Buletin Teman Surga 302: Ramadhan Segera Berakhir

0
933

Rasanya baru kemarin kita menyambut datangnya bulan suci. Sambutan Ahlan wa Sahlan Ya Ramadan meramaikan linimasa sosial media. Baru kemarin sahur pertama terasa begitu antusias dan penuh keseruan. Alarm berbunyi lebih awal dari biasanya, dapur mulai hidup, dan suasana subuh terasa berbeda.

Masjid ramai, suara tadarus terdengar di mana-mana, dan banyak orang memulai Ramadan dengan semangat baru. Banyak yang bikin target pribadi: ingin lebih rajin salat berjamaah, ingin lebih dekat dengan Al-Qur’an, ingin memperbaiki diri selama satu bulan penuh.

Dan hasilnya, hari-hari awal Ramadan terasa spesial. Tarawih penuh. Saf salat sampai ke halaman masjid. Tadarus jadi kegiatan rutin. Suasana ibadah terasa hidup di mana-mana. Banyak orang merasa Ramadan adalah momen terbaik untuk memulai perubahan.

Namun Ramadan selalu punya satu sifat yang sama setiap tahun: ia datang dengan penuh harapan, lalu pergi meninggalkan banyak kenangan dan penyesalan.

Kini kita sudah berada di ujung Ramadan. Hari-harinya seperti berlari cepat. Tanpa kita sempat khatam baca Quran. Tiba-tiba saja kalender menunjukkan bahwa bulan mulia ini tinggal hitungan malam.

Ya. Beberapa malam lagi… Ramadan akan pergi.

# Ramadan di Ujung Waktu

Ada satu momen yang selalu terulang setiap tahun. Ketika Ramadan hampir selesai, suasana tiba-tiba berubah.

Di awal Ramadan, masjid penuh. Saf salat sampai ke halaman. Tadarus terdengar di mana-mana. Banyak orang pasang target: khatam Al-Qur’an, rajin tarawih, bangun malam, dan ingin jadi versi diri yang lebih baik.

Tapi begitu Ramadan masuk sepuluh hari terakhir, pemandangannya sering berubah.

Masjid mulai longgar. Sebaliknya… tempat lain justru makin ramai.

Timeline media sosial penuh dengan orang yang lagi war tiket mudik. Ada yang panik karena kursi kereta sudah habis, ada yang berburu promo tiket pesawat, ada juga yang begadang demi dapat kursi bus pulang kampung.

Di sisi lain, mall mulai penuh. Banyak orang sibuk berburu baju lebaran. Ada yang muter dari satu toko ke toko lain, ada yang scroll marketplace sampai tengah malam, takut kehabisan model yang lagi tren.

Lucunya, sebagian orang bahkan seperti melakukan “itikaf versi mall”. Berjam-jam di pusat perbelanjaan. Keliling lantai demi lantai. Fokusnya satu: mencari diskon terbesar.

Sementara masjid di dekat rumah… malah semakin sepi.

Belum lagi undangan buka bersama berdatangan dari mana-mana. Bukber teman sekolah. Bukber alumni. Bukber komunitas. Bukber teman nongkrong. Bahkan kadang jadwal bukber bisa lebih padat daripada jadwal kajian.

Tidak sedikit yang berbuka di restoran atau kafe sampai larut malam. Setelah itu pulang dalam keadaan kenyang dan capek. Tarawih lewat begitu saja.

Ironisnya, semua ini terjadi justru ketika Ramadan sedang berada di fase paling berharga, menjelang Ramadan berakhir.

# Saatnya Lebih Serius di Akhir Ramadan

Padahal, Rasulullah SAW justru menunjukkan kesungguhan yang lebih besar ketika Ramadan hampir selesai. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan:

“Apabila sepuluh malam terakhir Ramadan tiba, Rasulullah menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, ketika Ramadan memasuki fase akhir, Rasulullah SAW tidak santai. Beliau tidak menurunkan semangat ibadah. Justru sebaliknya, beliau semakin serius. Malam-malam dihidupkan dengan salat, doa, dan membaca Al-Qur’an. Bahkan keluarga beliau juga dibangunkan agar ikut merasakan suasana ibadah tersebut.

Para sahabat Nabi juga melakukan hal yang sama. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dikenal membangunkan keluarganya di malam-malam terakhir Ramadan agar mereka tidak melewatkan kesempatan beribadah. Mereka memahami bahwa malam-malam terakhir Ramadan adalah waktu yang sangat berharga.

Suatu ketika Rasulullah pernah berkata, “Apabila malam terakhir bulan Ramadhan tiba, maka menangislah langit, bumi, dan para malaikat karena musibah menimpa umat Muhammad SAW.” 

Kemudian seorang bertanya tentang musibah apa yang akan menimpa mereka. Rasulullah SAW lalu menjawab, “Perginya bulan Ramadhan, karena di bulan Ramadhan itu semua doa diijabah, semua sedekah diterima, semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan siksa ditolak (dihentikan).” (Diriwayatkan dari Jabir).

Rasulullah SAW juga mengingatkan, “Sekiranya umatku ini mengetahui apa-apa (kebaikan) di dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar tahun semuanya itu menjadi Ramadhan.” (HR Ibnu Abbas)

Semua itu menunjukkan satu hal: akhir Ramadan bukan waktu untuk santai. Justru inilah waktu untuk lebih serius berburu pahala.

# Ada Malam yang Nilainya Luar Biasa

Salah satu alasan mengapa sepuluh malam terakhir Ramadan begitu istimewa adalah karena di dalamnya ada Lailatul Qadar. Malam yang sangat mulia ini disebut langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1–3)

Seribu bulan berarti lebih dari delapan puluh tiga tahun. Artinya, satu malam ibadah pada Lailatul Qadar memiliki nilai yang lebih baik daripada ibadah selama puluhan tahun.

Tidak heran jika Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mencari malam tersebut pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau bersabda:

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena kita tidak tahu malam yang mana, para ulama menganjurkan agar seorang Muslim bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir. Dengan begitu peluang untuk mendapatkan Lailatul Qadar menjadi lebih besar.

Bayangkan jika seseorang bertemu dengan malam ini dalam keadaan beribadah. Satu malam saja bisa bernilai seperti ibadah selama puluhan tahun. Ini adalah kesempatan yang luar biasa yang mungkin tidak datang dua kali.

# Sebelum Ramadan Pergi

Ramadan memang segera berakhir. Bulan yang penuh keberkahan ini akan pergi seperti tamu yang meninggalkan rumah setelah memberikan banyak hadiah.

Yang menjadi pertanyaan bukanlah apakah Ramadan akan berakhir. Itu sudah pasti. Yang lebih penting adalah: apa yang kita lakukan sebelum Ramadan benar-benar pergi?

Masih ada beberapa malam tersisa. Masih ada kesempatan untuk membaca Al-Qur’an lebih banyak. Masih ada waktu untuk memperbanyak doa. Masih ada peluang untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah.

Siapa tahu justru di salah satu malam terakhir itu Allah mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar. Malam yang nilainya lebih baik daripada puluhan tahun ibadah.

Karena itu jangan biarkan Ramadan pergi begitu saja. Bisa jadi satu malam yang kita hidupkan dengan ibadah di penghujung Ramadan akan menjadi malam yang mengubah hidup kita selamanya.

Manfaatkan sisa malam yang ada. Perbanyak ibadah. Perbanyak doa. Dekatkan diri kepada Allah dengan beritikaf. Gass poll! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here