mereka telah tenggelam oleh arus bucin ria. Apa kamu termasuk ke dalamnya, Teman Surga?
Karakteristik Bucin
Setidaknya, ada 5 karakteristik yang ada dalam setiap bucin. Pertama, kamu rela menyerahkan segala sesuatu demi yang dia cintai. Seseorang yang ngebucin akan memberikan apapun kepada yang dia cintai sebesar apapun ia harus berkorban. Bukan hanya harta, tenaga, dan pikiran, bahkan ia rela menyerahkan dirinya sendiri untuk orang yang ia cintai.
Saat Valentine Day, contohnya, banyak remaja yang rela menyerahkan kesucian dirinya kepada para buaya mengatasnamakan cinta. Sungguh tipu muslihat ala liberalisme yang berhasil memperdaya dan menjebak remaja muslim dalam kubangan pergaulan yang diharamkan Allah.
Kedua, sesuatu yang kamu cinta memenuhi seluruh pikiran dan jiwanya. Saat orang sudah ngebucin, niscaya di manapun dia berada, aktivitas apapun yang ia lakukan, dan kapanpun ia berpikir maka si cinta akan memenuhi pikiran dan jiwanya.
Mau makan, ingat si dia. Mau minum, ingat si dia. Mau tidur, ingat si dia. Sehingga, cintanya menjadi poros utama dalam kehidupan para bucin.
Ketiga, kamu merasa galau saat jauh dari yang kamu cinta. Para bucin sangat berat untuk terpisah dari sesuatu yang ia cintai. Ia merasa harus selalu berada di sisinya setiap saat, mengetahui setiap detik langkahnya, dan terawasi jangan sampai pindah ke lain hati. Posesif, kalau kata anak zaman sekarang.
Begitu berpisah, pulangnya langsung nge-chat. Malamnya telponan sampai pagi, lalu di-screenshot dan di-upload di media sosial. “Teleponan sama si ayang”, tulisnya dalam caption atau story WA. Sampai merinding bulu kuduk ngebayangin kelakuan para bucin ini saking cringe-nya.
Keempat, kamu melakukan apapun demi kebahagiaan yang kamu cintai. Bagi para bucin, asalkan si dia bahagia, maka mereka juga bahagia. Asal melihat senyumnya si cinta, semua kesulitan yang ia rasakan terbayarkan sudah.
Ia rela mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri, bahkan ia menjadikan kebahagiaan sesuatu yang ia cinta sebagai kebahagiaan sesungguhnya. Dahsyat memang dampak dari ngebucin itu, Teman Surga.
Kelima, kamu menuruti semua keinginan dari yang kamu cintai. Bukti kecintaan yang paling nyata adalah taat dan tunduk. Saat si cinta butuh sesuatu, tanpa basa-basi langsung disediakan. Saat si cinta minta dijemput, hujan badai seolah tak jadi halangan.
Pokoknya tidak ada berbantah-bantahan atau menunda-nunda saat si cinta telah mengeluarkan ‘titah’nya. Kalau istilah orang-orang bule, “Your wish is my command.”
Kedudukan Cinta dalam Islam
Sesungguhnya cinta adalah fitrah dalam Islam sekaligus nikmat yang tak terhingga yang Allah ciptakan untuk makhluk-makhluk-Nya. Bukan hanya manusia, Allah menciptakan rasa cinta dan kasih sayang itu juga kepada hewan, yang dengan itu mereka mampu melestarikan keturunannya.
Yang harus kita sadari bahwa rasa cinta dan kasih sayang ini adalah salah satu alat yang kita miliki untuk lebih banyak lagi meraih keridhoan Allah, karena itulah tujuan sebenarnya dari penciptaan manusia. Allah SWT berfirman dalam surat adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya,
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Berarti, menyalurkan rasa cinta ini juga haruslah dalam spirit yang sama, semata-mata untuk beribadah kepada-Nya, bukan justru diperbudak oleh syahwat dan melakukan hal-hal yang menjauhkan dari keridhoan-Nya.
Dalam Islam, penyaluran rasa cinta yang benar bukanlah dengan cara pacaran, TTM-an, hubungan tanpa status-an, atau istilah-istilah lain yang sebenarnya hanyalah turunan dari pergaulan ala liberal; melainkan disalurkan sesuai syariat Islam yaitu melalui jalur pernikahan yang sah. Itulah cara agar cinta ini tetap fitrah, bukan dinodai dengan aktivitas-aktivitas yang mengundang kemurkaan Allah.
“Bucin”-ku hanya untuk Allah
Satu-satunya Zat yang pantas untuk kita ‘bucin’ kan hanyalah pada Allah SWT, karena Allah lah Pemilik Cinta, dan demi Dia-lah kita saling mencintai.
Mencintai Allah berarti kita rela menyerahkan segala sesuatu demi Allah, menjadikan Allah ada dalam setiap langkah kita, merasa selalu ingin dekat dan rindu pada Allah, melakukan apapun asalkan mendapatkan ridho Allah, dan taat pada ketetapan Allah tanpa berbantah-bantahan sedikitpun.
Kita betul-betul yakin saat kita mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, maka kemuliaan yang akan kita dapatkan. Sebaliknya, saat kita melanggar perintah Allah dan melakukan larangan Allah, maka kehinaan yang akan kita dapatkan, termasuk bagaimana kita menyalurkan rasa cinta yang telah Allah turunkan untuk kita. Wallahu ‘alam bish shawab. []














