Buletin Teman Surga 300: The Hunger Games

0
783

Mungkin kamu pernah dengar judul ini. Sebuah serial film tentang dunia yang kejam, di mana para remaja dipaksa masuk ke arena dan saling bertahan hidup. Siapa yang paling kuat, paling cerdas, dan paling tahan tekanan, dialah yang keluar sebagai pemenang. Yang lain gugur di tengah jalan.

Di dalam arena itu, semua orang berburu. Berburu makanan. Berburu perlindungan. Berburu kesempatan untuk tetap hidup. Tidak ada yang benar-benar santai. Semua waspada. Semua punya target. Semua tahu bahwa kalau salah langkah, mereka bisa kalah.

Kalo dipikir-pikir, ternyata Ramadan juga mirip the hunger games.

Bukan arena untuk saling menjatuhkan. Bukan arena untuk saling mengalahkan. Tapi arena untuk mengalahkan diri sendiri. Arena untuk membuktikan siapa yang paling mampu menundukkan hawa nafsu. Tak hanya urusan perut, tapi juga iman.

# Musim Perburuan Dimulai.

Di bulan Ramadan, ada fenomena unik yang selalu berulang. Lapar memang sama-sama terasa, tapi yang diburu ternyata beda-beda. Dan entah kenapa, energi remaja saat berburu itu luar biasa. Lebih semangat dari ngerjain tugas matematika.

Pertama, Para Pemburu Takjil

Jam 16.30 masih santai.
Jam 17.00 mulai gelisah.
Jam 17.15? Mode survival aktif.

Langkah kaki mendadak cepat. Mata tajam menyisir meja-meja jualan. Es buah tinggal tiga gelas. Gorengan tinggal lima. Langsung sikat. Niatnya mau buka mode hemat, endingnya kantong plastik penuh takjil.

Buka puasa seperti orang kelaparan. Gak pake rem. Nggak ada space dalam perut untuk udara. Kekenyangan. Ketiduran. Shalat tarawih ketinggalan.

Padahal Rasulullah ﷺ berbuka dengan yang sederhana. Kurma. Air. Tidak perlu aesthetic. Tidak perlu limited edition. Yang penting bukan variasinya, tapi keberkahannya.

Kedua, Berburu Gebetan Saat Ngabuburit

Ngabuburit awalnya niatnya nunggu magrib. Tapi entah kenapa, lokasinya selalu “strategis”.

Masjid yang biasanya sepi mendadak jadi favorit. “Katanya rame.” Rame siapa? Jamaahnya… atau incarannya?

Jalan sore keliling kompleks mendadak rutin. Outfit lebih diperhatikan. Parfum lebih disemprotkan. Datang lebih awal, pulang paling akhir.

Ramadan yang seharusnya melatih menundukkan pandangan malah jadi musim saling tebar pesona, mata jelalatan dan cari perhatian. Alamat hangus pahala puasanya.

Ketiga, Berburu Perhatian Saat Pengajian

Kajian Ramadan selalu penuh. Itu kabar baik. Tapi kadang ada agenda tersembunyi.

Datang bukan karena haus ilmu. Tapi haus dilihat.

Duduk di barisan depan… tapi sibuk cek notifikasi. Angguk-angguk paling khusyuk… tapi berharap ada yang notice. Tanya panjang lebar… biar dianggap paling kritis.

Padahal ilmu itu untuk diamalkan, bukan dipamerkan.

Ilmu bukan aksesori Ramadan. Bukan properti biar terlihat religius. Ilmu itu cahaya. Dan cahaya tidak butuh sorotan tambahan.

Keempat, Berburu Validasi Saat Tarawih

Tarawih itu indah. Saf rapat. Suara imam merdu. Hati harusnya tenang. Tapi kadang yang lebih aktif justru kamera.

Story: “MasyaAllah vibes banget.” Foto sajadah.
Caption: “Semoga istiqamah.”

Tidak salah berbagi kebaikan. Tapi pertanyaannya: kalau tidak ada yang lihat, apa masih semangat?

# Perburuan Lain yang Tak Kalah Serius

Berburu diskon Ramadan.
Berburu followers dengan konten religi musiman.
Berburu alasan untuk tetap scrolling: “Kan lagi nunggu buka.”
Berburu THR paling cepat cair.

Bahkan ada yang berburu citra: mendadak jadi paling bijak selama sebulan, lalu kembali normal setelah lebaran. Ramadan seolah “mode islami sementara”. Aktif 1 bulan. Setelah itu? Update sistem kembali ke setelan lama.

Padahal Ramadan bukan topeng. Ini training camp. Kalau setelahnya tidak ada peningkatan, mungkin kita cuma ikut event, bukan ikut berubah. Mungkin yang diburu bukan pengampunan, tapi pencitraan.

# Jadilah Pemenang Sebenarnya

Kalau memang Ramadan adalah musim perburuan, maka pastikan buruannya tidak salah sasaran.

Pertama, Buru ampunan (Bukan pengakuan)

Selama kita hidup, nggak ada yang bebas dosa. Kalo dosa besar, mungkin banyak yang bisa jaga diri. Tapi dosa kecil, seringnya dianggap sepele. Terus diulang sampai numpuk dan besar. Lisan yang tajam saat ngebully temen. Pandangan yang liar ‘nelanjangin’ dandanan lawan jenis. Waktu yang terbuang sia-sia hingga melalaikan kewajiban.

Makanya, bulan mulia ini paling pas bagi kita untuk bersih-bersih dari dosa. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari No. 38 dan Muslim no. 760)

Amunisi perburuannya gak sulit kok. Puasa aja yang bener. Niat tulus karena Iman dan mengharap pahala dari Allah. Langsung dinolkan tabungan dosa-dosa kita. Asyik kan!

Kedua, Buru Lailatul Qadar

Allah berfirman: “Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3). Seribu bulan itu lebih dari 83 tahun. Bayangkan kamu hidup lama, tapi biasa-biasa saja. Lalu Allah kasih satu malam yang bisa mengangkat derajat, menghapus dosa, mengubah takdir hidupmu.

Tapi malam itu bukan hadiah untuk yang cuma semangat di awal Ramadan lalu tumbang di akhir. Ia datang kepada yang bertahan. Yang tetap sujud meski kantuk berat. Yang tetap berdoa meski teman-temannya sudah terlelap tanpa daya.

Sepuluh malam terakhir itu bukan waktu untuk kendor, tapi untuk ngebut dalam kebaikan. Jangan sampai kamu sibuk hitung countdown Lebaran, tapi lupa berburu malam kemuliaan. Matikan sebentar notifikasi.

Hidupkan hati. Bangunkan dirimu untuk beritikaf. Siapa tahu itu malamnya yang Allah pilih untuk mengubah arah hidupmu. Jangan jadi penonton di momen paling mahal dalam setahun. Jadilah pemburu yang serius. Karena kesempatan tidak selalu datang dua kali.

Ketiga, Buru perubahan

Ramadan seharusnya meninggalkan jejak. Setelah sebulan dilatih disiplin, harusnya kita lebih mudah bangun pagi. Setelah sebulan dilatih menahan diri, harusnya kita lebih sabar. Setelah sebulan dilatih dekat dengan Al-Qur’an, harusnya kita lebih cinta membacanya.

Kalau setelah Ramadan kita kembali pada kebiasaan lama tanpa peningkatan apa-apa, maka mungkin kita hanya ikut suasana, bukan menjalani makna.

Perubahan itu dimulai dari keputusan kecil. Dari niat yang diluruskan. Dari langkah sederhana yang konsisten.

Arena sudah dibuka. Waktu terus berjalan. Setiap detik Ramadan bernilai pahala. Setiap sujud bisa jadi penghapus dosa. Setiap doa bisa jadi penyelamat masa depan.

Kamu boleh berburu. Itu naluri manusia. Tapi jangan salah target.

Jangan sampai sibuk mengejar yang viral, tapi kehilangan yang kekal.
Jangan sampai puas dengan tepuk tangan manusia, tapi jauh dari ridha Sang Pencipta.
Jangan sampai Ramadan hanya meninggalkan foto-foto indah, tapi tidak menguatkan hari-hari yang berkah.

Karena di dunia, pemenang dapat tepuk tangan. Di Ramadan, pemenang mendapatkan ampunan. Dan itu jauh lebih berharga daripada apa pun yang bisa kamu pamerkan.

So, ikut pengajian biar jadi the trully winner. Buru ampunan, bukan pengakuan. Go! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here